Headline
Transparansi data saham bakal diperkuat demi kerek bobot RI.
Kumpulan Berita DPR RI
GUBERNUR Bank Indonesia (BI) memperkirakan pertumbuhan ekonomi Indonesia tahun ini ada di kisaran 5,1%-5,2%. Batas bawah perkiraan tersebut lebih rendah dibanding target pemerintah dalam APBN-P 2017 yang sebesar 5,2%.
"Bank Indonesia memperkirakan pertumbuhan ekonomi 5,1%-5,2%. Dan kalau mencapai 5,2% itu (capaian yang) baik," kata Gubernur BI Agus Martotowardojo saat orasi ilmiah dalam rangka Dies Natalis Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia (UI) di Gedung UI, Depok, Rabu (20/9).
Ekonomi Indonesia di semester pertama tahun ini yang mencapai 5,01% merupakan kinerja yang baik. Sebab, angka itu menempatkan Indonesia di posisi ketiga di antara negara-negara anggota G-20, walaupun masih kalah dibanding Filipina dan Vietnam.
Untuk mencapai pertumbuhan ekonomi yang lebih tinggi, Indonesia harus bisa memanfaatkan momentum pemulihan saat ini. Caranya, melalui reformasi di sektor riil, fiskal, hingga moneter.
Dia juga menargetkan inflasi Indonesia bisa berada di bawah 3,5% pada 2018 mendatang. Saat ini, kata dia, inflasi di Indonesia masih lebih tinggi dibandingkan dengan negara-negara ASEAN lainnya.
"Inflasi Indonesia dalam enam tahun terakhir rata-rata 5,2%. Kalau dibandingkan dengan negara ASEAN lainnya sudah di bawah 3%. Filipina contohnya. Tapi kalau dibandingkan inflasi kita pada 2013 ya lebih baik, karena saat itu mencapai 8,3%,"
BI bersama pemerintah telah sepakat untuk menekan inflasi menjadi 3,5% pada 2018 mendatang dengan mengutamakan kestabilan ekonomi. Dia menyatakan, secara umum kondisi ekonomi nasional membaik. Namun perlu adanya kewaspadaan.
"Secara umum baik. Neraca perdagangan kita surplus US$1,7 miliar. Bulan lalu karena Lebaran, tapi sekarang karena menujukan ekspor baik, komoditi andalan kita membaik seperti kelapa sawit dan batu bara. Tapi mesti waspada siapa tahu harga-harga itu turun. Jangan lengah," tandasnya.
Pola Konsumsi
Daya beli yang ramai digaungkan sedang turun, diralat oleh Dekan Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia (FEB UI) Ari Kuncoro. Menurutnya, daya beli masih kuat, hanya saja polanya bergeser, dari membeli dan memiliki barang-barang, menjadi belanja untuk sebuah kesenangan.
“Berakhirnya masa komoditi boom, disusul dengan akselerasi kelas menengah dengan pola konsumsi mereka yang berusaha mendekati status. Pendapatan ekonomi mengah bawah tidak signifikan. Padahal aspirasi mereka tinggi pada konsumsi. Dengan pilihan yang semakin banyak, masyarakat ini melakukan prioritas,”
Kegiatan impor dia akui memang menurun. Sebab konsumer yang tadinya membeli barang langsung dari toko, beralih ke online dengan pola konsumsi yang mendukung prestisenya.
Pada bulan Juli, saat musim lebaran dan masuk tahun ajaran baru, menurut dia, data perdagangan besar dan eceran membaik . Sebab masyarakat kelas menengah bawah dengan pendapatan yang tidak mapan, sudah mempersiapkan sejak jauh hari untuk pengeluaran di momen-momen besar.
Sehingga, tidak mengherankan bila mereka mengerem konsumsi pada bulan-bulan sebelumnya seperti di triwulan pertama. Kombinasi teknologi gaya hidup telah berubah membuat pengambil kebijakan harus jeli pada tiap celah dengan cermat.
“Ini terlihat dari pertumbuhan penumpang pesawat 13%. Itu menjelaskan mereka tidak beli barang untuk sementara, melainkan membeli sebuah pengalaman dan fokus kepada hal-hal yang bersifat status. Bulan Mei , Juni, Juli, Agustus, masyarakat kita bertemu dengan musim liburan dan hari raya. Di sini, muncul kebiasaan mengajak keluarga liburan. Hal tersebut menyebabkan penjualan ritel pada triwulan awal turun sangat tajam,” tukas Ari Kuncoro. (OL-3)
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved