Headline
Penghematan dari WFH bergantung pada asumsi yang belum tentu terjadi.
Penghematan dari WFH bergantung pada asumsi yang belum tentu terjadi.
Kumpulan Berita DPR RI
DENGAN mempertimbangkan data – data domestik yang secara keseluruhan cukup positif dan potensi ekonomi Indonesia yang bertumbuh lebih baik tahun ini berdasarkan riset lembaga keuangan global terkemuka seperti IMF dan World Bank, Bank Commonwealth menilai bahwa prospek investasi pada kelas aset ekuitas merupakan pilihan yang obyektif untuk investasi reksa dana sepanjang bulan April ini.
“Dengan mempertimbangkan data-data ekonomi domestik dan juga kondisi Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) serta koreksi yang terjadi, saat ini merupakan peluang untuk para nasabah meningkatkan porsi alokasi investasi di ekuitas,” kata Ivan Jaya, Head of Wealth Management & Retail Digital Business Bank Commonwealth melalui siaran pers yang diterima Selasa (10/4).
Ivan Jaya menjelaskan, setelah mengalami rally yang cukup panjang pasca terkoreksi ketika Pemilihan Presiden Amerika Serikat (AS) memenangkan Donald Trump di akhir 2016, IHSG akhirnya kembali terkoreksi cukup signifikan sejak bulan Maret lalu.
Faktor utama yang membuat pasar ekuitas terkoreksi adalah akibat faktor eksternal dari luar negeri yang memberikan dampak pada negara lainnya. Salah satunya adalah isu proteksionisme yang semakin nyata membuat pelaku pasar melakukan sell off pada aset ekuitas.
Kebijakan Presiden AS Donald Trump untuk menaikkan tarif impor baja dan aluminium sebesar 25% dan 10% serta menaikkan tarif impor produk-produk dari Tiongkok memberikan sentimen negatif pada pelaku pasar global. AS yang selama ini dikenal sebagai pelopor perdagangan bebas beralih menutup diri dengan melakukan tindakan proteksionisme. Dengan ekonomi dunia yang sudah semakin terintegrasi salah satunya melalui perdagangan, risiko dari perang dagang ini dapat memberikan dampak yang nyata pada turunnya ekspor dan naiknya inflasi pada negara yang terlibat pada perang dagang tersebut.
Positifnya, Indonesia sebagai negara yang tidak mengandalkan ekspor pada perekonomiannya, memiliki risiko yang lebih kecil terjebak dalam risiko perang dagang tersebut. Berdasarkan data World Bank 2016, ekspor Indonesia memberikan kontribusi 19% pada Produk Domestik Bruto (PDB), relatif kecil bila dibandingkan dengan Malaysia 68% dan Thailand 69%.
Di sisi lain, data dalam negeri saat ini menunjukkan impor Indonesia meningkat selama 2018, hal ini merupakan indikasi positif atas meningkatnya permintaan konsumsi. Data lainnya seperti penjualan semen nasional yang meningkat 7,8% (year on year) pada bulan Februari lalu turut memperkuat indikasi tersebut. (A-4)
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved