Headline

Publik diminta terus bersikap kritis terhadap tindakan aparat.

Ada Bubu dan Lumbung Padi di Milan

Raja Suhud VHM
30/10/2015 00:00
Ada Bubu dan Lumbung Padi di Milan
(MI/Raja Suhud VHM)
KECIL-KECIL cabe rawit. Demikian kiasan yang tepat untuk menggambarkan keberadaan Paviliun Indonesia di Milan World Expo 2015.

Bagaimana tidak, dari sisi luasan, Paviliun Indonesia termasuk minimalis dibandingkan negara lain. Dengan luasan sekitar 1.000 meter persegi, Paviliun Indonesia akan terlihat “imut” dibandingkan Paviliun Jepang, Amerika, Italia atau bahkan Malaysia yang 4 hingga 5 kali lipat luas areanya.

Namun dari sisi menarik pengunjung, terasa bahwa kinerja Paviliun Indonesia lumayan terasa menggigit. Paviliun Indonesia cukup bersaing dengan Qatar, Inggris dan Malaysia yang jumlah pengunjungnya tembus di atas 3 juta orang. Sehingga Paviliun Indonesia masuk dalam kelompok 10 besar di bawah Turki dan Rusia yang telah menembus 4 juta orang dan Amerika Serikat dan Jepang yang telah menarik 6 juta pengunjung.

Budiman Muhammad selaku Direktur Paviliun Indonesia menjelaskan bahwa berbagai pentas seni dan pertunjukan yang diadakan di depan Paviliun Indonesia cukup membuat pengunjung tertarik untuk masuk ke dalam paviliun. Ditambah lagi suasana interaktif yang terbangun dimana pengunjung bisa menyentuh langsung alat musik angklung, Wayang dan juga rempah-rempah asli Indonesia. Sehingga pengunjung bisa menggunakan kelima inderanya untuk mengeksplorasi kekayaan ragam budaya dan alam Indonesia.

Yang menarik juga adalah tampilan Paviliun Indonesia yang menyerupai Bubu dan Lumbung Padi yang disatukan. Konstruksi ini mencerminkan kearifan lokal yang dimiliki Indonesia dimana Bubu merupakan alat tangkap ikan,yang tidak merusak ekosistem karena ikan besar tidak bisa masuk sedangkan ikan kecil masih bisa lolos. Sedangkan Lumbung Padi merupakan simbol kearifan masyarakat pedesaan yang menyimpan hasil panennya untuk bisa bertahan hidup hingga 100 tahun ke depan.

“Konsep bangunan ini sejalan dengan tema World Expo yaitu Feeding the Planet, Energy of Life. Arsiteknya adalah orang Indonesia yaitu Rubi Roesli dan Miranti Gumayana. Pengerjaan konstruksinya baru melibatkan orang Italia,” jelas Budiman.

Keluar dari Paviliun Indonesia pengunjung bisa langsung mencicipi masakan khas Indonesia seperti sate ayam, rendang, nasi goreng dan mie goreng dengan harga berkisar 10 hingga 20 euro termasuk minuman. Kopi asal Lampung juga tersedia dengan harga 2 euro.

Ada perasaan haru melihat paviliun yang diawaki oleh hampir 100 anak muda Indonesia mampu menyedot animo pengunjung. Para orang muda yang terdiri dari para seniman yang tergabung dalam Koperasi Pelestari Budaya Nusantara (KPBN) dan awak Artha Graha bekerja bahu membahu menjadi penjaga pintu, petugas stan, pelayan restoran hingga MC di panggung hiburan dari pukul 9.30 hingga 22.00. Mereka juga terbantu dengan kehadiran warga Indonesia yang tinggal di Italia.

Hal yang sedikit mengganggu adalah ketidakhadiran Menteri Perdagangan guna menutup Paviliun Indonesia. Memang, paviliun ini didanai oleh pihak swasta tapi imej yang tercipta ini adalah paviliun ini adalah milik negara. Karena dari 140 negara yang berparsipasi, hanya 2 paviliun yang didanai swasta murni yakni Indonesia dan Amerika Serikat. Oleh karena itu ketidakhadiran Mendag di acara penutupan seperti menorehkan luka dari masyarakat Indonesia yang terlibat dalam perhelatan akbar 6 bulan ini. Semoga pemerintah ke depan bisa bersikap jauh lebih baik lagi.(Q-1)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Admin
Berita Lainnya