Headline

Penghematan dari WFH bergantung pada asumsi yang belum tentu terjadi.

Sentimen Perang Dagang AS-Tiongkok Terhadap Pasar Saham Diprediksi Berlanjut

Tesa Oktiana Surbakti
25/3/2018 17:58
Sentimen Perang Dagang AS-Tiongkok Terhadap Pasar Saham Diprediksi Berlanjut
(ANTARA FOTO/HO)

SENTIMEN perang dagang antara Amerika Serikat (AS) dan Tiongkok diperkirakan masih berdampak negatif pada pasar keuangan global, berikut pasar regional Asia. Kondisi tersebut juga berpengaruh terhadap nilai tukar mata uang di kawasan Asia, tidak terkecuali Rupiah.

 

"Rupiah pada Jumat (23/3) lalu diperdagangkan melemah sejak pembukaan sesi perdagangan. Itu dipengaruhi sentimen global yang "risk aversion", sehingga mendorong apresiasi aset "safe haven" seperti yen, emas dan US Treasury," ujar ekonom Bank Permata Josua Pardede kepada Media Indonesia, Minggu (25/3).

 

Josua menjelaskan "global sentiment risk aversion" dipengaruhi kekhawatiran terhadap perang dagang yang dipicu oleh keputusan Presiden Donald Trump untuk mengenakan kenaikan tarif impor baja dan alumunium yang sangat berdampak pada kinerja ekspor Tiongkok.

 

Sedangkan Tiongkok tidak mau berdiam diri dengan mengenakan tarif impor bagi 128 produk AS.

 

Bursa saham Indonesia pada akhir pekan ini tercatat melemah 0,69 persen ke level 6211. Di tengah pelemahan bursa saham regional, misalnya Nikei yang ditutup melemah 4,51 persen dan Hang Seng yang terkoreksi 2,45 persen, nilai tukar Rupiah pun terimbas mengalami pelemahan. Rupiah pada akhir pekan ini ditutup di level Rp13.782 per Dolar AS atau melemah sekitar 0,22 persen dari pekan sebelumnya atau melemah 1,55 persen dibandingkan dengan akhir tahun lalu. Mengutip informasi kurs referensi Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR), nilai tukar Rupiah pada perdagangan Jum'at (23/3) lalu, ditutup Rp13.780 per Dolar AS.

 

"Potensi pecahnya perang dagang berpotensi mempengaruhi pertumbuhan ekonomi global pada tahun ini. Perdagangan di pasar saham Asia dan Eropa mengalami pelemahan, sehingga turut berpengaruh pada pasar keuangan regional dan nilai tukar di Asia," tutur Josua.

 

Dalam jangka pendek, dia menekankan sentimen perang dagang antara AS dan Tiongkok diperkirakan masih berpengaruh negatif pada pasar keuangan global, termasuk pasar regional Asia. Dampak lanjutannya terus menyasar pergerakan nilai tukar mata uang di kawasan Asia. Adapun ekonom INDEF Bhima Yudistira yang memprediksi Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) bergerak di kisaran 6260-6350 pada pekan depan. Sedikit berbeda dengan Josua, pihaknya optimistis sentimen perang dagang mulai mereda, setelah pekan lalu investor dikejutkan aksi AS yang berencana meningkatkan proteksi terhadap barang dari Tiongkok senilai US$ 50 miliar. Kekhawatiran tersebut mendorong seluruh bursa saham di Asia menjadi anjlok.

 

"Namun, tekanan ini diharapkan temporer. Ketika investor asing mencatat "nett sales" Rp 1,06 triliun pada akhir sesi perdagangan saham Jumat (23/3) lalu, investor domestik justru mencatat "nett buy" Rp 1,1 triliun. Kepercayaan investor domestik terhadap fundamental ekonomi masih jadi "support" utama IHSG," jelas Bhima.

 

Sentimen suku bunga acuan Bank Sentral AS (Fed Fund Rate/FFR), lanjut dia, juga sudah diantisipasi oleh investor. Dengan begitu, tekanan global dari sisi moneter sudah lebih reda. Menyoroti nilai tukar Rupiah, dia memprediksi berada di level Rp 13.740-13.790 per Dolar AS atau sedikit lebih kuat dibandingkan nilai tukar pekan lalu. Menurutnya, Bank Indonesia akan melakukan intervensi jika Rupiah terus melemah yang mana mendekati 13.800. Bank Sentral dalam hal ini akan berada di pasar guna menjaga nilai tukar Rupiah berada di level fundamental.(A-4)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Aries
Berita Lainnya