Sabtu 02 April 2022, 04:05 WIB

Dugderan Disambut Antusias Warga Semarang

AS/H-3 | Ramadan
Dugderan Disambut Antusias Warga Semarang

MI/AKHMAD SAFUAN
Seniman mengikuti kegiatan dugderan (dugder) yang dipusatkan di Alun-Alun Masjid Agung Kauman dan Balai Kota Semarang, Jawa Tengah, kemarin.

 

KEGIATAN budaya memasuki Ramadan di Kota Semarang yang telah dua tahun vakum, dugderan (dugder), akhirnya dilangsungkan, kemarin. Ribuan warga menyaksikan kemeriahan penanda masuknya bulan suci yang dipusatkan di Balai Kota Semarang dan alun-alun depan Masjid Agung Kauman Semarang itu.

Meskipun situasi belum sepenuhnya pulih seperti sebelumnya, dugder berlangsung semarak.

Dugder berdasarkan sejarah merupakan penanda masuknya Ramadan yang dimulai sejak 1882. Saat itu, Bupati Semarang RM Tumenggung Ario Purboningrat memerintahkan Masjid Agung Kauman untuk membunyikan beduk secara bertalu-talu. Bunyi beduk dug dug der itu kemudian menjadi nama perayaan dugder.

Prosesi utama di tradisi dugder ialah penyerahan Suhuf Halaqoh dari alim ulama Masjid Agung Semarang kepada Kanjeng Bupati, atau saat ini Wali Kota Semarang, untuk dibacakan ke seluruh masyarakat. Seusai itu, Wali Kota Semarang dipersilakam memukul beduk, disertai pula suara meriam di Masjid Agung.

Wali Kota Semarang Hendrar Prihadi mengatakan kegiatan puncak dugder tahun ini berlangsung tanpa arak-arakan karena mencegah penyebaran covid-19. "Saya minta warga yang menonton dugderan tetap mematuhi protokol kesehatan," tambahnya.

Pelaksanaan Tugas (Plt) Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Semarang Sapto Adi Sugihartono mengatakan dugder kali ini melibatkan beberapa pihak seperti drum band AMNI dan perwakilan Muhammadiyah, Nahdlatul Ulama, Kementerian Agama, 16 kecamatan, dan ormas.

Selain kegiatan seni dari marching band, tarian, dan karnaval, ikon dugder selama ini, warak ngendog, masih menarik perhatian warga. Di antara aneka dagangan dari barang permainan tradisional hingga modern yang ditawarkan para pedagang musiman, ikon tersebut masih dicari.

Warak ngendog merupakan hewan rekaan dari perpaduan etnik di Semarang, yakni Jawa, Arab, dan Tionghoa, dan dibuat sebagai mainan dengan wujud kambing, unta, dan naga terapi bertelur (ngendog). Mainan tersebut masih menjadi incaran pengunjung karena cukup unik dan menarik.

Selain untuk menyambut bulan puasa, dugder memberikan kesempatan kepada warga agar dapat mengais rezeki sebagai bekal melaksanakan ibadah puasa agar khusyuk tanpa dibebani masalah ekonomi. Warga bisa berdagang selama sepekan di depan Kanjengan (kantor bupati), alun-alun, seputar Masjid Agung, dan Pasar Johar (pusat kota).

Untuk menyaksikan dugder, warga dapat datang ke lokasi atau memanfaatkan siaran langsung di media sosial untuk puncak acara tersebut. (AS/H-3)

Baca Juga

Antara/Yulius Satria Wijaya.

E-commerce yang paling Dicari Konsumen selama Ramadan

👤Mediaindonesia.com 🕔Selasa 24 Mei 2022, 16:00 WIB
Posisi itu diikuti Tokopedia 18% dan Lazada 4%. Situs belanja online lain yang juga disebut konsumen ialah Bukalapak, Blibli, dan...
Ist

Masyarakat Puas Kinerja dari Pemerintah dan Polisi Tangani Arus Mudik

👤Mediaindonesia.com 🕔Minggu 15 Mei 2022, 21:22 WIB
Masyarakat merasakan puas atas kinerja dari Pemerintah Indonesia dan Polri terkait hal penanganan dan penyelenggaraan arus mudik Hari Raya...
DOK Pribadi.

Program Ramadhan Brand Berbagi Salurkan 1.000 Lebih Paket

👤Mediaindonesia.com 🕔Senin 09 Mei 2022, 21:50 WIB
Harapannya, seluruh donasi yang diberikan dapat menjadi berkah, tidak hanya bagi penerima, tetapi juga untuk perusahaan sebagai...

RENUNGAN RAMADAN

CAHAYA HATI


JADWAL IMSAKIYAH
Sabtu, 02 Jul 2022 / Ramadan 1443 H
Wilayah Jakarta dan Sekitarnya
Imsyak : WIB
Subuh : WIB
Terbit : WIB
Dzuhur : WIB
Ashar : WIB
Maghrib : WIB
Isya : WIB

PERNIK RAMADAN