Headline
Tanpa kejelasan, DPR bisa ganti hakim yang telah dipilih.
Tanpa kejelasan, DPR bisa ganti hakim yang telah dipilih.
Kumpulan Berita DPR RI
PELEMAHAN nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) masih berlanjut. Otoritas Jasa Keuangan (OJK) bahkan diketahui melakukan tes tekanan (stress test) hingga level Rp20 ribu per dolar AS dalam rangka menguji ketahanan perbankan.
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Darmin Nasution memandang langkah stress test yang tempuh OJK merupakan sesuatu yang wajar dan penting untuk mengetahui seberapa besar tekanan dari pelemahan rupiah. Darmin meyakini diberlakukannya stress test tidak akan membuat pasar menjadi lebih spekulatif.
"Kalau stress test, boleh-boleh saja. stress test sebenarnya gunanya sampai berapa kita mulai bermasalah (dari tekanan rupiah). Tidak berarti dia (OJK) ingin (rupiah) segitu," ujar Darmin saat ditemui di kantornya, Jum'at (4/5).
Berdasarkan kurs referensi Jakarta Interbank Dollar Rate (JISDOR), perdagangan rupiah per 4 Mei 2018 berada di level Rp 13.943 per US$. Disinggung tentang hal itu, Darmin mengatakan level yang dicapai seharusnya bisa sedikit lebih rendah.
Kendati demikian, faktor global yang masih bergejolak membuat tekanan terhadap rupiah belum mereda. Salah satunya terkait kebijakan Bank Sentral AS, The Federal Reserve (The Fed) bakal menaikkan suku bunga acuan (Fed Fund Rate/FFR) lebih dari tiga kali sepanjang 2018.
Apalagi, pasar (market) memiliki kecenderungan taper tantrum, yakni reaksi atau persepsi pasar terhadap isu tapering yang akan dilakukan The Fed. Darmin pun kembali menegaskan bahwa pelemahan kurs tidak hanya melanda rupiah, namun hampir seluruh mata uang global.
"Sebenarnya (kurs) akan lebih rendah sedikit. Tapi ya memang situasinya masih (penuh tekanan). Memang mau dilihat sama "market" naiknya kapan, berapa. Kepastian tahun ini berapa kali. Kalau seluruh dunia kena (dampak pelemahan kurs), jangan terlalu dibahas-bahas. Melemahnya ya sama saja sebulan terakhir. Mau negara manapun mengalaminya," tutur mantan Gubernur Bank Indonesia.
Dia menekankan Bank Indonesia akan mengabil langkah antisipastif lebih dulu apabila pelemahan kurs lebih dipengaruhi faktor global. Sebelumnya, Bank Sentral menyatakan telah membuka opsi menaikkan suku bunga acuan (7 Days Reserve Repo Rate/7DRRR) yang saat ini bertahan di level 4,25 persen, dalam rangka menjaga nilai tukar agar sesuai dengan fundamentalnya.
"Kalau penyebabnya dari luar, yang harus maju terlebih dahulu itu Bank Indonesia. Tapi kan sebenarnya Bank Indonesia sudah ngomong bahwa mereka kalau perlu akan menaikkan tingkat suku bunga. Tapi kan dia gak bisa lakukan sekarang, karena nunggu rapat bulanan Dewan Gubernur Bank Indonesia. Jadi tinggal tunggu waktu saja, biarin saja dulu," tukasnya. (OL-5)
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved