Headline
Penghematan dari WFH bergantung pada asumsi yang belum tentu terjadi.
Penghematan dari WFH bergantung pada asumsi yang belum tentu terjadi.
Kumpulan Berita DPR RI
INDUSTRI penggilingan padi di Tanah Air dinilai belum efisien.
Imbasnya harga beras Indonesia lebih mahal jika dibandingkan dengan negara-negara tetangga yang menjadi sentra produksi seperti Thailand, Myanmar, dan Vietnam.
Berdasarkan data Food and Agriculture Organization (FAO), rata-rata harga beras di dalam negeri mencapai US$0,79 per kilogram (kg), jauh di bawah Thailand, US$0,33 per kg; Vietnam, US$0,31 per kg; dan Myanmar US$0,28 per kg.
Menurut pengamat pertanian Khudori, skala penggilingan di Indonesia rata-rata kecil.
Hal itu membuat kualitas beras kurang optimal sehingga hasil beras kurang berkualitas dan menggerus pendapatan petani padi.
"Kalau ditarik dari ujung, biaya produksi seperti lahan, tenaga kerja, dan pupuk itu memang mahal. Tetapi penggilingan padi juga memiliki peran. Bukan semata-mata biaya produksi on farm tinggi," ujar Khudori kepada Media Indonesia, Jumat (30/6).
Senada, Ketua Umum Persatuan Penggilingan Padi dan Pengusaha Beras Indonesia (Perpadi) Soetarto Alimoesa membenarkan pernyataan tersebut.
Namun, ia menegaskan peran penggilingan yang dimaksud bukanlah ulah para pengusaha industri penggilingan yang seenaknya menaikkan harga, melainkan karena kurangnya efisiensi kinerja.
Lain dari itu, minimnya pengering juga diamini Soetarto.
"Yang memiliki fasilitas pengering itu hanya industri penggilingan besar. Yang kecil sulit mendapatkan karena biayanya yang mahal sementara mereka sulit mendapatkan kredit."
Di situlah, menurutnya, peran pemerintah masih sangat kecil dalam menopang industri penggilingan padi kecil.
"Penggilingan kecil tidak memiliki kesempatan karena pasarnya tidak kontinu. Di sini seharusnya Perum Bulog harus bisa menyerap dengan maksimal."
Terkait dengan bantuan mesin penggiling atau pengering yang diberikan pemerintah, menurut dia, bantuan tersebut tidak tepat sasaran.
Pasalnya bantuan diberikan kepada para petani yang notabene pelaku industri agri di hulu.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved