Headline

“Damai bukan sekadar absennya perang. Ia adalah kebajikan,” tulis filsuf Baruch Spinoza.

Toto, Magnet yang tidak Pernah Pudar

Fathurrozak
04/3/2019 08:20
Toto, Magnet yang tidak Pernah Pudar
(MI/SUMARYANTO BRONTO)

MESKI hujan deras sempat mengguyur arena JI Expo Kemayoran, Jakarta Pusat, hingga pukul 18.55 WIB, para pengunjung tetap ramai memadati Java Jazz Festival 2019 pada hari terakhir, kemarin.

Panggung-panggung di arena luar hall pun kembali bergemuruh. Dengan mengusung tema Music unites us, Java Jazz menghadirkan beragam kolaborasi para musisi lintas generasi hingga aksi panggung Toto.

Setelah memberikan panggung spesial untuk peraih Grammy H.E.R dan penyanyi pendatang baru Raveena, giliran grup band Toto menjadi penampil di special show Java Jazz Festival 2019 sekaligus menutup perhelatan selama tiga hari itu.

Toto menjadi satu di antara tiga musisi yang tampil dalam sesi special show Java Jazz Festival tahun ini. Grup band yang telah berkiprah selama hampir 39 tahun itu menjadi salah satu magnet para pengunjung festival jazz yang kini merayakan 15 tahun penyelenggaraan.

Tak cuma Toto yang menghentak di perhelatan musik bergengsi tingkat dunia ini. Kolaborasi para musisi pun cukup apik menyedot perhatian.

Seperti gitaris jazz Tohpati yang tampil bersama Sheila Majid, penyanyi berdarah Malaysia-Jawa yang mulai tenar pada era 80-an. Para pengisi seperti Maliq and D’essentials yang punya basis massa besar, Kahitna, juga Delia Septianti yang tenar bersama Ecoutez pun turut meramaikan hari terakhir ajang ini.

Selain Tohpati dan Sheila, kolaborasi lintas generasi juga dilakukan Harvey ­Malaihollo & The Millenials Motown. Awalnya, Harvey juga mengajak keponakannya, Mikha ­Tamba­yong, dalam proyek ini. Namun, sore menjelang manggung di Java Jazz, ibunda Mikha meninggal akibat sakit. Harvey pun tetap melanjutkan bersama dua penyanyi muda yang ia temukan lewat Youtube, Utari Keisha dan Shiren. Yang di­bawakan ialah lagu-lagu di era Motown, merujuk pada era musisi Stevie Wonder dan Diana Rose.

Bagi Harvey, dalam bermusik tak ada yang harus ­dikotak-kotakkan. Berkesenian  tidak memiliki batas. “Meski harus saya akui lagu-lagu yang kita mainkan ialah lagu di era orangtua mereka, tetap tidak hilang­kan sentuhan milenial, aransemennya kekinian,” ujarnya sebelum tampil, kemarin.

Ia juga berpesan musisi muda harus menghadapi kenyataan dengan makin luasnya medium berkarya sehingga perlu be-kerja lebih keras dan memiliki karakter tersendiri. “Berani berkarya, yang pasti menurut saya, berkarya dengan kejujuran dan tidak plagiat.”
T

erakhir, penyanyi senior ini mengapresiasi gelaran Java Jazz yang mampu berbicara di kancah internasional.

“Berha­rap lebih baik lagi, dan saya akan menanti 15 tahun lagi. Sebagai orang Indonesia saya bangga punya Java Jazz Festival karena ini salah satu festival terbaik di dunia,” pungkas Harvey. (Jek/X-4)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Riky Wismiron
Berita Lainnya