Minggu 22 November 2020, 01:55 WIB

Kreativitas dan Inovasi

Adiyanto Wartawan Media Indonesia | Weekend
Kreativitas dan Inovasi

MI/Ebet
Adiyanto Wartawan Media Indonesia

BEBERAPA waktu lalu masyarakat dihebohkan dengan Odading Mang Oleh. Gara-gara cara pemasarannya yang aktraktif lewat video, dagangan pria asal Bandung ini laris diserbu pembeli. Rasanya, ya mbuh, saya tidak pernah coba. Mungkin tidak beda jauh dengan kue dading yang jadi jajanan favorit saya sewaktu di sekolah dasar, selain cakwe. Sebelum fenomena odading ini, Dalgona Kopi dari Korea juga bikin orang Indonesia latah ikut-ikutan membuat racikan minuman berbahan dasar kopi tersebut.

Dalgona bisa sekejap tandas, apalagi minumnya senja hari selepas hujan ditemani odading. Namun, resep kedua penganan itu bisa bertahan, bahkan direproduksi siapa pun. Seperti halnya resep ayam goreng tepung ala Harland David “Colonel” Sanders (Kentucky Fried Chicken), yang kini banyak diproduksi dalam berbagai versi di kampung-kampung. Dalam konsep ekonomi pengetahuan, resep itulah yang berharga.

Dalam bukunya Living on Thin Air–The New Economy (1999), penulis Inggris Charles Leadbeater menyebut, resep dapat berpindah tangan ke pihak lain, direproduksi, digandakan penikmat kuliner di seluruh dunia. Begitu pun dengan perangkat lunak komputer. Ia dapat direproduksi, ditambahkan, atau digunakan untuk melahirkan produk inovasi baru.

Menurut mantan penasihat Tony Blair (mantan PM Inggris) ini, dalam kapitalisme lama, aset terpenting ialah bahan mentah, tanah, tenaga kerja, dan mesin. Sementara itu, dalam kapitalisme baru, bahan mentahnya ialah pengetahuan, kreativitas, kecerdasan, dan imajinasi. “Kini kita menerima manfaat dari arus pengetahuan yang belum pernah terjadi sebelumnya dari sains dan pendidikan, juga dimudahkan cara untuk berbagi dan menggabungkan pengetahuan kita, melalui komunikasi,” katanya.

Ekonomi pengetahuan inilah yang berkembang signifikan pada sistem perekonomian abad ini. Lihat para CEO perusahaan rintisan, baik di bidang marketplace maupun transportasi. Mereka tidak perlu memiliki banyak aset, seperti tanah, kendaraan, maupun buruh. Aset utama mereka ialah ide, kreativitas, dan pengetahuan. Begitu pun para pangeran dari Lembah Silikon, pendiri perusahaan teknologi raksasa di Amerika Serikat sana.

Tepat kiranya yang disampaikan Presiden Jokowi saat membuka event Inovasi Indonesia Expo (I2E) pada 10 November lalu, bahwa Indonesia perlu lebih banyak lagi inovator di berbagai sektor yang sangat dibutuhkan masyarakat, seperti pangan, energi, kesehatan, termasuk inovasi dalam manajemen model bisnis dan digital preneurs.

Kita jangan sekadar bangga dan puas dengan ditasbihkannya rendang sebagai makanan terlezat di dunia, misalnya. Coba jadikan Rumah Makan Padang seperti halnya McDonald’s atau Starbucks, yang tersebar di berbagai belahan dunia, atau jadikan es cendol seperti halnya Thai Tea, minuman dari Thailand, yang kini digandrungi anak-anak muda.

Indonesia juga kaya ragam kuliner kok. Tinggal bagaimana cara kita dalam mengemas dan menjualnya. Jangan hanya rajin mengonsumsi, tapi miskin kreativitas dan inovasi.

Baca Juga

ANT/Rivan Awal Lingga

Kali Kedua Sejauh Mata Memandang jadi Dewi Fashion Knights

👤Mediaindonesia.com 🕔Selasa 01 Desember 2020, 19:20 WIB
SMM mengusung koleksi yang terinspirasi dari proses daur dan memberi nafas baru untuk bahan kain yang tidak terpakai dan...
Omar HAJ KADOUR / AFP

Astronom Australia Berhasil Potret Jutaan Galaksi Baru

👤Bagus Pradana 🕔Selasa 01 Desember 2020, 15:15 WIB
Setelah melalui tahap analisis yang cukup panjang, para astronom mengungkapkan bahwa proyek ini berhasil memetakan total tiga juta galaksi...
Dok. Instangram @kinosaurusjakarta

Kinosaurus Tutup Ruang Putar Bioskopnya

👤Fathurrozak 🕔Selasa 01 Desember 2020, 14:45 WIB
Meski menutup ruang putar yang telah berjalan lima tahun, Kinosaurus akan terus ada dengan wujud...

Berita Terkini

Selengkapnya

BenihBaik.com

Selengkapnya

MG News

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya