Headline

Menkeu disebut tidak berwenang mengganti pejabat, terutama untuk eselon I dan II.  

Kemampuan Finansial Inalum Meningkat

Cahya Mulyana
04/12/2017 08:00
Kemampuan Finansial Inalum Meningkat
(KLIK GAMBAR UNTUK RESOLUSI TINGGI)

HOLDING BUMN tambang, PT Indonesia Asahan Alumunium (Inalum), memiliki kemampuan keuangan yang cukup untuk meraih pendanaan guna membiayai berbagai aksi korporasi yang akan dilakukan Inalum sebagai holding dan juga anak usahanya.

Dengan bergabungnya tiga BUMN tambang, yakni PT Aneka Tambang Tbk, PT Bukit Asam Tbk, dan PT Timah Tbk, nilai aset holding meningkat dari Rp21 triliun menjadi Rp88 triliun.

Jumlah ekuitas yang dimilikinya mencapai Rp60 triliun.

Dengan ekuitas sebesar itu, Inalum sebagai holding mampu menyerap utang sebesar tiga kali lipat, yakni Rp180 triliun.

Saat ini perbandingan antara utang dan ekuitas atau modal (debt to equity ratio) Inalum masih sangat rendah, yakni 0,39%.

"Kalau di bank, debt to equity ratio itu 3 kali, bisa pinjam sebanyak Rp180 triliun, " kata Dirut Inalum Budi G Sadikin seusai Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) Antam, PTBA, dan Timah di Jakarta, Kamis (29/11).

Dengan kekuatan uang sebesar itu, holding tambang akan mampu menyerap seluruh saham sisa kewajiban divestasi PT Freeport Indonesia sebesar 41,64%.

Saat ini pemerintah bersama Freeport McMoran sedang menghitung nilai valuasi dari saham Freeport.

Bila mengacu pada perhitungan yang dilakukan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), perlu disiapkan dana US$3,45 miliar, atau setara Rp46,57 triliun, untuk menyerap sisa saham Freeport sebesar 41,64%.

Namun, bila mengacu pada perhitungan CEO Freeport-McMoran Inc, Richard C Adkerson, harga sisa saham Freeport yang akan didivestasi mencapai US$5,41 miliar, atau setara Rp73,08 triliun.

Dua angka nilai divestasi itu masih berada di batas kemampuan Inalum untuk meraih pendanaan perbankan.

Di sisi lain, pendanaan yang dibutuhkan Inalum bisa saja lebih rendah apabila Inalum menggandeng konsorsium untuk melakukan pembelian saham Freeport.

Pembelian saham Freeport oleh Inalum mewakili negara akan menjadi salah satu milestone bagi Inalum.

Hal ini akan memantapkan Inalum bersama anak usaha mereka guna membidik target masuk daftar Fortune 500 pada 2025.

Pada saat masuk daftar Fortune 500, angka pendapatan Inalum ditargetkan mencapai US$22 miliar, atau melonjak 16 kali lipat jika dibandingkan dengan posisi saat ini sebesar US$1,41 miliar.

Di sisi lain, kemampuan Inalum itu juga berdampak positif bagi rencana anak usaha mereka ke depan.

Dalam jangka pendek, akan ada pembangunan pabrik smelter grade alumina dengan kapasitas 2 juta ton per tahun di Mempawah, Kalimantan Barat.

Kemudian mereka membangun pabrik feronikel di Buli, Halmahera Timur, berkapasitas 13.500 ton nikel dalam feronikel per tahun.

Selain itu, mereka pun membangun PLTU di lokasi pabrik penghiliran bahan tambang sampai dengan 1.000 Mw.

Dalam jangka menengah, holding juga akan akan melakukan akuisisi dan eksplorasi wilayah penambangan, eksplorasi dan penghiliran.

Go international

Terkait dengan rencana holding untuk go international, Kepala Bidang Ekonomi Centre for Strategic and International Studies (CSIS), Yose Rizal mengatakan itu perlu mendapat dukungan.

"Dukungan itu perlu diberikan oleh pemerintah dan DPR," ujarnya.

Peneliti Institute for Development of Economics and Finance (Indef), Bhima Yudhistira Adhinegara menilai perlu ada relaksasi setoran dividen bagi Inalum agar mereka semakin mantap melakukan ekspansi.

"Modal yang disetor negara itu asal diawasi oleh DPR bisa mendorong belanja modal Inalum," ujar Yudhistira kepada Media Indonesia, kemarin. (Ant/E-1)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Vicky
Berita Lainnya