Headline
Utusan AS mengungkapkan Dewan Perdamaian juga akan beroperasi di wilayah selain Gaza.
Utusan AS mengungkapkan Dewan Perdamaian juga akan beroperasi di wilayah selain Gaza.
Kumpulan Berita DPR RI
INDONESIA berkomitmen untuk mengurangi asupan minyak kelapa sawit (crude palm oil/CPO) dan produk-produk turunannya ke pasar Eropa. Hal tersebut dilakukan sebagai aksi balasan terhadap Uni Eropa (UE) yang terus berupaya menjegal produksi dan perdagangan komoditas sawit Tanah Air.
Dengan berkurangnya ekspor ke Benua Biru, Indonesia tentunya harus mencari pasar baru yang juga memiliki potensi besar bahkan melebihi Eropa guna menyeimbangkan neraca dagang komoditas sawit.
Direktur Eksekutif Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia Danang Girindrawardana mengatakan mencari pasar non baru untuk CPO bukanlah hal sulit. Pasalnya, komoditas tersebut adalah bahan baku bagi sebagian besar kebutuhan sehari-hari.
Saat ini, Indonesia sudah mulai masuk ke pasar Afrika dan diyakini kebutuhan di Benua Hitam itu akan terus bertumbuh secara signifikan. Bahkan, ia memprediksi angka ekspor ke pasar Afrika akan segera menyamai ke Benua Biru dalam waktu setahun ke depan.
Sejak Januari hingga April tahun ini, data Gapki menunjukkan ekspor ke negara-negara Afrika sudah sebesar 703 ribu ton. Hampir separuh ekspor ke negara-negara Eropa yang mencapai 1,5 juta ton.
Dari bulan ke bulan, ekspor CPO ke Afrika terus bertumbuh, yakni 16% pada bulan kedua dan 38% pada bulan ketiga.
Capaian tersebut, ucap Danang, sudah cukup membuktikan seberapa besar kebutuhan Afrika akan produk sawit dan tentunya potensi itu akan terus tumbuh di masa mendatang.
"Kita tidak bisa menggantungkan diri pada Uni Eropa. Kita bisa tutup pasar Eropa, buka pasar baru. Serapan ke Eropa dalam waktu dekat busa dialihkan ke pasar nontradisional. Mungkin hanya butuh satu tahun," ujar Danang kepada Media Indonesia, Selasa (19/6).
Sekretaris Jenderal Gapki Togar Sitanggang mengungkapkan Afrika merupakan pasar yang sangat menjanjikan dengan total penduduk yang sangat besar.
Dalam tiga tahun terakhir, pertumbuhan permintaan produk sawit Afrika terus merangkak naik hingga lebih dari 10%.
"Afrika itu secara pnduduk besar sekali. Satu negara bisa 60 juta jiwa. Nigeria saja mencapai 80 juta orang dan tentunya mereka sangat membutuhkan CPO. Produksi sawit di sana ada, tetapi tidak besar," ucap Togar. (OL-5)
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved