Headline
Publik diminta terus bersikap kritis terhadap tindakan aparat.
Publik diminta terus bersikap kritis terhadap tindakan aparat.
Kumpulan Berita DPR RI
PEMERINTAH terus berupaya mencari sumber pembiayaan anggaran pendapatan dan belanja negara (APBN). Salah satu caranya ialah kembali menerbitkan Obligasi Negara Ritel atau Obligasi Ritel Indonesia (ORI) seri ORI014. Penerbitan ORI dengan tingkat kupon 5,75% per tahun ini diproyeksikan dapat meraup penjualan Rp13,4 triliun.
Direktur Jenderal Pengelolaan Pembiayaan dan Risiko Kementerian Keuangan Robert Pakpahan menjelaskan masa penawaran obligasi berlangsung sejak 29 September hingga 19 Oktober 2017. Jenis kupon bersifat tetap (fixed) yang dibayar setiap bulan per tanggal 15 dengan holding period sebanyak dua kali.
Holding period yang dimaksud mencakup dua kali periode pembayaran kupon yang dapat dipindahbukukan pada 15 Desember 2017. Pembayaran kupon dilakukan pertama kali sejak 15 November 2017. Setelah masa holding period berlalu, ORI yang hanya dijual bagi masyarakat noninstitusi, dapat diperdagangkan di pasar sekunder. Batas minimum pemesanan ORI Rp5 juta dan maksimum sebesar Rp3 miliar.
“Penerbitan ORI ini juga memperluas basis investor dengan memberikan kesempatan bagi masyarakat noninstitusi atau korporasi agar dapat membeli surat berharga negara (SBN). Cara belinya sama dengan yang sebelumnya, masyarakat tinggal datang ke agen penjual dan mengikuti prosedur,” ujar Robert dalam seremoni penawaran ORI014 di Gedung BEI, kemarin.
Tren suku bunga
Agen penjualan yang digandeng pemerintah mencakup 18 bank sebagai akun penjualan dan 1 perusahaan efek. Belasan perbankan tersebut di antaranya Citibank, BCA, CIMB, Mandiri, DBS, HSBC dan Panin.
Awalnya, pemerintah menargetkan target penjualan ORI mencapai Rp20 triliun. Namun, berdasarkan kalkulasi agen penjualan dengan memperhitungkan tingkat kupon 5,8%, nilai komitmen penjualan obligasi ini diproyeksi sebesar Rp13,4 triliun.
Robert berpendapat adanya selisih antara target pemerintah dengan estimasi dari agen penjual tidak lepas dari tren penurunan suku bunga. Di satu sisi, selisih tersebut dapat ditutupi dari instrumen pembiayaan lainnya, seperti penerbitan global bond, berikut lelang SBN konvensional, dan syariah. (Tes/E-2)
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved