Headline
Penghematan dari WFH bergantung pada asumsi yang belum tentu terjadi.
Penghematan dari WFH bergantung pada asumsi yang belum tentu terjadi.
Kumpulan Berita DPR RI
PERTUMBUHAN masyarakat kelas atas di Indonesia cukup tinggi. Bahkan, dalam lima tahun ke depan, jumlahnya diperkirakan meningkat lima kali lipat.
Berdasarkan data Global Wealth Report (2004-2022) yang dilansir tahun lalu, jumlah orang kaya di Indonesia pada 2017 mencapai sekitar 111 ribu orang dengan aset US$1,8 triliun. Angka itu meningkat dari 2016 sebanyak 105 ribu orang. Diperkirakan, pada 2022 jumlahnya mencapai 180 ribu orang. Rabu (19/9).
Kondisi itu juga terlihat dari data penjualan mobil sport mewah di Indonesia yang tumbuh lebih dari 20% per tahun. Belum lagi, penjualan barang-barang mewah yang setiap tahunnya tumbuh sekitar 80%.
“Namun, dari masyarakat kalangan atas itu, hanya 12% dari kekayaan mereka yang dialokasikan untuk asuransi jiwa,” kata Presiden Direktur sekaligus CEO PT Asuransi Jiwa Manulife Indonesia (Manulife Indonesia) Jonathan Hekster dalam perbincangan dengan media massa, saat peluncuran MPA, di Jakarta,
Hadir pula, Chief Agency Officer Manulife Indonesia Jeffrey Kie dan Chief Distribution Officer Manulife Indonesia John Curtis.
Jonathan melanjutkan banyak juga keluarga mapan yang sulit untuk mewariskan kemapanan mereka kepada generasi berikutnya. Ia mengutip data dari Baker McKenzie (2017), lebih dari 50% bisnis keluarga di Asia dijalankan generasi pertama, tetapi hanya 3% bisnis keluarga yang dijalankan generasi ketiga.
Atas kondisi itu, kata dia, Manulife Indonesia menghadirkan Manulife Prime Assurance (MPA), produk proteksi premium untuk individu high net-worth (HNW) atau kelas atas.
Jonathan menjelaskan salah satu tantangan bagi keluarga kelas atas ialah menyeimbangkan perubahan gaya hidup dan pengelolaan keuangan bagi persiapan keuangan di masa depan. “Produk MPA ini sebagai perencanaan peninggalan keluarga melalui asuransi jiwa menyeluruh,” tutupnya.
Alokasi 12%
Chief Agency Officer Manulife Indonesia Jeffrey Kie menambahkan, saat ini ada indikasi keluarga Indonesia membutuhkan bantuan mencapai keseimbangan. Hal itu dikatakannya dengan merujuk survei Manulife Investor Sentiment Index 2016 yang menyebutkan investor Indonesia hanya mengalokasikan 12% dari kekayaan mereka untuk asuransi.
“Angka 12% alokasi untuk asuransi ini juga menunjukkan adanya peluang besar bagi industri asuransi. Apalagi, pertumbuhan masyarakat kelas atas tidak terbendung. Jumlahnya terus meningkat,” terang dia.
Jeffrey menambahkan, produk MPA memungkinkan keluarga Indonesia memiliki proteksi sekaligus perencanaan peninggalan atau warisan bagi generasi mereka berikutnya.
“Orang-orang di level ini tidak menyadari mereka juga butuh perlindungan. Mereka perlu melindungi kemapanan mereka dan kemapanan itu bisa dinikmati sampai generasi seterusnya,” tuturnya.
Hal itu memungkinkan karena produk MPA memiliki sejumlah manfaat. Di antaranya perlindungan seumur hidup dengan uang pertanggungan mulai Rp5 miliar, atau sekitar US$500 ribu.
“Selanjutnya, ada manfaat perlindungan medis eksklusif dengan layanan prioritas yang disebut Miassist, perlindungan penyakit kritis untuk nasabah dan keluarga, serta manfaat tambahan untuk penyakit spesifik gender,” pungkas Jeffrey. (E-3)
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved