Headline

Publik diminta terus bersikap kritis terhadap tindakan aparat.

Beras Medium Langka, Kemendag Siap Operasi Pasar

Gabriela Jessica Restiana Sihite
04/10/2017 14:17
Beras Medium Langka, Kemendag Siap Operasi Pasar
(ANTARA)

KEMENTERIAN Perdagangan menyatakan siap untuk melakukan operasi pasar (OP) beras. Rencananya, OP akan menggelontorkan 75 ribu ton beras medium secara bertahap.

Direktur Jenderal Perdagangan Dalam Negeri Kementerian Perdagangan Tjahya Widayanti mengungkapkan rencana OP beras dilakukan atas permintaan Pasar Induk Beras Cipinang (PIBC). Pasalnya, jumlah beras jenis medium di pasar yang menyokong kebutuhan beras warga Jakarta tersebut sudah turun drastis.

“Keputusan operasi pasar nanti setelah rakortas (rapat koordinasi terbatas) di Kemenko Perekonomian, tapi kami sudah siap,” ucap Tjahya di Jakarta, Rabu (4/10).

Ia mengaku sudah meminta Perum Bulog untuk bersiap menggelontorkan berasnya. BUMN pangan tersebut juga sudah setuju untuk operasi pasar beras medium.

“Nanti digelontorkan secara bertahap. Mungkin 10 ribu ton atau 5 ribu ton dulu. Yang penting ada operasi pasar dulu karena menurut Pak Arief (Direktur Utama PT Food Tjipinang), beras di PIBC untuk medium sudah berkurang sekali,” tukasnya.

Tjahya mengaku penurunan jumlah beras medium dilakukan oleh para penggilingan padi. Sejak harga eceran tertinggi (HET) beras ditetapkan, penggilingan lebih memilih untuk membuat beras premium daripada medium karena harganya yang lebih tinggi.

“Makanya, kami lagi dalami hal itu. Kita sekarang lagi menunggu hasil sidak ke PIBC. Kalau memang beras medium tidak ada, kami siap operasi pasar,” imbuh Tjahya.

Di kesempatan yang sama, Direktur Utama PT Food Station Tjipinang Jaya Arief Prasetyo membeberkan saat ini stok beras premium mencapai 70% dari total volume beras di PIBC. Per hari ini, stok beras PIBC mencapai 53 ribu ton.

Ia menilai dengan kondisi harga gabah sekitar Rp5.500-Rp6.000 per kilogram (kg), perusahaan penggilingan padi lebih memilih untuk memproduksi beras premium. Beras medium dengan HET Rp9.450 per kg dianggap tidak menguntungkan dengan harga gabah setinggi itu.

“Itu harga gabah di Jawa saat ini, mungkin karena kekeringan atau kena hama wereng. Kalau di Lampung atau Sidrap masih Rp4.600-Rp4.700 per kg. Itu masih masuk kalau produksi jadi medium,” tukasnya.

Karena itu, PIBC pun meminta restu pemerintah untuk mengadakan operasi pasar beras medium. Selain ada permintaan dari pasar tradisional, ritel modern seperti Superindo juga sudah meminta pasokan beras medium. “Kami tinggal menunggu keputusan Pak Mendag, Pak Mentan, dan Pak Menko (Perekonomian),” pungkas Arief. (OL-3)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Soelistijono
Berita Lainnya