Headline

Penghematan dari WFH bergantung pada asumsi yang belum tentu terjadi.

Bisnis Bunga Gerakkan Ekonomi di Dieng

29/1/2018 03:00
Bisnis Bunga Gerakkan Ekonomi di Dieng
(Ist)

SEJAK empat tahun lalu, Alief Dayona, 40, bersama partner bisnisnya,

Bambang, menggeluti bisnis bunga, khususnya arum lily (Zantedeschia aethiopica) di pegunungan Dieng, Kabupaten Wonosobo, dengan nama Calla Dieng.

Di lahan seluas 7.000 meter persegi itu, dia menanam bunga lily yang juga disebut calla lily dengan berbagai warna meski bunga lily dominan berwarna putih.

Dalam sepekan, dia sanggup mengirimkan hingga 3.000 batang bunga lily ke berbagai daerah, termasuk Jakarta, Bali, dan Surabaya.

"Paling banyak di September hingga Desember, itu sangat laris. Selebihnya, di bawah itu penjualannya," kata Alief kepada Media Indonesia, belum lama ini.

Setiap pemesanan dilayani sesuai permintaan sehingga memengaruhi harga jual yang berkisar Rp5.000 hingga Rp8.000 per batang.

Ada salah satu toko bunga di Jakarta yang minta kemasan dan perlakuan khusus sehingga harus ditentukan dengan harga khusus pula.

Agar kemasan menarik, pihaknya bekerja sama dengan para perangkai bunga. Menurut Alief, perangkai yang sudah jago paham betul bunga calla lily ini sangat egois.

"Dia ingin selalu terlihat menonjol di antara bunga-bunga lain. Jadi kalau yang merangkai tidak pintar, ya percuma pakai bunga ini," jelasnya.

Untuk melakukan pemeliharaan, Alief mempekerjakan dua orang. Mereka melakukan banyak hal, termasuk membersihkan kebun, melakukan pembibitan, dan mengemas hingga siap kirim.

Khusus untuk bibit, dia tidak lagi membeli, tetapi berhasil mengembangbiakkan umbi dari tanaman sebelumnya.

Alief pun tidak keberatan pecinta bunga sekaligus penggemar traveling berdatangan ke kebunnya.

"Mereka biasa memetik bunga yang sudah mekar, saya jadi terbantu karena bunga yang sudah mekar itu tidak laku dijual dan biasanya kami buang," kata sambil tertawa.

Calla lily bukan satu-satunya bunga yang ditanamnya. Dia juga memiliki hortensia, statice, anemone, serta brasica meski jumlahnya tidak sama banyak.

"Yang ketiga terakhir itu impor. Kami juga mencari bunga yang mudah dikembangkan, tetapi tetap juga harus mencoba menanam bunga yang langka. Sayangnya bunga yang langka, bibitnya sulit dicari," katanya.

Dengan dibantu sang istri, Lia, kini ia terus berjualan secara daring dan promosi melalui media sosial Instagram berakun @calladieng.

Saat ini akun tersebut telah diikuti 26.200 pengguna.

"Bahkan, kami tak segan-segan meng-endorse selebritas Instagram yang membantu menyebarluaskan keberadaan Calla Dieng. Ini sekaligus bisa mendorong kegiatan ekonomi sektor riil di lapangan," tandasnya. (Retno Hemawati/E-3)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Msyaifullah
Berita Lainnya