Headline
Publik diminta terus bersikap kritis terhadap tindakan aparat.
Publik diminta terus bersikap kritis terhadap tindakan aparat.
Kumpulan Berita DPR RI
TEKNOLOGI merupakan faktor penentu dalam mendorong pertumbuhan ekonomi yang pada gilirannya dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Teknologi mampu menciptakan efisiensi ekonomi dan meningkatkan daya saing yang lebih tinggi.
Pendapat itu disampaikan Menteri Keuangan Sri Mulyani di hadapan wisudawan Institut Teknologi Del, di Kecamatan Laguboti, Kabupaten Toba Samosir, Sumatra Utara, kemarin.
Dia mencontohkan di sektor perdagangan teknologi telah mendorong perluasan pasar sehingga tidak ada lagi batas oleh ruang maupun waktu antarnegara. Perubahan teknologi, kata Menkeu, menjadi keniscayaan dan akan terus berkembang.
Sejak penemuan mesin uap yang menandai revolusi pertama (akhir abad ke-18) disusul penemuan listrik, dan perkembangan teknologi informasi, revolusi industri bahkan kini telah memasuki tahap keempat. Hal itu antara lain ditandai dengan berkembangnya kecerdasan buatan atau artificial intelligence, robot, teknologi pesawat tanpa awak, mobil tanpa sopir, hingga bioteknologi.
“Pada tahap ini, batas-batas fisik dengan digital dan bidang biologis menjadi makin kabur atau menyatu,” ujarnya.
Munculnya robot dengan kecerdasan buatan, kata Sri Mulyani, berpotensi menggantikan pekerjaan yang selama ini banyak dikerjakan manusia. “Perkembangan teknologi dan inovasi selalu diikuti turunnya sektor dan pelaku yang tidak bisa beradaptasi,” kata dia, seraya menyebut munculnya Uber, Go-Jek, dan Amazon yang telah menimbulkan destruction (penghancuran) model bisnis lama.
Penerapan tekonologi, kata Sri Mulyani, selalu berkaitan dengan isu penyerapan tenaga kerja dan itu dialami semua negara. Karena itu, kata dia, Indonesia perlu menyiapkan hal ini dengan meningkatkan kualitas sumber daya manusia serta meningkatkan inovasi melalui riset dan pengembangan teknologi.
Menurut Menkeu, faktor utama masih rendahnya pemanfaatan teknologi di Indonesia, khususnya di bidang ekonomi, ialah kendala dari sisi suplai, kurangnya kemampuan menghasilkan sumber daya manusia memadai. Namun, kata dia, itu juga pernah dialami Korea Selatan pada 1950-an. “Namun, dengan pembangunan berorientasi ekspor, mereka tak gentar bersaing dengan bangsa lain dan sukses seperti sekarang,’’ ujarnya. (JH/E-2)
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved