Headline
Penghematan dari WFH bergantung pada asumsi yang belum tentu terjadi.
Penghematan dari WFH bergantung pada asumsi yang belum tentu terjadi.
Kumpulan Berita DPR RI
MELAMBATNYA pertumbuhan ekonomi global tampaknya masih menghantui neraca perdagangan Indonesia tahun ini. Selain itu, fluktuasi harga berbagai komoditas juga ikut memengaruhi.
“Misalnya sawit dan karet yang diprediksi kurang bagus, harga minyak diperkirakan juga masih akan turun,” ujar Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Suhariyanto dalam konferensi pers di Gedung BPS, Jakarta, Selasa (15/1).
Menurut data BPS, nilai ekspor Indonesia pada Desember 2018 mencapai US$14,18 miliar atau menurun 4,89% jika dibandingkan dengan bulan sebelumnya. Hal itu disebabkan merosotnya ekspor nonmigas pada Desember 2018 yang hanya mencapai US$12,43 miliar atau turun 8,15% jika dibandingkan dengan November 2018.
Namun, secara kumulatif nilai ekspor Indonesia sepanjang Januari-Desember 2018 mencapai US$180,06 miliar atau meningkat 6,65% bila dibandingkan dengan periode yang sama di 2017.
Ekonom Bahana Sekuritas, Satria Sambijantoro, mengingatkan pen-tingnya pengembangan industri pengolahan yang bernilai tambah agar kinerja ekspor Indonesia tidak lagi sepenuhnya bergantung pada komoditas.
“Perlu ada review kebijakan secara lebih komprehensif untuk mengembangkan industri ekspor value-added dalam negeri,” kata Satria seperti dikutip Antara, kemarin.
Menurut dia, sangat penting mengurangi ekspor komoditas yang porsinya mencapai hampir 30% dari total ekspor Indonesia sehingga ekspor tidak lagi rentan terhadap perlambatan ekonomi yang terjadi di negara mitra dagang utama seperti Tiongkok.
“Struktur ekspor yang bergantung pada komoditas membuat ekonomi Indonesia rentan terhadap perlambatan global, terutama di Tiongkok yang mengonsumsi banyak ekspor komoditas kita seperti batu bara dan bahan tambang,” katanya.
Diversifikasi pasar
Pembenahan juga diperlukan karena kinerja ekspor terganggu oleh tingkat pertumbuhan investasi asing yang menunjukkan tren penurunan. Padahal Indonesia sangat membutuhkan penanaman modal untuk industri manufaktur ber-orientasi ekspor guna menyehatkan neraca perdagangan.
Menurut data BPS, merosotnya ekspor menyebabkan neraca perdagangan selama 2018 mengalami defisit sebesar US$8,57 miliar.
“Untuk mengatasi risiko global, penting bagi Indonesia untuk memulai upaya akselerasi reformasi struktural pada 2019, terutama agar ketergantungan pada ekspor komoditas makin berkurang dan mencari pasar ekspor yang lebih beragam,” kata Satria.
Ekonom dari Institute for Deve-lopment of Economics and Finance (Indef) Bhima Yudhistira berpendapat perlambatan ekonomi AS dan Tiongkok akan menggerus ekspor Indonesia tahun ini sebab data ekonomi AS menujukkan adanya slowdown effect akibat perang dagang.
“Sementara itu, di sisi lain, Tiongkok dan AS berkontribusi 25% dari total tujuan ekspor nonmigas kita,” ujarnya, kemarin. (E-2)
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved