Sabtu 22 Januari 2022, 07:30 WIB

Kisah Cinta Tragis Ramallah-Tel Aviv

Putri Rosmalia | Weekend
Kisah Cinta Tragis Ramallah-Tel Aviv

Dok. Penerbit Baca
Cover buku All the Rivers

 

KISAH cinta sepasang kekasih yang tak berakhir bahagia mungkin sudah tak aneh dan lazim ditemukan dalam sebuah novel. Namun, kisah cinta Liat dan Hilmi dalam All the Rivers ini bukan sekadar kisah cinta berakhir pilu yang tak membekas.

Jika banyak menganggap kisah cinta Romeo dan Juliet menyedihkan, kisah Liat dan Hilmi dalam novel karya Dorit Rabinyan itu akan membuat kisah Romeo dan Juliet terkesan biasa saja. Kisah cinta yang manis dan tulus, tetapi kompleks. Kompleksitas yang sesungguhnya bukan berasal dari dalam hubungan mereka, melainkan dari hasil intrik politik global yang tak berkesudahan.

Perjalanan cinta Liat dan Hilmi penuh dengan pergolakan batin, pertentangan ideologi, hingga ketakutan-ketakutan akan penerimaan dan penilaian lingkungan asal masing-masing. Bagaimana tidak, mereka berasal dari dua negara dengan sejarah panjang dan masih juga bersitegang hingga saat ini, Israel dan Palestina.

Novel All the Rivers pertama kali diterbitkan di Israel pada 2014. Novel itu menjadi sangat populer di Israel karena mengangkat tema yang sensitif dan menyertakan pandangan politik serta ideologi yang kritis dari sang penulis.

Secara garis besar, All the Rivers menceritakan tentang perjalanan hidup tokoh Liat yang tak sengaja bertemu belahan jiwanya, Hilmi. Mereka bertemu ketika tengah merantau di New York. Mereka pertama kali bertemu secara tak sengaja di sebuah kafe dan kemudian menjalin hubungan percintaan.

Liat diceritakan merupakan seorang mahasiswa pascasarjana yang menerima beasiswa untuk menempuh studi tentang sastra. Ia merupakan seorang pemudi Yahudi asal Tel Aviv, Israel, dengan latar belakang keluarga mapan dan sangat anti dengan Palestina.

Sementara itu, Hilmi ialah seorang pemuda asal Ramallah, Palestina, yang telah menetap selama empat tahun di AS. Ia berprofesi sebagai pelukis dan merupakan seorang muslim. Ia tumbuh di lingkungan yang juga sangat memegang ideologi mereka dan mengutuk langkah-langkah politik pemerintah Israel pada bangsanya.

Mereka saling jatuh cinta dan menjalani hubungan sebagai sepasang kekasih di kota New York. Sebagai perantau, mereka dapat dengan bebas menjalin hubungan sebagai kekasih meski dengan perbedaan besar yang ada.

Meski awalnya yakin perbedaan ideologi, agama, dan latar belakang tak akan memengaruhi hubungan mereka, ternyata hubungan keduanya tetap berjalan sangat pelik. Ragam pandangan sinis, pertentangan, dan pergolakan batin mereka rasakan hampir setiap saat.

Setelah melalui cobaan yang tak mudah, Liat dan Hilmi pada akhirnya tetap bersama. Cinta mereka mengalahkan jurang besar yang ada di antara mereka.

Namun, perjalanan cinta mereka harus menemui akhir yang pilu ketika keduanya memutuskan kembali sejenak ke kampung halaman masing-masing. Sebuah peristiwa pilu dan tragis menimpa keduanya dan membuat kisah harus berakhir tak bahagia.

Dalam sebuah diskusi virtual yang digelar Penerbit Baca, pada 1 Januari lalu, sang penulis Dorit Rabinyan menyatakan pada dasarnya All the Rivers ialah sebuah novel cinta. Meski dibalut dengan narasi tentang sejarah konflik Israel dan Palestina yang tak sederhana, pada intinya ini merupakan novel kisah cinta yang hangat dari tokoh Liat dan Hilmi.

