Headline
Publik diminta terus bersikap kritis terhadap tindakan aparat.
Publik diminta terus bersikap kritis terhadap tindakan aparat.
Kumpulan Berita DPR RI
PARA pedagang di pasar-pasar tradi-sional di beberapa kota tidak keberatan menjual beras sesuai harga eceran tertinggi (HET) yang ditetapkan pemerintah.
Seperti pengakuan Alay, pedagang di Pangkalpinang, Provinsi Kepulauan Bangka Belitung. Pedagang yang berjualan di Pasar Kerabut itu sejak kemarin sudah menjual beras sesuai HET yang ditetapkan pemerintah untuk wilayah tersebut.
“Pedagang menjual beras sesuai HET. Misalkan beras premium Rp13.390 per kg dan beras medium Rp9.990. Jika dibandingkan dengan harga beras di pasaran saat ini, HET lebih menguntungkan,” kata Alay, kemarin (Senin, 25/9).
Kementerian Perdagangan telah menetapkan HET beras yang tertuang dalam Permendag No 57 Tahun 2017. Aturan itu menyebutkan HET beras medium dan premium dibedakan berdasarkan wilayah.
Pengakuan senada juga disampaikan Suwardi, pedagang beras di Pasar Pagi, Kota Cirebon, Jawa Barat. “Kami mengetahui instruksi pemerintah terkait dengan HET beras. Kini, harga beras medium sedikit di atas HET, yaitu beras medium Rp9.500/kg dan premium Rp11 ribu/kg. Pedagang menyesuaikan dengan harga gabah di tingkat petani. Tetapi nanti akan mengikuti HET,” ujar Suwardi.
Menurut Suwardi, pemerintah mengatur HET beras medium dan premium berdasarkan wilayah. Untuk Jawa, Lampung, dan Sumatra Selatan, HET beras medium dipatok Rp9.450/kg dan premium Rp12.800/kg.
Di Kabupaten Indramayu, harga gabah kering giling (GKG) di tingkat petani berkisar Rp5.800-Rp6.000/kg. Harga itu melonjak jika dibandingkan dengan bulan lalu yang masih Rp5.000/kg. Adapun harga gabah ke-ring panen (GKP) Rp4.500-Rp4.800/kg atau lebih tinggi daripada harga pembelian pemerintah, yakni Rp3.700/kg dan untuk GKG sebesar Rp4.600/kg di penggilingan dan Rp4.650/kg di Bulog.
Pedagang di Palangkaraya, Kalteng, juga sepakat mengikuti patokan HET. Namun, saat ini mereka masih bergantung pada harga yang ditetapkan pemasok.
“Kami akan menjual beras sesuai HET. Saat ini harga beras medium dari pemasok Rp9.400-Rp9.700 per kg, sedangkan beras premium Rp12 ribu. Ada beras lokal seharga Rp8.000, tapi jelek kualitasnya,” ungkap Taufik, pedagang beras CV Usaha Baru di Pasar Besar Jl Halmahera, Palangkaraya.
Persiapkan panen
Bulog Divre NTT justru menjual beras di bawah HET. Kepala Bidang Pelayanan Publik Bulog Divre NTT Dominggus Foes mengatakan harga jual beras Rp9.000 per kg. HET yang ditetapkan pemerintah untuk wilayah NTT dan sekitarnya ialah Rp13.300 per kg untuk beras jenis premium dan Rp9.950 untuk beras medium.
Ketua Kontak Tani dan Nelayan Andalan (KTNA) Winarno Tohir menilai para petani tidak menerima tekanan dari pedagang atau pengepul untuk menjual gabah dengan harga rendah seperti yang dikhawatirkan selama ini.
“Harga jual masih bagus. Sekarang rata-rata harga GKP di tingkat petani di Indramayu, Cirebon, dan Jepara sekitar Rp4.600-Rp4.800 per kg. Saya berharap kekeringan tidak berpengaruh terlalu besar,” kata Winarno.
Perum Bulog yang mendapat tugas menyerap gabah dari petani dengan harga Rp3.700 per kg sesuai Inpres No 5/2015 berharap pemerintah lebih serius menghadapi musim panen ke depan.
“Sebelumnya petani susah menjual dengan harga bagus karena tidak memiliki alat pascapanen seperti pengering. Sebaiknya alat itu disiapkan sejak jauh hari,” tandas Winarno. (Pra/SS/PO/JS/RF/AD/TS/LD/Ant/X-3)
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved