Presiden Joko Widodo memutuskan bergabung dengan Trans-Pacific Partnership (TPP). Wakil Ketua DPR Agus Hermanto menilai Indonesia perlu mempertimbangkan untung ruginya.
"Menurut pengamatan kami, kalau kita masuk TPP kita betul-betul merugi karena memang kita memiliki infrastruktur lemah, dalam hal ini usaha kita lemah dan juga kemampuan ekspor kita juga lemah," kata Agus di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Selasa (3/11).
Ketika TPP ditandatangani, tambah politikus Partai Demokrat ini, Indonesia akan kebanjiran produk luar negeri. Apalagi populasi penduduk Indonesia cukup besar dengan kecenderungan konsumsi yang besar.
"Menurut saya TPP saat ini belum dibutuhkan, karena memang secara struktural kita belum mampu untuk masuk kedalam TPP," tegasnya.
Indonesia dinilai hanya akan menjadi target pasar Amerika, China, Jepang dan negara lainnya. Indonesia tak sama seperti Singapura dan Malaysia yang memiliki produk ekspor andalan.
"Populasi penduduknya sedikit sehingga pasaran tidak mampu menyerap produk dalam negeri kemudian diekspor," kata dia.
Sementara di Indonesia, produk yang dikonsumsi secara lokal pun masih kurang. Dari segi kualitas bisa dikatakan kurang diminati. Di luar itu, kondisi ekonomi yang semakin buruk membuat daya beli masyarakat menengah ke bawah semakin rendah.
Indonesia setidaknya terlebih dahulu memperkuat daya beli masyarakat terhadap produk jasa dalam negeri. Bergabung dalam TPP baru bisa dilakukan setelah negeri ini melakukan pembenahan.
"Sehingga saya minta pemerintah harus jeli, dipelajari dengan seksama, sehingga kita tidak menyengsarakan masyarakat indonesia," ujar Agus. (Q-1)