Minggu 15 Februari 2015, 00:00 WIB

Kisah para Penjinak Api

MI | Weekend
Kisah para Penjinak Api

MI/ARIES MUNANDAR
Relawan dari Badan Pemadam Api Siantan (BPAS) memeriksa dan memindahkan mesin pompa air.

 

BERMODALKAN dua unit mesin pompa air bekas, Than Khie Ho bersama beberapa rekannya mendirikan Badan Pemadam Api Siantan (BPAS) pada 1949. Kedua mesin buatan Jerman itu dibeli seharga Rp20 ribu dari urunan warga. Peralatan itu ditempatkan di kedua posko mereka di Kelurahan Siantan Hulu dan Siantan Tengah.

BPAS tercatat sebagai pemadam kebakaran swasta pertama dan tertua di Kota Pontianak, Kalbar. Mereka kini memiliki empat posko dengan sekitar 200 personel. Pemadam yang genap berusia 66 tahun pada 13 Februari lalu telah malang-melintang hingga ke luar Pontianak untuk menjinakkan amukan api.

''BPAS semula kepanjangan dari Badan Pemadam Kebakaran Api Seberang karena berada di seberang (Pontianak Utara),'' kata Ketua BPAS Chin Bhu Jung kepada Media Indonesia, pekan lalu.

Pendirian BPAS berangkat dari keprihatinan para tokoh masyarakat terhadap daerah mereka yang rawan kebakaran. Setidaknya ada dua kali kebakaran besar yang melanda kawasan Siantan saat itu. Di antaranya, kebakaran di gudang dan rumah pengasapan karet milik NV Djung Nyan Sung pada 1947. Kobaran api merembet ke permukiman sehingga nyaris menghanguskan seluruh Parit Pekong, perkampungan di pinggiran Sungai Kapuas.

Warga di Kecamatan Pontianak Utara dan Pontianak Timur kala itu tak bisa berharap banyak dengan pasukan pemadam dari pemerintah.

''Saat itu belum ada jembatan (Kapuas dan Landak) jadi harus menyeberang sungai. Lama kalau menunggu mereka,'' jelas mantan Ketua BPAS Ateng Tanjaya.

Kiprah BPAS menginspirasi para pegiat sosial dan kemasyarakatan di Pontianak. Organisasi serupa pun bermunculan tahun kemudian. Saat ini ada 23 pemadam swasta di Pontianak. Mereka berdiri dan bertahan dengan prinsip kesukarelawanan. Petugas dan pengurusnya tidak bergaji, bahkan banyak tidak berasuransi. (AR/M-2)

Baca Juga

dok: Buku Mojok

Cara Bijak Menjalani Patah Hati

👤Fathurrozak 🕔Rabu 10 Agustus 2022, 09:00 WIB
Patah hati sampai saat ini secara umum masih dianggap sebagai hal yang trivial dan terkesan...
unsplash.com/Manki Kim

Sejarah Yamamotoyama, Salah Satu Perusahaan Teh Tertua dan Terkaya di Jepang

👤Devi Harahap 🕔Rabu 10 Agustus 2022, 08:14 WIB
Hingga saat ini, merek Yamamotoyama masih tetap mempertahankan eksistensinya di usia yang sudah menginjak lebih dari 300...
unsplash.com/Franki Chamaki

Studi Ungkap Dampak Lingkungan dari 57.000 Produk yang Dijual di Supermarket

👤Devi Harahap 🕔Rabu 10 Agustus 2022, 08:02 WIB
Kebaruan dari laporan tersebut terletak pada analisisnya yang berkaitan dengan produk kemasan terdiri dari beberapa bahan, seperti saus,...

E-Paper Media Indonesia

Baca E-Paper

Berita Terkini

Selengkapnya

BenihBaik.com

Selengkapnya

MG News

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya