Headline
Penghematan dari WFH bergantung pada asumsi yang belum tentu terjadi.
Penghematan dari WFH bergantung pada asumsi yang belum tentu terjadi.
Kumpulan Berita DPR RI
PEMERINTAH telah dan akan melakukan berbagai upaya untuk mengatasi defisit neraca perdagangan (current account deficit) yang terus melebar, di antaranya dengan mendorong ekspor, terutama nonmigas, serta mempercepat perjanjian kerja sama perdagangan.
Menteri Perdagangan (Mendag) Enggartiasto Lukita menyatakan pembahasan dan perundingan perjanjian perdagangan dengan berbagai negara lain bertujuan melesatkan ekspor Indonesia.
“Sebelumnya kita sudah delapan tahun tidak ada perjanjian perdagangan baru, yang saat ini hanya menghidupkan yang lama-lama,” kata Mendag di Washington DC, Amerika Serikat, Selasa waktu se-tempat atau kemarin pagi WIB.
Menurut dia, ada berbagai kerugian dengan minimnya langkah Indonesia dalam melakukan perjanjian perdagangan dengan negara lain. Ia mencontohkan Vietnam telah memiliki perjanjian perdagangan dengan Amerika Serikat (AS) sehingga sejumlah komoditas dari Vietnam bisa mengungguli komoditas yang sama dari Indonesia.
Hal tersebut, kata dia, bisa terjadi karena adanya perjanjian perdagangan bilateral Vietnam-AS sehingga sejumlah komoditas yang masuk dari Vietnam ke ‘Negeri Paman Sam’ bisa bertarif lebih murah atau bahkan nol.
“Presiden telah mengingatkan untuk segera diselesaikan (perjanjian perdagangan),” ujar Mendag.
Ia menyadari untuk membuat perjanjian perdagangan dengan suatu negara atau sebuah kawasan bukanlah hal yang mudah karena ada tahap internal yang harus dilakukan yakni sinergi antarkementerian/lembaga, juga negosiasi dengan sejumlah mitra pemangku kepentingan. Mendag juga menyatakan ambisinya menyelesaikan sekitar 13 perjanjian perdagangan di 2019.
Ekspor nonmigas
Selain mendorong penyelesaian sejumlah kerja sama dagang, hal lain yang dilakukan untuk mengatasi defisit perdagangan ialah dengan mendorong ekspor, terutama nonmigas. Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Darmin Nasution mengatakan langkah itu telah dilakukan pemerintah, terutama ke pasar nontradisional seperti Afrika yang sedang tumbuh meski hasilnya tidak terlihat dalam waktu cepat.
Namun, menurut dia, kondisi ekspor nonmigas saat ini ikut terpengaruh kondisi global sehingga menyebabkan terjadinya defisit neraca perdagangan sepanjang 2018 sebesar US$8,57 miliar.
“Masalahnya tidak cukup banyak barang yang bisa kita ekspor. Ekspor kita selama ini yang hasilnya bagus malah lambat, negatif pula, seperti CPO (minyak kelapa sawit),” ujarnya, Selasa (15/1).
Tentang defisit yang terus melebar, Darmin mengatakan salah satunya lantaran masih tingginya impor migas. Dia mengakui persoalan itu tidak bisa diselesaikan dalam waktu cepat karena membutuhkan pembenahan selama bertahun-tahun. Selain itu, masyarakat dan industri masih memiliki ketergantungan yang tinggi terhadap bahan bakar minyak (BBM).
“Sebenarnya terakhir kita surplus migas neraca perdagangannya pada 2001 atau 2002. Setelah itu pelan-pelan makin besar,” ujarnya. (E-2)
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved