Headline

Tanpa kejelasan, DPR bisa ganti hakim yang telah dipilih.

E-Commerce Bisa Jadi Masalah karena 95% Barang masih Diimpor

Jessica Sihite
29/11/2017 18:13
E-Commerce Bisa Jadi Masalah karena 95% Barang masih Diimpor
(ANTARA)

MENKO Kemaritiman Luhut Binsar Pandjaitan menyatakan industri e-commerce tidak sepenuhnya memberikan manfaat bagi Indonesia. Sebab, sebanyak 95% produk perdagangan daring yang beredar di Indonesia merupakan barang impor dan membuat industri dalam negeri kurang berkembang.

Luhut menyebut sebagian besar dari produk yang dijual secara daring diimpor dari Tiongkok. Hanya 5% produk e-commerce yang asli buatan dalam negeri.

"E-commerce tidak hanya memberikan manfaat, tapi juga menciptakan masalah karena 95% produknya masih diimpor dan mayoritas dari Tiongkok," tukas Luhut di Auditorium BPPT, Jakarta, Rabu (29/11).

Hal itu disampaikan Luhut SEusai mendampingi Presiden Joko Widodo dalam pertemuan dengan Wakil Perdana Menteri (PM) Tiongkok Liu Yandong di Istana Merdeka.

Menurut Luhut, meski sektor e-commerce berpeluang besar untuk berkembang di Tanah Air, masalah membanjirnya produk impor asal Tiongkok harus diatasi. Ia menilai harus ada upaya sinergi dan terintegrasi antarsektor untuk meningkatkan produksi dalam negeri.

"Ada sesuatu yang salah di sini. Namun, kita bisa mengubah itu dengan kerja bersama dan terintegrasi," tukasnya.

Selain masalah itu, Luhut membeberkan pertemuan dengan Wakil PM Tiongkok Liu Yandong juga membahas tentang investasi. Negeri Tirai Bambu tersebut akan berinvestasi sebesar US$780 miliar ke berbagai negara dalam lima tahun ke depan. Investasi tersebut ditujukan ke negara-negara yang dilalui megaproyek One Belt One Road (OBOR).

Di Indonesia, Tiongkok sudah membidik proyek-proyek kawasan industri di Kalimantan Utara, Sulawesi Utara, dan Sumatera Utara. Namun, Luhut belum bisa memastikan nilai investasi Tiongkok di tiga daerah tersebut.

Pemerintah Indonesia sudah menawarkan berbagai proyek dengan nilai investasi US$45,98 miliar di Kaltara, US$86,2 miliar di Sumatera Utara, dan US$69,4 miliar di Sulawesi Utara.

"Nilai masih dibahas. Rencana investasi mereka juga tergantung kita bisa memberikan proposal yang baik dengan pembangunan terintegrasi ke mereka," imbuh Luhut. (X-12)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Ahmad Punto
Berita Lainnya