Headline

Penghematan dari WFH bergantung pada asumsi yang belum tentu terjadi.

Inovasi Tambak Garam Antigagal Panen

YK/Riz/M-3
06/8/2017 05:59
Inovasi Tambak Garam Antigagal Panen
(Seorang petani memanen garam di tambak miliknya di Kawasan Penggaraman Talise Palu, Sulawesi Tengah. -- ANTARA FOTO/Mohamad Hamzah)

BELASAN bangunan berbentuk prisma berjajar di pesisir Desa Sedayulawas, Keca­mat­an Brondong, Kabupaten Lamongan, Jawa Timur. Di dalam bangunan terdapat kolam-kolam dengan limpahan butiran putih yang kini sedang jadi pembicaraan se-Tanah Air. Itulah garam yang siap panen.

Melihat tambak tersebut, isu kelangkaan garam jadi terasa aneh. Terlebih jika menilik jejak produksi tambak ini yang tidak mengenal istilah gagal panen walau di musim penghujan. Sebuah anomali jika dibandingkan dengan tambak garam umumnya.

“Biasanya musim hujan lebih sedikit produksinya, tapi dengan rumah prisma tidak sampai gagal panen,” tutur Arifin Jamian di tambak garam miliknya itu kepada Media Indonesia, Jumat (4/8).

Tidak hanya mampu mengatasi kendala cuaca, Arifin juga mampu mendobrak angka produksi garam. Jika tambak garam tradisional per tahunnya hanya memproduksi 70 ton garam/ hektare (ha) dan tambak dengan teknologi ulur filter (TUF) memproduksi 120-125 ton/ha, produksi di tambak Arifin mencapai 400 ton/ha.
Pria yang dahulu menekuni dunia sastra dan telah menulis banyak buku itu dengan terbuka berbagi rahasianya.

“Petani sekarang harus punya bungker agar bisa terus produksi,” kata pria 52 tahun itu menyebut kolam-kolam air yang dinaungi bangunan prisma plastik.
Meskipun disebut bungker, 11 kolam air itu tetap berada di atas tanah. Dengan bungker itu, Arifin dapat menyimpan air laut sejak tahun sebelumnya. Melalui pro-ses itulah bahan baku pembuatan garam terus tersedia dan panen tetap berjalan walaupun hujan.

Inovasi yang dibuat Arifin sejak 2014 nyatanya serupa dengan solusi yang kini ditawarkan Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BBPT), yakni dengan waduk penampungan air laut.

Konsepnya serupa pula dengan yang dilakukan negara-negara pengekspor garam, seperti Australia. Panen garam yang mereka lakukan tiap beberapa hari sekali sesungguhnya diawali dengan proses penjenuhan air hingga tahunan. Dengan begitu, tidak ada lagi alasan kendala cuaca. (YK/Riz/M-3)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Berita Lainnya
Opini
Kolom Pakar
BenihBaik