Sabtu 21 Januari 2023, 08:10 WIB

Dokumentasi Perdana Kebaya Nusantara

Pro/M-2 | Weekend
Dokumentasi Perdana Kebaya Nusantara

Dok. Perhimpunan Kebayaku
Cover buku Kebaya Perempuan Indonesia.

 

KEBAYA tengah banyak dibincangkan dalam setidaknya setahun terakhir. Banyak orang resah setelah mengetahui tiga negara tetangga, Singapura, Malaysia, dan Brunei Darussalam, bersama-sama mendaftarkan kebaya sebagai warisan budaya dunia tak benda ke UNESCO.

Sejak berita tersebut bermunculan, kesadaran untuk lebih sering menggunakan kebaya juga ikut merebak. Berbagai kalangan mulai rajin menggunakan ragam jenis dan variasi kebaya di berbagai kegiatan. Namun, itu saja dinilai belum cukup. Indonesia dinilai perlu memiliki dokumentasi dan katalog kebaya sebagai wujud upaya pelestariannya.

Berangkat dari semangat pelestarian kebaya secara komprehensif itu, sekelompok perempuan dari Perhimpunan Kebayaku menginisiasi penerbitan buku berjudul Kebaya Perempuan Indonesia. Tak hanya oleh para anggota Perhimpunan Kebayaku, di antaranya Nunun Daradjatun dan Sendy Dede Yusuf, penyusunan buku tersebut juga melibatkan desainer senior, Musa Widyatmodjo.

"Buku ini jadi sangat penting karena kadang kita lihat yang memakai kebaya sebenarnya banyak, tetapi kita belum punya buku yang komprehensif sebagai referensi kebaya-kebaya yang ada di Indonesia," ujar Musa dalam peluncuran buku Kebaya Perempuan Indonesia di kawasan Kuningan, Jakarta, Selasa (17/1).

Musa menjelaskan, jika ingin mengajukan dan menguatkan posisi kebaya sebagai salah satu warisan budaya Indonesia, dokumentasi yang lengkap dan informatif tentu sangat dibutuhkan. Dengan begitu, pengenalan kebaya di Nusantara bisa lebih mudah dilakukan secara lebih luas.

"Lewat buku ini sekaligus menginformasikan tentang kategori-kategori kebaya di Indonesia yang mungkin belum banyak orang Indonesia sendiri tahu," ujar Musa.

Secara umum, buku Kebaya Perempuan Indonesia berisi sebanyak 112 foto perempuan Indonesia mengenakan kebaya. Kebaya yang ditampilkan beragam, berasal dari seluruh penjuru Tanah Air. Mulai dari kebaya klasik atau yang sesuai pakem, kebaya panjang, hingga kebaya kreasi atau kebaya modern.

Buku dibuka dengan penjelasan singkat tentang kebaya. Asal, makna, hingga berbagai ciri khas desain dan bahan yang biasa digunakan. Pengantar tersebut dibuat dengan gaya bahasa dan penjabaran yang ringan, lebih berfokus pada penjelasan kebaya secara umum kepada masyarakat awam dan tak terlalu menonjolkan penjelasan soal sejarahnya.

‘Kebaya bukan hanya sehelai kain yang dipotong dan kemudian dijahit untuk sebuah penampilan. Lebih dari itu, kebaya adalah kisah yang bertutur tanpa kata tentang keindahan budaya di sebuah negara kepulauan yang bertakhta di garis khatulistiwa’ (hlm 18).

Di pengantar tersebut dijelaskan mengenai kebaya yang bisa dibuat dari berbagai kombinasi bahan, seperti beludru, sutra, hingga tenun. Dijabarkan pula beberapa hal yang menjadi syarat sebuah desain dapat dikategorikan sebagai kebaya.

Selanjutnya buku terbagi atas enam bagian utama yang membahas kategori kebaya berbeda. Keenam bagian tersebut membahas kebaya klasik, kebaya sunda, kebaya peranakan, kebaya panjang, kebaya modern atau modifikasi, dan kebaya kreasi.

Di setiap bab terdapat puluhan foto yang merupakan contoh dari kategori kebaya tersebut dengan berbagai variasinya. Dengan begitu, pembaca tak hanya akan disuguhi penjabaran ciri setiap kategori kebaya, tetapi juga dapat melihat langsung contohnya dari foto yang ditampilkan.

Musa menjelaskan, pemisahan kategori kebaya di buku ini dilakukan untuk memudahkan pembaca melihat perbedaan yang ada dari setiap jenis kebaya. Terutama agar bisa membedakan ciri khas kebaya klasik yang sesuai pakem dengan yang telah melalui modifikasi.

Bagian berjudul ‘Kebaya Klasik’ membuka bab yang berisi kategori kebaya lainnya. Di bab ini dijelaskan kebaya klasik adalah kebaya yang menerapkan pakem atau aturan baku, layaknya kebaya yang dikenal sebagai busana nasional perempuan Indonesia. Kebaya pakem adalah kebaya yang digunakan untuk menghadiri acara resmi seperti upacara adat dan acara resmi kenegaraan.

‘Model kebaya yang masuk ke dalam kategori klasik adalah kebaya kartini dan kebaya kutu baru atau bef. Potongannya selalu simetris antara sisi kiri dan sisi kanan dengan material kebaya yang variatif’ (hlm 21).

Kebaya sunda, peranakan, dan kebaya panjang juga dijelaskan dengan singkat tapi mendetail di babnya masing-masing. Penjelasan juga diberikan tentang pengaruh-pengaruh budaya lain terhadap kebaya-kebaya tersebut, khususnya kebaya peranakan.

Di bagian akhir, pada judul ‘Kebaya Modern/Modifikasi dan Kebaya Kreasi’, dihadirkan bab yang membahas kebaya kekinian. Sekilas dari namanya, keduanya seakan memiliki kesamaan, yakni kebaya dengan desain yang lebih kekinian dan kontemporer. Namun, sesungguhnya terdapat perbedaan dari dua kategori kebaya tersebut.

Kebaya modern disebutkan sebagai kebaya dengan variasi desain kekinian di berbagai aspek, tetapi masih berakar dari jenis kebaya tradisional. Kebaya ini merupakan pengembangan atau modifikasi dari kebaya klasik atau kebaya kurung dan peranakan.

‘Karena melibatkan kreativitas, kebaya ini juga tampil lebih beragam dan kadang mendobrak pakem yang selama ini mempertahankan karakter kebaya yang sebenarnya’ (hlm 79).

Adapun kebaya kreasi merupakan bentuk kebaya modern yang telah melalui lebih banyak modifikasi. Karena itu, banyak yang menganggap kebaya jenis ini sudah sama sekali tak memiliki muatan atau pakem dari kebaya.

‘Sebab faktanya kebaya ini memiliki unsur fashion yang sangat dominan, yang memberi keleluasaan kepada perancang maupun perempuan yang memakainya untuk memainkan dan memadupadankannya dalam berbagai gaya atraktif’ (hlm 107).

Kebaya kreasi banyak ditemukan digunakan oleh kalangan muda, khususnya dalam kegiatan yang lebih santai atau untuk digunakan sebagai fesyen harian. Mereka juga biasa memadukannya dengan aksesori yang lebih modern dan lintas genre.

Digarap selama satu tahun, buku ini disebut dapat menjadi awal dari upaya pendokumentasian kebaya di Nusantara secara masif dan mendetail. Dengan demikian, perjalanan kebaya di Indonesia dapat terekam secara lebih lengkap.

Buku ini dapat menjadi referensi tak hanya bagi pencinta kebaya, tetapi juga sebagai sumber rujukan edukasi, pelestarian budaya, hingga sebagai sumber inspirasi setiap orang yang ingin berbisnis kebaya. (Pro/M-2)

 

Biobuku

 

Judul: Kebaya Perempuan Indonesia

Penyusun: Perhimpunan Kebayaku

Penerbit: Perhimpunan Kebayaku

Tahun: 2023

Baca Juga

123RF

Coba Empat Olahraga Ini Untuk Kesehatan Jantung

👤Nike Amelia Sari 🕔Sabtu 28 Januari 2023, 11:55 WIB
Meski begitu, olahraga terbaik adalah olahraga yang Anda sukai agar dapat menjalakannya dengan semangat dan...
MI/Devi Harahap

Sembilan Galeri Helat Pameran Seni Rupa The Big Picture di Mal Jakarta

👤Devi Harahap 🕔Sabtu 28 Januari 2023, 10:05 WIB
Tahun ini, pameran sengaja diadakan Asosiasi Galeri Seni Indonesia di mal Astha District 8 agar semakin mudah diakses oleh masyarakat...
MI/Fathurrozak

Segudang Wajah Para Penantang Masa Depan untuk Perkaya Sejarah Sinema Indonesia

👤Fathurrozak 🕔Sabtu 28 Januari 2023, 08:10 WIB
Film dokumenter Segudang Wajah Para Penantang Masa Depan menjadi salah satu film Indonesia yang diputar di International Film Festival...

E-Paper Media Indonesia

Baca E-Paper

Berita Terkini

Selengkapnya

Top Tags

BenihBaik.com

Selengkapnya

MG News

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya