Headline

Utusan AS mengungkapkan Dewan Perdamaian juga akan beroperasi di wilayah selain Gaza.

BI: Tak Perlu Khawatir, Volatilitas Rupiah Hanya Temporer

Tesa Oktiana Surbakti
08/5/2018 20:50
BI: Tak Perlu Khawatir, Volatilitas Rupiah Hanya Temporer
(ANTARA FOTO/Rivan Awal Lingga)

DI tengah pelemahan nilai tukar rupiah yang sudah menembus level Rp14.000 per dolar Amerika Serikat (AS), Bank Indonesia tak bosan mengingatkan kondisi tersebut dipengaruhi guncangan faktor global. Faktor itu khususnya potensi kenaikan suku bunga acuan Bank Sentral AS (Fed Fund Rate/FFR) lebih dari tiga kali sepanjang 2018.

"Saat ini sedang terjadi kenaikan suku bunga di AS dan tentu kenaikan ini membuat adanya perubahan pergerakan modal di dunia. Tapi kalau menurut BI perubahan pergerakan modal di dunia ini volatilitasnya tidak seperti 2013 lalu yang keras sekali. Saat itu AS pertama kalinya menyatakan suku bunga naik,” ujar Deputi Senior BI Mirza Adityaswara saat ditemui di Kemenko Bidang Perekonomian, Selasa (8/5).

Setelah 2013, volatilitas nilai tukar berlanjut pada 2015 yang diiringi kenaikan suku bunga acuan Bank Sentral AS. Adapun volatilitas nilai tukar mata uang global terhadap dolar AS yang terjadi paruh awal 2018 diyakini berlangsung temporer.

Pelemahan kurs tidak hanya melanda negara “emerging market” seperti Filipina, Brazil dan Turki, melainkan juga negara maju mencakup Swedia, Norwegia dan Australia. Mirza mengungkapkan hampir sebagian besar negara dengan defisit transaksi berjalan (CAD) cenderung mengalami pelemahan nilai tukar.

"Tidak usah khawatir, karena kalau ekspor impor barang dan jasa defisit agak melebar. Namun masih pada posisi yang prudent. Tahun lalu (CAD) 1,7% terhadap PDB. Tahun ini jadi 2,2%-2,3% dari PDB, itu masih sangat prudent. Dan itu disebabkan kenaikan impor," imbuh Mirza.

Di satu sisi, Mirza menyoroti kenaikan impor tidak selamanya berdampak negatif. Sebab, mayoritas kinerja impor dipengaruhi bahan baku dan barang modal yang berkontribusi menggerakkan produksi di sektor industri. Bila investasi menggeliat, maka pertumbuhan ekonomi nasional pun ikut terdongkrak.

"Data PDB (triwulan I 2018) kan menunjukkan bahwa sektor investasi itu pertumbuhannya tinggi, di atas 7%. Itu menunjukkan bahwa kenaikan impor memang untuk produksi yang kelihatan di sektor investasi dan konstruksi meningkat. Jadi itu nanti akan jadi modal pertumbuhan ekonomi ke depan," pungkasnya. (X-12)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Ahmad Punto
Berita Lainnya