Headline
Tanpa kejelasan, DPR bisa ganti hakim yang telah dipilih.
Tanpa kejelasan, DPR bisa ganti hakim yang telah dipilih.
Kumpulan Berita DPR RI
OTORITAS Jasa Keuangan (OJK) mencatat sektor jasa keuangan menunjukkan perkembangan yang masih cukup bagus. Meski demikian pengetatan likuiditas membayangi sehingga perbankan terpaksa merespons dengan penaikan suku bunga simpanan.
Dari sisi intermediasi, pertumbuhan kredit tercatat 12,69% per September 2018 atau kuartal III 2018, tumbuh pesat jika dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu yang berada di kisaran 7%-8%.
Di sisi lain, terdapat gap terhadap dana pihak ketiga (DPK) perbankan yang tumbuh melambat pada level 6,6% per September 2018. Kepala Eksekutif Pengawas Perbankan OJK Heru Kristiyana mengatakan perbankan terus mengawasi beberapa hal yaitu loan to deposit ratio (LDR) yang mengetat.
“Kami mencermati kondisi likuiditas yang ditunjukkan LDR mencapai 93%, atau sudah mulai mengetat dan buffer likuiditas juga mengetat. Namun dengan komitmen Bank Indonesia memelihara kondisi likuiditas, kami tetap yakin momentum pertumbuhan akan terus berlanjut,” ujar Heru pada konferensi pers Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK) di Jakarta, Kamis (1/11).
Dia meyakinkan perbankan Indonesia masih memiliki buffer likuiditas, dengan aset likuid berbanding non-core deposit (AL/NCD) masih sekitar 99%, dengan ambang batas berada pada level 50%. OJK bekerja sama dengan KSSK dan Kementerian Keuangan untuk tetap menjaga pertumbuhan.
“Bank Indonesia berkomitmen untuk tetap melonggarkan likuiditas, apabila dirasa ada pengetatan di sana,” tutur Heru.
Kemudian, dari sisi permodalan, rasio kecukupan modal bank masih memperlihatkan penguatan, yaitu di di kisaran 23%. Rasio kredit bermasalah (NPL) juga terpantau masih terjaga. Per September 2018, NPL gross berada pada level 2,6% dan NPL net berada pada 1,7%.
“Ini menunjukkan di tengah pertumbuhan kredit yang cukup baik, CAR dan NPL masih terjaga,” jelas Heru.
Sebelumnya, Kepala Eksekutif LPS Fauzi Ichsan mengatakan likuiditas yang mulai mengetat juga terpantau dari industri perbankan yang meski sehat mulai menunjukkan indikator pelemahan dalam periode September 2017-2018.
Dalam data kisaran yang dimiliki LPS, rasio kecukupan modal turun dari 22,7% menjadi 22,4%. Kemudian net interest margin perbankan terpantau turun dari 4,6% ke 4,4%. Dalam periode yang sama, pertumbuhan kredit naik dari 8% menjadi 13%. Per kategori kegiatan usahabank, pertumbuhan kredit bank umum kegiatan usaha (BUKU) 4 terpantau turun dari kisaran 18,8% ke 14,4%.
Pertumbuhan kredit bank BUKU 3 terpantau naik dari 7,7% menjadi 12,5%. Pertumbuhan kredit bank BUKU 2 turun dari kisaran 12% ke 11,4%. Lalu, pertumbuhan kredit bank BUKU 1 tercatat naik dari 12,3% ke 14,7%.
Namun pertumbuhan DPK turun dari 11,7% ke 6,6%. Ini terjadi karena berakhirnya efek program Amnesti Pajak dan mulai kembali persaingan dana dari pasar obligasi.
Pertumbuhan DPK per BUKU bank , antara lain, pertumbuhan DPK pada bank BUKU 4 turun dari 18,6% menjadi 9,9%. Pertumbuhan DPK pada bank BUKU 3 turun dari 9,9%% menjadi 2,9%. Pertumbuhan DPK pada bank BUKU 2 turun dari 13,2% menjadi 3,1% dan pertumbuhan DPK pada bank BUKU 1 turun dari 10,6% menjadi 2,2%.
Perbankan pun terpantau mulai berlomba menaikkan suku bunga deposito special rate mereka. Pantauan LPS menunjukkan sejak 30 April 2018 hingga 26 Oktober 2018 special rate deposito 1 bulan naik rata-rata sebesar 117 basis poin (bps). Kenaikan tertinggi sebesar 132 bps dialami special rate deposit pada BUKU 4.
Dengan demikian posisi terkini per 26 Oktober, rata-rata special rate deposit tenor 1 bulan di bank BUKU 1 berada di 6,9%, BUKU 2 berada di 6,91%, BUKU 3 berada di 7,17% dan BUKU 4 berada di 6,96%.
Dalam periode sama, loan to deposit ratio (LDR) secara industri naik dari 89,1% menjadi 94,3%. Sedangkan batas pruden ada di 92%. Perkembangan LDR pada bank BUKU 4 turun dari 90,4% ke 86,9%, LDR pada bank BUKU 3 naik 94,4% ke 103,3%, LDR pada bank BUKU 2 turun dari 89,6% ke 80,6% dan LDR pada bank BUKU 1 naik dari 75,4% menjadi 84,1%.
Heru melihat kenaikan bunga deposito tidak bisa dihindari. Meski begitu kenaikannya dia lihat tidak terlalu besar. Adapun pada suku bunga kredit, dia mengatakan tidak lekas perbankan menaikkan suku bunga kreditnya.
Kredit konsumsi yang merupakan bagian terbesar pertumbuhannya hanya naik sedikit, berada di level sekitar 11%. Artinya, perbankan melakukan efisiensi sehingga kenaikan suku bunga dana tidak langsung berimbas pada suku bunga kredit.
“Kami lihat kalau kenaikan suku bunga dana sudah terlalu besar saya yakin juga tidak akan terlalu besar ke bunga kredit. Saya tidak akan mengatakan suku bunga dana tidak akan naik. Dia pasti akan mengikuti, tapi bank punya buffer likuiditas. Lagipula flight to quality (pindah dana karena melihat tingkat deposito) belum terjadi,”
Dirut Bank Mayapada Hariyono Tjahjarijadi mengatakan pertumbuhan DPK melambat bisa terjadi karena beberapa sebab, antara lain kini perbankan harus bersaing dengan surat berharga yang diterbitkan.
“Sebagai contoh ORI (Obligasi Ritel Indonesia) yang yieldnya pada saat saat itu lebih tinggi dari bunga deposito. Lalu bank besar juga banyak memberikan kredit besar yang antara lain untuk infrastruktur sehingga mereka saat ini terpaksa berlomba menaikkan suku bunga dananya untuk membiayai pertumbuhan kreditnya," papar Hariyon, ketika dihubungi, Kamis (1/11).
Dalam merespons hal itu, strategi perbankan kurang lebih akan sama yaitu menaikkan suku bunga dana untuk menghindari perpindahan simpanan nasabah ke bank lain. (A-2)
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved