Headline
Sebagian besar pemandu di Gunung Rinjadi belum besertifikat.
Sebagian besar pemandu di Gunung Rinjadi belum besertifikat.
MANUSIA senantiasa mencari keberkahan dari Allah SWT. Lantas, sebenarnya apa yang dinamakan keberkahan itu?
Bagaimana menilai suatu amalan, kondisi mengandung keberkahan, dan bagaimana cara memperoleh keberkahan?
Dikatakan Ustaz H Mukhlis bahwa menurut dalil Ulama Imam Nawawi bahwa berkah adalah kebaikan yang bertambah atau kebaikan yang banyak dan berkesinambungan.
Untuk mendapatkan keberkahan dari Allah SWT, manusia harus beriman dan bertakwa kepada Allah SWT. “Seperti firman Allah SWT yang mengatakan, ‘Seandainya penduduk suatu negara beriman dan bertakwa, pastilah Allah SWT akan melimpahkan keberkahan dari langit dan bumi’,” kata Mukhlis dalam siaran Youtube Masjid Agung Al Azhar, Kamis (6/5).
Menurut Ustaz Mukhlis terdapat dua macam berkah, yakni yang telah ditentukan Allah secara khusus dan secara umum.
Berkah secara khusus, umpamanya, pada makanan dan minuman tertentu. “Contohnya kurma ajwa. Nabi Muhammad menyebut kurma ajwa memiliki keberkahan,” kata dia. Jika makanan lain sekadar mengenyangkan, kurma ajwa dapat mengenyangkan sekaligus memiliki manfaat khusus.
Nabi menyebut “Barangsiapa makan 7 butir kurma ajwa maka akan terbebas dari keracunan dan pengaruh sihir.”
Berkah pada tempat, misalnya Masjidil Haram, Masjid Nabawi, Masjidil Aqsa. Masjid-masjid ini mengandung keberkahan yang tidak ada pada masjid lain. Orang yang salat di Masjidil Haram, pahalanya 100 ribu kali dibandingkan dengan tempat lain.
Berkah umum
“Dalam konteks khusus, ada waktu-waktu yang mengandung keberkahan. Misalnya, di 10 hari terakhir Ramadan. Di malam itu ada Lailatulqadar. Pahala ibadahnya lebih baik daripada ibadah 1.000 bulan,” jelasnya.
Lalu dikatakan pula ada keberkahan secara umum, yaitu keberkahan yang bisa diperoleh semua orang. Misalnya pada orang yang bekerja dan sudah memiliki penghasilan.
“Bagaimana melihat penghasilan berkah atau tidak? Itu adalah penghasilan yang diperoleh dengan cara halal lalu membuat orang yang berpenghasilan tersebut makin dekat dengan Allah SWT,” ucapnya.
Makanan yang mengandung keberkahan umum, yakni makanan yang diperoleh dengan cara yang halal dan mengandung nutrisi yang menguatkan kita untuk selalu taat beribadah.
Pernikahan, bagaimana yang disebut berkah? Bukan pernikahan yang resepsinya berbiaya ratusan juta rupiah, atau pasangan pengantinnya tampan dan cantik jelita. “Pernikahan yang kedua mempelai semakin taat kepada Allah. Bisa jadi kehidupan materinya terbatas, justru dengan itu mereka bersabar dan taat pada Allah. Bisa juga pada mereka yang kaya, namun kekayaannya menjadikan mereka semakin taat pada Allah,” imbuhnya.
Sebagaimana doa untuk orang yang menikah, ‘Semoga Allah memberi keberkahan pada kalian baik dalam keadaan suka maupun duka.’
Namun demikian, Mukhlis menegaskan bahwa hal-hal yang dianggap mengandung berkah harus berdasarkan dari dalil Alquran dan Hadis.
“Melihat keberkahan harus berdasarkan pada dalil. Jangan sampai kita ingin memperoleh keberkahan malah dengan cara yang salah dan malah bisa menjurus pada kemusyrikan,” pungkasnya. (H-3)
Copyright @ 2025 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved