Headline
Publik diminta terus bersikap kritis terhadap tindakan aparat.
Publik diminta terus bersikap kritis terhadap tindakan aparat.
Kumpulan Berita DPR RI
MENTERI Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Ignasius Jonan mengatakan selain mempertahankan tarif dasar listrik (TDL) tidak naik dari Juli hingga akhir 2017, pemerintah juga mendorong agar TDL dapat turun seiring waktu.
Dorongan itu seiring dengan perintah Presiden Jokowi yang menyebut tarif listrik yang semakin murah bisa ikut meningkatkan posisi daya saing Indonesia. Target penurunan tersebut tidak hanya untuk industri tapi juga bagi pelanggar rumah tangga.
"Jadi kalau tarif listrik bisa lebih terjangkau maka untuk semua industri bisa makin efisien," ujar Jonan di Kementerian ESDM Jakarta, kemarin.
Untuk industri, Jonan menargetkan tarif listrik yang saat ini Rp1.100/kwh bisa turun hingga Rp800-Rp900/kwh pada 2020 mendatang. Adapun untuk rumah tangga dari saat ini Rp1.467/kwh ditargetkan pada tahun 2019 bisa turun sebesar 5% atau menyentuh angka Rp1,393/kwh.
"Harapan kami paling tidak sampai 2019, dalam dua tahun ke depan turun pelan-pelan misal 5%," ucapnya.
Jonan pun berharap agar ke depan tarif listrik Indonesia bisa menjadi yang termurah di kawasan ASEAN. Saat ini menurutnya tarif listrik di Indonesia masih cukup kompetitif dan lebih murah jika dibanding negara-negara ASEAN lainnya. Seperti Filipina yang Rp2.300/kwh, Singapura Rp2.100/kwh, dan Thailand Rp1.571/kwh.
Jonan mengakui untuk menurunkan tarif listrik akan menghadapi tantangan besar. Karena itu ia berkomitmen tarif bisa turun dengan cara efisiensi. Cara-cara efisiensi yang akan dilakukannya yakni tarif listrik yang ditawarkan perusahaan power plant harus sangat efisien.
Untuk melakukannya Kementerian ESDM dan PLN akan mereview semua investasi yang ada. Selain itu juga efisensi biaya material utama untuk maintenance, transmisi, dan distribusi. Jonan menyebut biaya material utama harus efisien karena memakan biaya hingga Rp30-40 triliun per tahun.
Keyakinan tarif listrik bisa turun itu juga didukung energi primer seperti harga minyak mentah dunia (ICP) yang trennya menurun. Dari April, tercatat harga turun dari US$49,56/barel menjadi US$47,09/barel pada Mei dan turun kembali menjadi US$43,66/barel pada Juni.
Selain itu turbin gas yang baru saat ini menurutnya bisa menekan konsumsi gas, juga komsumsi batubara pada boiler untuk PLTU kini jauh lebih rendah. "Kita udah minta kalau bisa penggunaanya di bawah 500 gram batubara per kwh, kalau boiler lama bisa sampai 700-750 gram batubara/kwh," pungkasnya. (X-12)
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved