Headline

Publik diminta terus bersikap kritis terhadap tindakan aparat.

Optimalkan Pemanfaatan Gas dalam Negeri

MI
08/9/2017 08:39
Optimalkan Pemanfaatan Gas dalam Negeri
(ANTARA/Eric Ireng)

CADANGAN gas bumi dalam negeri dinilai masih mencukupi untuk beberapa waktu ke depan sehingga belum perlu untuk mengimpor gas pada 2019 seperti yang pernah diwacanakan.

"Kalau dilihat dari realisasi hari ini sebenarnya gas kita itu oversupply. Pada 2019 bisa jadi belum diperlukan impor bahkan mundur bisa ke 2023," ujar Head of Marketing and Product Development Division PT Perusahaan Gas Negara (Persero) Tbk (PGN) Adi Munandir dalam diskusi yang bertajuk Efisiensi Gas Industri Tanpa Harus Impor di Bogor, Jawa Barat, kemarin (Kamis, 7/9).

Menurut Adi, selain kecukupan produksi, dinamika demand (permintaan) gas juga agak melambat sehingga belum ada kebutuhan untuk impor. "Konsumsi gas domestik ada perlambatan yang disebabkan aktivitas pergerakan industri yang juga melambat," jelasnya.

Adi mengatakan impor gas perlu dilihat secara utuh, bukan dilihat dari harga gas yang murah saja. Dia mencontohkan penawaran harga dari Singapura yang mencapai US$4 per million metric British thermal unit (MMBTU), "Harga US$4 per MMBTU itu dalam bentuk LNG belum termasuk porses liquidfaction, kemudian ada bea pengiriman dan lain-lain, jadi hitungannya masih lebih mahal daripada harga gas domestik," jelasnya.

Menurut dia, yang perlu dilakukan adalah mengoptimalkan pemanfaatan gas dalam negeri dengam membangun infrastruktur jaringan gas agar semuanya terintegrasi.

"Indonesia belum punya rencana induk soal gas. Itu fungsinya untuk mengintegrasikan perencanaan terkait pemanfatan gas, terutama pengembangan industri, roadmap industri, produksi gas bumi, dan pengembangan infrastruktur. Pengembangan dalam masterplan diintegrasikan dan disinkronisasi waktunya," ungkapnya. (Adi/E-2)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Panji Arimurti
Berita Lainnya