Headline
Pada perdagangan kemarin, rupiah menguat tipis dan ditutup di level Rp16.936 per dolar AS.
Pada perdagangan kemarin, rupiah menguat tipis dan ditutup di level Rp16.936 per dolar AS.
Kumpulan Berita DPR RI
KEPALA Badan Pusat Statistik (BPS) Suhariyanto menyatakan kondisi perekonomian global pada 2019 menjadi tantangan tersendiri bagi Indonesia untuk memperbaiki neraca perdagangan, khususnya dalam menggenjot ekspor Indonesia.
"Kita masih melakukan banyak melakukan upaya. Seperti saya bilang tantangan 2019 luar biasa besarnya," kata Suhariyanto di Kantor BPS, Jakarta Pusat, Senin (24/6).
Suhariyanto menjelaskan hingga saat ini perkembangan ekonomi global masih diliputi ketidakpastian. Di samping itu, harga komoditas juga masih berfluktuasi.
Hal itu berpengaruh pada neraca perdagangan Indonesia yang masih sulit untuk mencapai kata stabil.
"Kita tidak menyalahkan eksternal juga. Tapi kita juga harus memerhatikan. Ada perlambatan ekonomi Tiongkok. Pertumbuhannya melambat dari 6,8% menjadi 6,4%. Kalau ada perlambatan, pasti mempengaruhi permintaan," tuturnya.
Baca juga: Perang Dagang AS-Tiongkok Bayangi Pertemuan Pemimpin ASEAN
Namun begitu, ia juga tak memungkiri adanya hambatan dari dalam negeri yang harus ditembus. Untuk itu, selain mencermati kondisi ekonomi global, pihaknya juga akan berupaya untuk menggenjot ekspor dalam negeri.
"Kita lakukan hilirisasi dan ekspor kita tidak berbasis komoditas saja, supaya bisa bersaing," tukasnya.
Untuk diketahui, Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat adanya surplus pada neraca perdagangan Mei 2019 sebesar US$0,21 miliar. Surplus neraca perdagangan tersebut disebabkan oleh surplus sektor nonmigas sebesar US$1,19 miliar.
Lebih rinci lagi, ekspor Indonesia mengalami peningkatan sebesar 12,42% mencapai angka US$14,74 miliar. Sementara jika dibandingkan dengan Mei 2018, angka tersebut menurun dari US$16,5 miliar atau sebesar 8,99%.
Sementara itu impor Indonesia pada Mei 2019 mengalami penurunan 5,62% menjadi US$14,53 miliar. Angka tersebut juga turun sebesar 17,71% jika dibandingkan Mei 2018.(OL-5)
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) menutup perdagangan terakhir tahun 2025 dengan kinerja positif, menguat tipis sebesar 2,68 poin.
Anjloknya harga emas pada perdagangan hari ini memberikan tekanan langsung terhadap sentimen saham-saham tambang emas di Bursa Efek Indonesia (BEI).
IHSG mengakhiri perdagangan Selasa sore di zona merah. Tekanan jual muncul seiring investor melakukan aksi ambil untung (profit taking) menjelang libur dan cuti bersama Natal.
Sektor non-migas menjadi pendorong utama surplus perdagangan Batam pada September 2025, dengan mesin dan peralatan listrik (HS 85) mendominasi ekspor dengan nilai US$831,02 juta.
PRESIDEN Prabowo Subianto menyatakan pentingnya dukungan terhadap investasi asing sebagai bagian dari upaya mempercepat kemakmuran nasional.
Indonesia mendorong penyelesaian perundingan reviu ASEAN-India Trade in Goods Agreement (AITIGA) pada akhir 2025.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved