Headline

Utusan AS mengungkapkan Dewan Perdamaian juga akan beroperasi di wilayah selain Gaza.

Ekonomi Kena Gejolak Global, Pemerintah Yakinkan Pasar

Erandhi Hutomo Saputra
11/5/2018 22:35
Ekonomi Kena Gejolak Global, Pemerintah Yakinkan Pasar
(ANTARA FOTO/Hafidz Mubarak A)

PEREKONOMIAN global yang tengah mengalami tekanan akibat berbagai kebijakan fiskal dan politik Amerika Serikat membuat pemerintah Indonesia tidak tinggal diam.

Menteri Keuangan Sri Mulyani beserta Gubernur Bank Indonesia Agus Martowardojo, Ketua Dewan Komisioner OJK Wimboh Santoso, dan Kepala Eksekutif LPS, Fauzi Ichsan, mengadakan pertemuan dengan 40 insitusi pelaku pasar keuangan.

Dalam pertemuan itu pemerintah memberikan perkembangan terkini kondisi perekominan dan perkembangan sektor keuangan, bursa, dan surat berharga.

"Kita memberikan keyakinan apa yang dilakukan bersama pemerintah BI, OJK, dan LPS untuk menjaga stabiltias perekonomian Indonesia," jelas Sri Mulyani seusai rapat di Kantor Pusat Ditjen Pajak Jakarta, Jumat (11/5).

Dalam pertemuan itu pemerintah menekankan bahwa gejolak yang terjadi di Tanah Air dalam beberapa minggu terakhir lebih disebabkan langkah bank sentral AS, The Fed yang menyesuaikan tingkat suku bunganya menuju 'new normal'.

Terlebih, lanjut Sri, gejolak semakin kuat dipicu dengan adanya ketegangan perdagangan antara AS dan Tiongkok serta kebijakan fiskal AS di bidang perpajakan.

Tidak hanya itu, kondisi geopolitik berkaitan dengan Korea Utara dan mundurnya AS dalam perjanjian nuklir dengan Iran juga semakin memberikan tambahan gejolak yang dapat dilihat dari capital outflow di semua negara menuju AS atau dalam bentuk kenaikan imbal hasil (yield) US treasury yang berimbas negatif kepada surat berharga negara (SBN) negara-negara lain.

"Kita melihat ini suatu situasi yamg temporer namun harus tetap diwaspadai," tukasnya.

Dalam pertemuan itu, lanjut Sri, para pelaku pasar keuangan juga memahami bahwa gejolak yang terjadi akhir-akhir ini murni karena kondisi eksternal. Bukan karena fundamental ekonomi dalam negeri ataupun kebijakan pemerintah yang salah.

"Mereka (pelaku pasar) optimis ke pemerintah, namun memang pemicunya dari luar," tukasnya.

Para pelaku pasar, lanjut Sri, juga menanyakan koordinasi pemerintah dan BI dalam menyikapi kondisi gejolak jika nantinya terus terjadi.

"Pemerintah dan otoritas keuangan akan terus bekerjasama untuk memonitor dan mengawasi perekomian agar terjaga stabilitas," ungkap Menkeu dalam menanggapi pertanyaan itu.

Para pelaku pasar juga menanyakan outlook harga minyak, kebijakan subsidi dan APBN hingga akhir tahun akibat adanya gejolak. Terkait APBN, Sri yakin defisit pada akhir tahun hanya minus 2,14% atau lebih rendah dari asumsi APBN 2018 sebesar 2,19%.

Namun untuk kebijakan subsidi karena kenaikan harga minyak dunia, ia mengatakan saat ini pemerintah tengah merumuskan kebijakan terkait harga minyak agar tidak memberatkan Pertamina.

"Kita rumuskan dengan Menteri ESDM dan Menteri BUMN," tukasnya.

Di tempat yang sama, Fauzi mengatakan gejolak pasar global saat ini belum berdampak besar terhadap dua indikator penting yang dipantau LPS di sektor perbankan yakni indeks stabilitas perbankan dan risiko bank run.

Untuk indikator pertama, LPS menilai indeks perbankan saat ini masih normal meski ada tekanan di pasar modal, SUN, dan kurs.

"Kedua resiko bank run masih terjaga dalam kondisi aman, tidak ada indikasi masyarakat menarik simpanannya secara besar-besaran dari sistem perbankan (bank run)," pungkasnya. (X-12)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Ahmad Punto
Berita Lainnya