Headline

Publik diminta terus bersikap kritis terhadap tindakan aparat.

Penambahan Subsidi untuk Jaga Daya Beli

MI
18/8/2017 08:52
Penambahan Subsidi untuk Jaga Daya Beli
(Sumber: Kementerian Keuangan/Hnf/L-1)

DALAM postur Rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (RAPBN) 2018, pemerintah mengalokasikan anggaran subsidi sebesar Rp172,4 triliun. Alokasi itu lebih tinggi daripada besaran subsidi dalam APBN Perubahan 2017 sebesar Rp168,8 triliun.

Menkeu Sri Mulyani mengatakan pertimbangan pemerintah menaikkan anggaran subsidi dalam rangka menjaga daya beli masyarakat yang berkontribusi terhadap struktur pertumbuhan ekonomi. Pasalnya, pengelolaan anggaran pemerintah nyatanya berdampak pada pergerakan inflasi yang pada akhirnya memengaruhi daya beli masyarakat

"Kemarin ekonom banyak mengkritisi (anggaran) infrastruktur (terlalu) banyak, bingung juga. Jadi, (kenaikan) subsidi ini untuk mengantisipasi (penurunan) daya beli masyarakat karena evaluasi (ada pengaruh) dari inflasi dan dalam hal ini kemampuan dari anggaran," ujar Sri seusai jumpa pers Nota Keuangan dan RAPBN 2018, Rabu (16/8) malam.

Tahun ini, pemerintah misalnya, masih kata Menkeu Sri Mulyani, memutuskan untuk tidak menaikkan tarif tenaga listrik (TTL) untuk semua golongan sampai 31 Desember serta mempertahankan harga bahan bakar minyak (BBM) dan elpiji 3 kilogram (kg) hingga akhir September.

Ketua Komisi XI DPR Melchias Markus Mekeng mengatakan penaikan itu bisa menjaga daya beli masyarakat kelompok 40% terbawah di tengah kenaikan biaya yang timbul.

"Kalau untuk mempertahankan daya beli masyarakat supaya tidak anjlok, kita (Komisi XI) setuju," ujar Mekeng seusai sidang tahunan di kompleks Senayan Jakarta.

Penaikan angka subsidi itu pula, menurut Mekeng, bisa untuk menekan angka ketimpangan yang ditargetkan menjadi 0,38 pada 2018.

Terkait target pertumbuhan ekonomi pada RAPBN 2018 sebesar 5,4% yang lebih besar 0,2% dari target pada APBNP 2017 sebesar 5,2%, menurut Mekeng, angka itu realistis.

Anggota Komisi XI DPR Misbakhun menilai target pertumbuhan ekonomi pada RAPBN 2018 sebesar 5,4% mencerminkan pemerintah sangat berhati-hati. Padahal, menurut dia, pemerintah bisa lebih progresif lagi. "Sebenarnya ada hal yang ingin dihemat pemerintah," kata dia.(Tes/Nyu/X-6)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Panji Arimurti
Berita Lainnya