Headline

Publik diminta terus bersikap kritis terhadap tindakan aparat.

Realisasi Bauran EBT Diklaim Lampaui Target

Cahya Mulyana
20/9/2017 09:57
Realisasi Bauran EBT Diklaim Lampaui Target
()

PEMERINTAH mengklaim realisasi bauran energi pembangkit energi baru terbarukan (EBT) sampai dengan triwulan II mencapai 13,30 megawatt (Mw). Jumlah itu melebihi target yang dicanangkan dalam Anggaran dan Pendapatan Belanja Negara (APBN) 2017 sebesar 11,56 Mw.

Direktur Jenderal Ketenagalistrikan Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Andy Noorsaman Sommeng mengatakan energi panas bumi dan EBT lainnya sudah mencapai 5,23% (target 4,96%) dan bauran energi dari air mencapai 8,07% (target 6,60%).

“Sesuai arahan Presiden, kami juga menggenjot capaian 35 ribu Mw melalui pemaksimalan energi baru terbarukan, beberapa daerah sudah dimaksimalkan potensinya, khususnya pembangkit listrik tenaga bayu (angin),” katanya di Gedung Kementerian ESDM, Jakarta, kemarin.

Terkait dengan progres program 35 ribu Mw, pembangkit yang telah beroperasi secara komersial (commercial operation date/COD), papar Andy, mencapai 1.253 Mw, termasuk MVPP atau pembangkit di kapal sebesar 480 Mw, terdiri dari MVPP Sumut 240 Mw, MVPP Amurang 120 Mw, MVPP Kupang 60 Mw, dan MVPP Ambon 60 Mw.

Dalam kesempatan itu, dia juga memaparkan jumlah desa yang telah teraliri listrik. Hingga Agustus 2017, kata dia, jumlah desa berlistrik sebesar 73.149 desa. Angka itu naik 1.008 desa dari 2016 yang berjumlah 72.141 desa (lihat grafik).

Dia juga menjelaskan pertumbuhan penjualan listrik berdasarkan laporan PT Perusahaan Listrik Negara (PLN) menunjukkan jumlah pelanggan sampai dengan Agustus 2017 sebesar 66.629.357 pelanggan, dengan delta pertumbuhan pelanggan sebesar 5,73%.

Pada kesempatan yang sama, Direktur Perencanaan II PLN Supangkat Iwan Santoso mengatakan perkembangan bauran ener­gi pembangkit EBT dipicu beberapa pembangkit yang sudah mulai beroperasi seperti PLTP Sarulla. Selain itu, PLTA di Sumut dan Sulawesi yang sedang dalam tahap pembangunan. “Kalau bicara renewable, ini progress sekali,” katanya.

Pemakaian turun
Direktur Bisnis Regional PLN Ahmad Rofiq menjelaskan penjualan listrik sampai Agustus hanya mencapai 2,8%. Jumlah itu turun jika dibandingkan dengan periode yang sama tahun sebelumnya.

Menurut dia, berdasarkan survei PLN, penurunan tersebut terjadi pada pelanggan rumah tangga karena mereka sangat sensitif dengan harga, daya beli yang menurun, dan penggunaan peralatan hemat energi seperti lampu LED.

Untuk pelanggan bisnis, penurunan terjadi karena menurunnya konsumsi pelaku bisnis akibat pengurangan pemakaian AC karena menurunnya suhu rata-rata harian, hingga perkembangan e-commerce yang membuat pengunjung pusat bisnis (mal) sepi. “Perilaku konsumen mulai bergeser ke e-commerce. Jadi, ada beberapa shopping center yang mulai sepi dan menyebabkan terjadinya penurunan pemakaian listrik,” ungkapnya. (E-2)

[email protected]



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Vicky
Berita Lainnya