Headline

Polisi harus usut tuntas hingga ke aktor intelektualnya.

Toleransi Beragama Pelajar SMA Positif

Syarief Oebaidillah
24/5/2016 20:32
Toleransi Beragama Pelajar SMA Positif
(Ilustrasi)

HASIL survei lembaga riset Setara Institute menunjukan mayoritas pelajar SMA Negeri di Jakarta dan Bandung dalam pemahaman toleransi menunjukan hasil positif. Pasalnya, dari 760 siswa yang menjadi responden terdapat 61,6 persen memiliki sikap toleran yang baik.

"Ada sejumlah pertanyaan kunci yang kami kalkulasi dan beri skor hasilnya menunjukkan 61,6 persen siswa kita memunya sikap toleran.Artinya kita memunyai modal sosial yang baik dalam kehidupan keagamaan dan keberagaman ke depan," kata Direktur Riset Setara Institute, Ismail Hasani pada konferensi pers di Jakarta, Selasa (24/5).

Ia menjelaskan laporan survei Toleransi Siswa SMA Negeri yang dilakukan sejak 4-18 April 2016 pada 171 sekolah di Jakarta dan Bandung. Selebihnya,kata Ismail sebanyak 35,7 persen siswa bersikap intoleran pasif dan 2,4 persen intoleran aktif atau radikal dan 0,3 persen berpotensi menjadi teroris.

Terhadap siswa yang berpotensi menjadi teroris,peneliti Setara , Aminuddin menyatakan perlu didalami lebih lanjut. "Mereka hanya ada tiga siswa karena mendukung ISIS dan terorisme namun mesti didalami lagi," ujar Aminuddin.

Ismail menambahkan pada aspek dimensi toleransi sosial keagamaan yang terbilang positif dalam aspek fundamental siswa umumnya menolak organisasi keagamaan tertentu yang hendak menggantikan Pancasila dengan dasar negara lain sebanyak 81 persen dan 79,47 persen menolak penggunaan kekerasan dalam memperjuangkan keyakinannya dan 74,47 persen menolak mengkafirkan kelompok lain serta menolak mereka yang melakukan pelarangan pendirian rumah ibadah sebanyak 85,26 persen.

Bagi praktisi pendidikan Retno Listyarti sikap toleransi siswa yang positif itu patut disyukuri. "Ini patut kita syukuri ,penelitian ini memberi harapan baru untuk Indonesia yang lebih baik dengan menerima perbedaan apalagi Jakarta barometer Indonesia," cetusnya.

Namun ia mengingatkan pentingnya sikap toleransi para guru dicermati karena peran guru amat vital dalam pendidikan toleransi ke depan.

"Jadi ada baiknya disurvei sikap toleransi para guru kita.Karena saya pernah menemukan ada guru agama yang tidak mau menyanyikan lagu kebangsaan Indonesia Raya. Nah,ini pasti ada dampak bagi siswa sebab guru berperan penting memperkuat nilai kebangsaan," ungkap Retno yang juga guru PKN di SMAN 13 Jakarta.

Aktivis guru lainnya, Iwan Hermawan menilai saat ini sekolah lebih banyak berperan mengajar ketimbang mendidik."Jadi ini masih menjadi pekerjaan rumah kita bahwa pendidikan ber toleransi bukan hanya tuga guru agama dan guru PKN juga guru mata pelajaran lainnya,"cetus guru SMAN di Bandung itu. (OL-2)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Widhoroso
Berita Lainnya