Headline

Utusan AS mengungkapkan Dewan Perdamaian juga akan beroperasi di wilayah selain Gaza.

SBN Kurang Laku, Menkeu: Kita Siapkan Alternatif Pembiayaan

Erandhi Hutomo Saputra
11/5/2018 21:15
SBN Kurang Laku, Menkeu: Kita Siapkan Alternatif Pembiayaan
(ANTARA FOTO/Nyoman Budhiana)

GEJOLAK yang terjadi di pasar global turut menyebabkan surat utang negara (SUN) terkena dampak. Seperti pada lelang SUN, Selasa (8/5) lalu, investor meminta yield yang tinggi sebesar 7,95%. Padahal yield SUN Indonesia secara fundamental hanya di kisaran 7,1%.

Lalu, penawaran pembiayaan yang diterima pemerintah hanya Rp7,18 triliun dari target Rp17 triliun. Ini artinya bisa dibilang SUN kurang laku.

Menanggapi hal tersebut, Menteri Keuangan Sri Mulyani mengklaim pemerintah telah menyiapkan beberapa alternatif pembiayaan selain melalui SUN.

"Apabila market menunjukkan tanda-tanda tingkat return (yield) yang tidak rasional, kita akan terus jaga apa yamg disebut alternatif pembiayaan sampai menemukan harga yang reasonable return yang kita anggap sesuai dengan rating Indonesia yang investment grade," ujar Sri Mulyani.

Ia mengatakan itu seusai rapat dengan Gubernur Bank Indonesia Agus Martowardojo, Ketua Dewan Komisioner OJK Wimboh Santoso, Kepala Eksekutif LPS, Fauzi Ichsan, dan 40 insitusi keuangan di Kantor Pusat Ditjen Pajak, Jakarta, Jumat (11/5).

Alternatif sumber pembiayaan itu, kata Sri, bisa dilakukan melalui private placement sehingga tidak selalu melalui pasar. Selain itu pembiayaan program melalui perjanjian dengan negara lain baik secara bilateral dan multilateral.

"Yang saat ini (pembiayaan program melalui bilateral dan multilateral) terdapat potensi US$1,3 miliar dan €850 juta," sebutnya.

Alternatif pembiayaan yang lain yakni dengan menerbitkan SBN valas 'samurai bonds' yang potensi pembiayaannya mencapai 150 miliar yen.

"Lalu kita masih memiliki BLU (badan layanan umum) yang mampu menyerap SBN hingga mencapai Rp12 triliun dan pemerintah telah siagakan bonds stabilitation framework di dalam menjaga kepentingan Indonesia agar tetap mampu menjaga pembiayaan secara stabil dan sustainable," pungkasnya. (X-12)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Ahmad Punto
Berita Lainnya