“Ini merupakan kisah cinta yang saya sangat berusaha keras membangun atmosfer intimasi kedua tokoh meski berbalut narasi historis dua negara,” ujar Dorit.

Novel setebal 378 halaman itu dihadirkan dari sudut pandang Liat sebagai orang pertama tokoh utama. Secara umum, isi novel berlatarkan kehidupan di New York pada awal tahun 2000-an. Namun, pada bagian akhir juga dihadirkan latar perkotaan modern Kota Tel Aviv di era yang sama.

Menariknya, meski merupakan seorang warga asli Israel, Dorit tetap berhasil menyajikan kisah dan pandangan dari dua sisi yang berbeda. Melalui sosok Liat, ia berhasil menyuarakan pandangan dan pendapat yang umum pada pemuda-pemuda Israel tentang apa yang terjadi antara negaranya dengan Palestina.

Sebaliknya, melalui sosok Hilmi, ia juga menghadirkan pandangan kritis dan kekhawatiran yang pasti dirasakan semua pemuda Palestina. Kekhawatiran akan keselamatan saudara sebangsanya yang kerap dengan mudahnya gugur ketika melawan tentara Israel.

Meski diceritakan sebagai sepasang kekasih yang saling mencintai dengan tulus, penulis tetap tak melewatkan hal relevan yang pasti terjadi ketika dua pemuda asal Israel dan Palestina bertemu. Liat dan Hilmi kerap saling mempertanyakan ideologi masing-masing serta membahas keputusan politik hingga aspek historis negara mereka.

Tak jarang keduanya harus saling bersitegang akibat membahas hal-hal tersebut. Hal itu juga bahkan beberapa kali sempat membuat hubungan mereka merenggang karena meragukan ketulusan satu sama lain.

“Tahu tidak? Aku juga tidak akan meminta maaf karena berada di pihak yang kuat dalam konflik ini! Tidak, karena seandainya situasi berbalik, amit-amit, seandainya pada tahun 48 kalian memenangi perang.” (Liat, halaman 88)

Meski begitu, keduanya juga menyadari bahwa mereka hanya sebatas bagian dari konflik yang tak berkesudahan. Perdebatan tak ada akhir antara keduanya tak akan membuat hubungan kedua negara membaik dan hubungan mereka bisa melenggang dengan lebih mulus.

“Saat aku terus meracau dengan suara yang begitu yakin akan kebenarannya, meluncur bebas dengan semburan kata-kata yang melonjak di dalam diriku, rasa muak memenuhi diriku. Seluruh pertengkaran ini terdengar sia-sia dan berlebihan, seperti ocehan membosankan dalam pembicaraan radio,” halaman 88.

Cobaan bagi Liat dan Hilmi bukan hanya datang dari dalam diri mereka sendiri, melainkan juga dari lingkungan asal keduanya. Dengan latar belakang yang saling bertentangan, keluarga dan sahabat Liat serta Hilmi juga kerap mempertanyakan hubungan keduanya.

Pikiran Liat kerap kalut ketika tengah berkumpul dengan komunitas Yahudi di New York dan mereka membahas mengenai Palestina yang dianggap tak pernah jera menganggu Israel. Begitupun dengan Hilmi yang kerap goyah ketika keluarga dan sahabat-sahabatnya tengah membahas mengenai kekejaman Israel pada saudara sebangsa dan segamanya.

“Melodrama mengerikan ini akan menguasaiku dan tiba-tiba aku terssapu dalam rasa tanggung jawab nasional yang menentukan, seolah-olah masa depan Israel ada di pundakku. Nasib orang-orang Yahudi selamanya tergantung pada apa yang kukatakan. Aku hanya perlu menghasilkan argumentasi menentukan dan menang untuk mengubah pikiran orang Palestina keras kepala ini,” halaman 224.

