Minggu 19 September 2021, 05:00 WIB

Ritual Liat Pulaggajat di Mentawai

ZULFA | Weekend
Ritual Liat Pulaggajat di Mentawai

DOK BUYAMIN
Sikerei membaca mantra.

 

KEPULAUAN Siberut merupakan satu di antara empat pulau besar di Kepulauan Mentawai. Tiga lainnya ialah Sipora, Pagai, dan Sikakap. Siberut kaya akan budaya lokal. Satu di antaranya tradisi lisan dari para sikerei (kepala suku). Tradisi lisan para sikerei ini di antaranya arat sabulungan, punen, dan turuk lagai. Kekayaan tradisi lisan di Mentawai ini masih banyak yang belum diungkap, tetapi sayangnya jumlah sikerei makin berkurang.

Data terakhir pada awal 2021, sebanyak 47 sikerei yang ada kini berumur 60-75 tahun. Sementara itu, menurut Hariadi, mantan Kepala Desa Matotonan, generasi muda tidak ada yang mau menjadi sikerei. Ia memprediksi, dalam waktu lima tahun ke depan, sudah tidak ada lagi kepala suku di desanya. Jika para kepala suku itu wafat dan tidak ada yang mengggantikan, kearifan lokal tentu akan hilang. Menurut Hariadi, banyaknya syarat dan pantangan ritual membuat anak muda enggan menjadi sikerei. Mereka, misalnya, harus memiliki 10-15 babi untuk prosesi penobatan dan diangkat menjadi sikerei.

 

Pesta adat 

Satu tradisi masyarakat Mentawai yang hingga kini masih dilakukan ialah liat pulaggjagat atau pesta adat lokal desa. Pesta ini digelar selama tiga hari tiga malam dan pada hari keempat biasanya ditutup dengan melakukan ei kaleleu atau berburu. Pesta itu dimulai dengan ritual pagi dengan membaca sejumlah mantra. Sikerei mencari dedaunan untuk memulai ritual. Dedaunan yang telah dibacakan mantra lalu diletakkan di dekat gong di bakkat kaccaila, tempat yang dianggap mistis. Ritual dipimpin sikebbukat uma atau sibakkat katcaila, yang juga menjadi pemimpin di setiap ritual liat atau pesta. Pemimpin ritual tidak harus dari sikerei, asalkan memahami adat-istiadat, mengerti proses liat, dan tertua di suku mereka.

Kalimat-kalimat yang dituturkan dalam ritual untuk pasibelek atau melepaskan aura negatif ialah seperti berikut ini.

Kap sikebbukat, ita sipumone kainek, anek kakap saile mui sakit simagre mai sateteu nu si pu lia

Anai kuna’nak, kona kona guru’guruk.

Artinya, “Wahai kalian para nenek moyang kami, ini ada sesajian untuk bayar roh kami para cucumu yang melaksanakan liat, datanglah, datanglah.”

Kata-kata di atas merupakan penggalan kalimat yang diucapkan sikerei ketika menjalankan ritual pasibelek, yakni satu ritual yang ada dalam liat pulaggjagat. Mantra itu dimaksudkan untuk melepaskan aura yang negatif yang bisa menyelimuti perayaan pesta besar desa yang digelar di desa-desa. Liat pulaggjagat diawali dengan lia siboitok (taddat lia), yaitu pesta kecil atau permulaan pesta. Biasanya diadakan pagi hari pada pukul 04.00 WIB, ditandai dengan pemukulan tuddukat, gong, dan gajeumak, sebagai pertanda pesta dimulai. Sekitar pukul 07.30 dilakukan bele’ bubug uma atau menukar sebagian atap rumah.

Selanjutnya sikebbukat sibakkat katcaila membuat irig dengan membaca mantra pada daun anau: ”Sailaku saila saila ngangan bolo, saila ngangan besi’ saila oringen saila simalauru.” Mereka meyakini, daun anau menjadi pelantar terbebasnya dari segala mara bahaya dan bala. Setelah itu dibacakan mantra untuk seekor ayam: “Ekeu kina gou’ gou’ kut salounu simaeru’ areu akek’ bolo areu akek besi (jauhkanlah ayam kami dari penyakit dan jauhkan pula kami dari mara bahaya segala yang kami perbuat akan kami lihat di kalangmu).” Lalu leher ayam dipatahkan dan dibedah empedunya, dari situ akan terlihat salou (pertanda baik atau buruk).

Daun anau lalu dibagikan kepada semua tamu undangan dan masyarakat yang mengikuti pesta. Siri muri atau pembantu sibakkat katcaila membuat minyak untuk dioleskan pada peserta pesta. Mereka kemudian memotong babi dan ayam, prosesnya disebut punu laitak. Selama prosesi adat itu tidak dibolehkan makan dan minum dari pagi sampai siang dan tidak boleh berhubungan suami-istri selama pesta.

Setelah makan siang, sebagian dari mereka bersiap pergi ke hutan untuk mengumpulkan daun-daun sebagai persiapan untuk ritual malam hari, yaitu pasibitbit sipitto’ atau mengusir roh jahat. Pada ritual ini, sikerei berdoa untuk mengusir sipitto’ (roh jahat), dengan cara menangkap lalu mengumpulkan mereka dan membacakan mantra sebelum mengusir roh-roh itu. Sikerei sambil memegang daun-daun berjalan ke arah teras rumah dengan matra "Tuitui-tuitui (pulanglah, pulanglah)."

 

Hari kedua

Ritual berikutnya ialah lia sikarua pada pesta hari kedua, yang dimulai dini hari. Hal itu ditandai dengan memukul tuddukat, gajeuma’, dan gong seperti halnya di hari pertama, lalu dilanjutkan dengan pasosok (lia kasosorat) pawai. Seluruh peserta memakai atribut, mulai sikerei sinanalep (kepala suku perempuan), simatteu (kepala suku laki-laki), simatak (non-sikerei), dan anggota keluarga. Pagi harinya pada pukul 08.00 pimpinan liat pulaggjagat memberi tanda menghidupkan gong, bahwa seluruh peserta pesta adat harus keluar ruangan sebelum memasuki pesta kedua. Sibakkat katcaila dibantu siri muri membuat so’sok atau air mandi agar ritual aman. Setelah mandi, mereka masuk ke ruangan.

Selanjutnya, ritual iriq toitet, yakni mengambil iriq dari bahan kelapa dengan membaca mantra diikuti bunyi alat musik tradisional, kemudian kelapa dibuka dan dimakan. Sibakkat katcaila lalu memberikan daun anau untuk dipasangkan kepada peserta dan membaca mantra untuk ayam dan peserta dengan kalimat "Lia ku kina gou’gou’ areu ake’ bolo, oringen, areu ake’ singu, areu ake’ sikatai’ (wahai ayam jauhlah penyakit kami, jauhlah kejahatan dan musibah lainnya di desa kami)." Ayam hanya sebagai pengantar, pada intinya mereka berdoa kepada Tuhan. Leher ayam lalu dipatahkan dan dibakar untuk dilihat empedunya (sama dengan ritual sebelumnya).

Ritual berikutnya ialah paeruk sainak, kegiatan sebelum memotong babi. Sikerei membaca mantra memegang daun boblo dan sebutir kelapa muda/paeru’ sainak. Maknanya babi yang akan dipotong ialah binatang bernyawa sehingga harus meminta izin Tuhan sebelum penyembelihan agar pemilik dan penyantapnya diberkahi. Selain itu, agar hewan-hewan itu dapat tetap berkembang biak.

Setelah disembelih, babi tidak langsung dibakar, tetapi digantungkan di tonggak teras rumah, kiri dan kanan. Maknanya agar hewan yang menjadi peliharaan itu terus beranak-pinak. Santapan hari kedua disebut punulaitak, makanannya silakra dan ikan-ikan. Sikerei makan berhadapan dengan istri.

Kegiatan berikutnya pada sore hari ialah pasibelek dan pasialak simagre. Sikerei ke kuburan memanggil roh atau jiwa keluarga yang masih hidup atau simagre, dibujuk agar kembali ke rumahnya. Sikerei menanam dedaunan dan gojo yang diberi kunyit, lalu menyembelih ayam untuk dibawa pulang. Ritual itu hanya bisa dilakukan sikerei yang sudah dibuka mata batinnya untuk melihat hal-hal gaib seperti simagre. Ayam yang telah disembelih ini lantas dimantrai dengan ucapan doroikap simagretta.

Pada malam hari setelah simagre dijemput di kuburan, diawali dengan nyanyian yang lembut dan memasang kain-kain di teras rumah serta daun-daun di ujung bambu untuk meyakinkan simagre untuk tidak ragu kembali ke uma. Itu sama seperti orangtua membujuk anaknya yang lari dari rumah. Sikerei malam itu melakukan turuk dengan putaran kencang sambil memegang piring kecil dan jejeneng, lalu semua sikerei berkeliling memegang bambu yang di ujungnya dimasuki daun bermantra, sebagai tanda bahwa simagre telah kembali sampai beberapa sikerei kesurupan. Mereka pun bernyanyi bersama. Piring kecil ditaruh di kepala peserta liat.

 

Hari ketiga

Pesta hari ketiga atau lia sikatelu dimulai dini hari dengan membunyikan gong dan gajeuma’ lalu membacakan mantra pada dedaunan dengan harapan mereka dibebaskan dari kejahatan dan diberi keselamatan saat bekerja.

Selanjutnya ialah iriq, menghitung seluruh anggota keluarga yang menjadi peserta pesta adat agar semua mendapatkan bagian. Dilanjutkan dengan memantrai babi yang sudah disembelih, berharap agar daging yang dimakan diberi keberkahan dan bernilai sosial sehingga para tetua ikut merasakan arwahnya secara batin. Pembagian daging dan makanan lain harus merata dan tidak boleh ada sedikit pun yang dihilangkan haknya. Mereka percaya, keadilan itu menghindarkan diri dari bala dan penyakit. Selanjutnya ialah pukalaibok, acara sikerei makan berpasangan dengan istrinya dengan berhadapan. Malam menjelang. Semua peserta bubar.

Pagi harinya atau hari keempat ialah saatnya berburu, ini ritual penutup. Peserta dan sikerei bersama-sama pergi ke hutan. Itulah rangkaian liat pulaggjagat masyarakat Mentawai, tradisi yang sarat akan makna dan filosofi kehidupan. Ada nilai-nilai religi yang kental dan kearifan lokal yang dilakukan secara sadar dan mendalam. Keseimbangan alam semesta terjaga, begitu pula hubungan manusia, alam, dan Sang Pencipta. Jika ritual itu hilang, dikhawatirkan perekat sosial kian terkikis dan masyarakat pun makin individualistis. Oleh karena itu, tradisi semacam ini perlu dipertahankan agar keseimbangan hubungan antara alam, manusia, dan Tuhan tetap terjaga. (M-4)

 

Tentang penulis

 

Dr Zulfa MPd MHum. Peneliti budaya Mentawai, dosen STKIP PGRI Sumatra Barat dengan bidang ajar pengantar statistik sosial, sejarah lisan, dan budaya Minangkabau.

Baca Juga

Dok. Plataran Indonesia

Plataran Menjangan Raih Penghargaan Hotel Safari Terbaik Dunia

👤Galih Agus Saputra 🕔Minggu 17 Oktober 2021, 22:29 WIB
Plataran Menjangan menjadi satu-satunya perwakilan dari Indonesia dan Asia (kecuali India) yang meraih penghargaan hotel safari terbaik...
Mola

Kisah Striker Sepak Bola Fabio Quagliarella Tandai Ekspansi Mola ke Manca Negara

👤Irana 🕔Minggu 17 Oktober 2021, 13:30 WIB
Bersamaan dengan dibukanya layanan internasional, Mola pun memberlakukan penyeragaman harga menjadi US$ 8 atau Rp110.000 per...
MI

Sudoku Edisi 17 Oktober 2021

👤MI 🕔Minggu 17 Oktober 2021, 06:20 WIB
Sudoku atau di kenal juga dengan tebak angka (number...

E-Paper Media Indonesia

HALAMAN FOKUS EKSTRA 4 HALAMAN

Fokus Edisi

Mencegah Proyek Kereta (jadi) Mubazir

Pembengkakan biaya menjadi biang keladi perlu turun tangannya negara membiayai proyek dengan dana APBN.

Baca E-Paper

Berita Terkini

Selengkapnya

BenihBaik.com

Selengkapnya

MG News

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya