Headline
Penghematan dari WFH bergantung pada asumsi yang belum tentu terjadi.
Penghematan dari WFH bergantung pada asumsi yang belum tentu terjadi.
Kumpulan Berita DPR RI
EXPO perdagangan terbesar Pakistan baru saja berlangsung di Karachi, Pakistan 9-12 November lalu. Sebanyak 1.300 delegasi diundang dari berbagai negara. Indonesia termasuk diantaranya yang diundang sebanyak 70 delegasi.
Acara yang berlangsung selama empat hari ini menyajikan berbagai barang dan jasa, mulai dari kulit, katun, alat bedah, perlengkapan olahraga, dekorasi rumah, perhiasan, hingga produk pertanian seperti buah jeruk dan beras yang menjadi sorotan utama importir dari Indonesia.
Setidaknya pemerintah Pakistan menargetkan untuk mengantongi ebih dari US$1 miliar transaksi. "Ekspor utama dari Pakistan ke Indonesia meliputi kapas, jeruk Kinnow Pakistan, makanan laut, aksesoris dan pakaian, perlengkapan olah raga, tembakau, barang dari kulit, kain katun, tekstil, dan kepingan tembaga," kata Atase Perdagangan Kedutaan Besar Pakistan di Indonesia, Muhammad Usman dalam rilis yang diterima Media Indonesia, Kamis (9/11).
Dari data neraca perdagangan menunjukkan Pakistan - yang sedang mereformasi ekonominya setelah masalah keamanan internal - membukukan defisit perdagangan yang berfluktuasi antara $19 miliar dan $26 miliar dari tahun 2012 sampai 2016. Defisit tersebut turun 22,3 persen menjadi $20,5 miliar pada 2016. Komoditas ekspor utama di negara ini adalah tekstil dan pakaian, kapas, sereal dan kulit.
Sementara Indonesia adalah importir keempat terbesar di Pakistan dengan pangsa pasar 4,4 persen. Indonesia juga merupakan mitra dagang penting Pakistan, perdagangan bilateral antar kedua negara mencapai $2,17 miliar pada tahun 2016. Namun pangsa Pakistan hanya mencapai $156 juta.
Tentunya neraca perdagangan tersebut telah tumbuh sejak tahun 2010, dari $780 juta menjadi $1.142 juta di tahun berikutnya. Kemudian di tahun 2014 melonjak menjadi $2,2 miliar pada tahun 2016. Semua pertumbuhan perdagangan bilateral ini disebabkan oleh peningkatan ekspor Indonesia ke Pakistan yang mencapai $982 juta pada tahun 2007 dan meningkat menjadi $2,17 miliar pada tahun 2016.
Dari sektor pertanian, ada dua barang yang disoroti dalam expo tersebut. Pertama soal jeruk Kinnow Pakistan dan kedua soal beras Basmati yang menjadi komuditas ekspor unggulan karena kualitasnya sangat berguna bagi penderita diabetes dengan kadar gulanya yang rendah.
"Pakistan adalah salah satu eksportir beras Basmati. Kementerian Pertanian Indonesia tidak menerbitkan surat rekomendasi untuk impor beras Basmati dengan alasan melindungi petani beras domestiknya. Penting untuk dicatat bahwa nasi Basmati tidak ditanam di Indonesia dan tidak dikonsumsi oleh penduduk lokal. Warga negara asing mengkonsumsi beras ini. Jika impor beras Basmati diperbolehkan, maka tidak akan berdampak pada petani padi setempat," terang Usman.
Dalam urusan impor jeruk, pemerintah Indonesia perlu selektif dalam mengeluarkan izin impor kepada pedagang yang membeli jeruk Kinnow Pakistan lantaran beberapa perusahaan bukan importir asli melainkan importir nakal yang menjual kuota impor ke perusahaan lain.
Hal tersebut dikemukakan wakil ketua urusan negara-negara Timur Tengah dari Kamar Dagang dan Industri Indonesia (Kadin), Mufti Hamka yang hadir dalam expo tersebut. "Kami mendukung pengusaha importir yang benar-benar mengimpor Kinnow Pakistan," tegasnya.
Di lain waktu, tepatnya 8 Desember 2015 Indonesia telah menandatangani Memorandum of Understanding (MoU) mengenai impor beras dari Pakistan. Pemerintah indonesia akan mengimpir sampai 1 juta metrik ton beras IRRI-6 dari Pakistan tahun 2016 sampai 2019 yang nilainya diperkirakan mencapai $400 juta.
Perjanjian G2G ini akan dilaksanakan oleh Bulog Indonesia dan Trading Corporation of Pakistan (TCP) dari pihak Pakistan. Impor beras akan membantu upaya pemerintah Indonesia untuk menambah stok beras di musim kering, juga untuk membawa keseimbangan perdagangan bilateral antar kedua negara.
Seperti yang diketahui, Indonesia memiliki MoU yang sama dengan Thailand, Vietnam, Kamboja, dan Myanmar untuk impor beras. Walaupun perjanjian ini belum beroperasi karena alasan peningkatan produksi beras di Indonesia serta pendekatan proteksionis Kementerian Pertanian RI, BULOG telah mengunjungi Karachi pada bulan Agustus 2016 untuk menindak lanjuti MoU. (OL-1)
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved