Setelah satu tahun melepas saham ke bursa, PT Blue Bird Tbk (BIRD) meraup pertumbuhan pendapatan hingga 17% dalam 9 bulan di tahun 2015, atau sekitar Rp 4,04 triliun. Kontribusi pendapatan terbesar berasal dari taksi reguler dan eksekutif. Kemudian diikuti oleh penyewaan mobil dan limosin sebesar 8,5%, dan penyewaan bus sebesar 4,1%.
Direktur Utama Blue Bird Purnomo Prawiro mengatakan laba bruto perusahaan juga meningkat 16% menjadi Rp 1,23 triliun dalam periode 9 bulan tahun 2015 bila dibandingkan pada periode yang sama tahun lalu sebesar Rp 1,06 triliun. “Marjin laba perseroan mencapai sekitar 30,5% dibanding periode yang sama tahun lalu sekitar 30,7%,†ujarnya pada saat peringatan 1 tahun IPO Blue Bird di Jakarta, Kamis (5/11).
Laba bersih yang diatribusikan kepada pemilik entitas induk naik sekitar 16% menjadi sekitar Rp 625 miliar di 9 bulan tahun 2015, lebih besar dari periode sebelumnya Rp 537 miliar. “Berdasarkan hasil tersebut, marjin laba bersih sebesar 15,5% dibanding tahun lalu sekitar 15,6%.â€
Setelah resmi melantai pada 1 tahun yang lalu, saat ini terdapat lebih dari 5300 karyawan dan pengemudi Blue Bird yang ikut memiliki saham perusahaan. “Selain itu, juga ada lebih dari 2000 masyarakat luas yang ikut memiliki saham. Sebagai ikon layanan transportasi di Indonesia, Blue Bird harus terus dikembangkan dan juga sudah dikenal masyarakat internasional.â€
Purnomo mengakui persaingan di bisnis transportasi semakin pesat dengan berkembangnya layanan transportasi berbasis aplikasi. Namun, hal tersebut justru telah mempengaruhi cara kerja Blue Bird untuk terus berkembang. “Yang terpenting adalah apa yang kita lakukan dan kembangkan. Kita juga terus mengembangkan aplikasi layanan agar lebih user friendly.â€
Direktur Keuangan Robert Rerimassie mengatakan posisi keuangan perseroan masih berada di posisi yang sehat dengan rasio debt to equity (gearing) yang tetap terjaga rendah. “Per 30 September 2015 rasio gearing kita sekitar 0,45x, lebih rendah bila dibandingkan dengan rasio gearing per 31 Desember 2014 yang berada di level 0,57x.â€
Robert juga mengatakan seluruh kewajiban utang dalam dolar sudah dilunasi dengan total sekitar USD 24,4 juta pada bulan Juni 2015. Dengan demikian, maka akan membatasi eksposur perseroan terhadap pergerakan kurs yang fluktuatif. “Meskipun begitu, kita tetap berhati-hati dalam melakukan ekspansi usaha di tengah kondisi ekonomi yang belum stabil.â€
Asumsi pertumbuhan pendapatan perseroan pada kuartal IV tahun ini menurutnya tidak akan jauh berbeda dari kuartal III atau di kisaran 12%-13% dengan asumsi pertumbuhan tertinggi sebesar 17%. Tahun ini jumlah tambahan mobil sekitar 1500 dengan nilai investasi Rp 1,4 triliun-Rp 1,5 triliun yang keseluruhannya berasal dari kas internal.
Hingga kuartal III tahun ini, penambahan mobil masih didominasi oleh jenis sedan sekitar 55,6% dari total 900 unit mobil baru. “Kita juga masih punya fasilitas perbankan yang belum kita pakai dengan total Rp 1,2 triliun akibat ekspansi yang melambat.â€
Untuk tahun depan, belanja modal yang ditetapkan perusahaan sangat bergantung pada rencana ekspansi yang berdasarkan pada kondisi pertumbuhan ekonomi. “Pertumbuhan ekonomi masih belum pulih. Jumlah capex kita tidak akan jauh beda dari tahun ini atau sekitar Rp 1,5 triliun-Rp 1,6 triliun. Penambahan mobil juga tidak akan terlalu banyak. Tapi kalau di kuartal II tahun depan ada perbaikan ekonomi, kita siap untuk tumbuh lebih cepat, meskipun tetap hati-hati.â€
Penambahan mobil tahun depan diperkirakan sekitar 1700 dengan masih didominasi oleh mobil jenis sedan untuk taksi dan juga untuk menggantikan armada yang sudah lama. “Pendanaan tahun depan menggunakan fasilitas perbankan dan internal fund.â€
Direktur Pengembangan Bisnis Sigit Priawan Djokosoetono mengatakan selain mobil sedan untuk taksi, saat ini terdapat sekitar 400 armada mobil tipe MPV (Multi Purpose Vehicle) bermerk Mobilio. Hingga tahun depan akan ada penambahan hingga 200 buah mobil MPV. “Tapi butuh izin tersendiri untuk taksi MPV di bandara. Karena izin yang kita miliki saat ini hanya taksi sedan sebanyak 1500 unit. Target tahun depat penambahan masih banyak untuk jenis sedan. Taksi MPV sejauh ini penerimaannya cukup baik, terutama untuk angkutan ke bandara karena dapat memuat orang dan barang lebih banyak.â€
Penambahan mobil jenis MPV membutuhkan alokasi dana mencapai Rp 30 miliar dengan estimasi harga per unitnya sekitar Rp 150 juta. Mobil jenis MPV masih hanya akan beroperasi di Jakarta. Namun, menurutnya taksi jenis MPV juga akan dikembangkan di kota-kota lain, meskipun ia belum mengetahui kota mana yang menjadi sasaran ekspansi taksi MPV. “Melihat permintaannya, kemungkinan masih di pulau Jawa. Penambahan ini sebagai tanggapan dari respon positif pasar terhadap taksi jenis ini. Meskipun begitu, fokus kami masih tetap pada taksi jenis sedan.â€
Total anggaran yang sudah dikeluarkan untuk membeli mobil MPV sebesar Rp 84 miliar atau 5,6% dari total belanja modal yang dianggarkan pada tahun ini.(Q-1)