Penulis menghadirkan kisah cinta Liat dan Hilmi dengan sangat hangat, tulus, dan romantis di saat yang bersamaan. Meski kerap diwarnai perdebatan, keintiman di antara keduanya tetap selalu berhasil kembali dihadirkan dengan indah dan perilaku sederhana sepasang kekasih yang tulus saling menyayangi.

Sementara itu, sejak pertama kali diterbitkan di Israel pada 2014, All the Rivers hingga saat ini telah diterjemahkan ke dalam 20 bahasa. Versi pertamanya ditulis Dorit Rabinyan dalam bahasa Ibrani.

Dorit mengatakan pada versi aslinya, novel itu banyak menggunakan kosakata bermuatan lokal yang sulit ditemukan padanannya dalam bahasa lain, termasuk dalam bahasa Inggris. Karena itu, pada versu terjemahannya, tetap banyak digunakan diksi atau istilah dalam bahasa Ibrani. Untuk memudahkan pembaca, penjelasan dihadirkan dalam bentuk catatan kaki.

Novel itu menjadi sangat populer di Israel dan banyak negara lain karena sempat dilarang untuk dihadirkan dalam kurikulum sekolah oleh pemerintah Israel pada 2015/2016. Pada saat itu, Kementerian Pendidikan Israel menganggap novel tersebut berbahaya karena dapat menggoyahkan ideologi para pemuda di Israel.

“Itu merupakan kali pertama dalam sejarah ada buku yang dilarang untuk masuk dalam kurikulum sekolah. Menurut saya, itu sebenarnya aneh karena justru buku ini mengangkat nilai-nilai demokrasi dan multikulturalisme yang kerap digadang-gadang Israel,” ujar Dorit.

Membaca All the Rivers akan memberikan gambaran kelam mengenai bagaimana warga Israel dan Palestina menjadi bagian dari entitas politik yang terpisahkan seumur hidupnya. Seberapa pun mereka berusaha menjauh dan membebaskan diri dari itu semua.

Terlepas dari kompleksnya sejarah yang terjadi pada kedua bangsa, melalui novel itu, pembaca akan diajak untuk lebih jauh memahami bagaimana Liat dan Hilmi sebagai warga negara biasa yang terpaksa menjadi korban konflik yang tak berkesudahan. Bahwa bagaimanapun Liat dan Hilmi ialah manusia biasa yang hanya ingin hidup damai dan bebas dari segala jenis pertikaian. Liat dan Hilmi juga mewakilkan banyak sosok-sosok lain dari kedua negara yang masih berupaya keluar dari belenggu konflik yang tak berkesudahan di tanah air mereka. (M-2)

_________________________________________________________________________________________

 

Judul: All the Rivers

Penulis Dorit Rabinyan

Penerbit: Penerbit Baca (September 2021)

Penerjemah Nadya Andwiani

ISBN: 978-602-6486-61-5

Baca Juga

123rf

Setop Minum Paracetamol Saat Hamil

👤Thalatie K Yani 🕔Kamis 19 Mei 2022, 15:40 WIB
Penelitian terbaru menemukan paracetamol yang dikonsumsi saat hamil bisa menyebabkan anak...
ANTARA FOTO/Hendra Nurdiyansyah/tom

Desa Tinalah Yogyakarta Jadi Jawara di Creative Tourism Destination Award 2022

👤Fathurrozak 🕔Kamis 19 Mei 2022, 15:05 WIB
Desa Wisata Tinalah di Yogyakarta memboyong tiga penghargaan di Creative Tourism Destination Award...
AFP

Indikator Iklim Kritis Memecahkan Rekor pada 2021

👤Adiyanto 🕔Kamis 19 Mei 2022, 10:42 WIB
Kekeringan dan banjir memicu kenaikan harga pangan yang diperparah pada tahun...

E-Paper Media Indonesia

Baca E-Paper

Berita Terkini

Selengkapnya

BenihBaik.com

Selengkapnya

MG News

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya