Sabtu 11 Mei 2019, 06:20 WIB

Mengendalikan Hawa dan Nafsu

Syarief Oebaidillah | Ramadan
Mengendalikan Hawa dan Nafsu

ist
Ustaz Imam Shamsi Ali

 

DEFINISI puasa secara fikih sangat sederhana, yakni menahan diri dari makan, minum, hubungan suami istri, serta semua yang dapat membatalkannya karena Allah SWT. Waktunya ditentukan dari terbitnya fajar kedua hingga terbenam matahari.

Dari definisi itu, perlu dipahami bahwa substansi dasar puasa ialah 'menahan'. Kata menahan, yang dalam bahasa agamanya disebut al imsaak inilah yang menjadi esensi dari puasa.

"Menahan diri dari berbicara dari hal-hal terlarang juga termasuk definisi dalam berpuasa," ujar Imam Masjid New York, Amerika Serikat, Ustaz Imam Shamsi Ali saat dihubungi Media Indonesia, kemarin.

Dalam Alquran, misalnya, menahan diri dari berbicara juga diistilahkan dengan shoum. Seperti dilakukan Maryam binti Imran yang dilarang bicara setelah melahirkan Nabi Isa alaihissalam.

"Inni nadzartu lirrahmani shouma (Sesungguhnya Aku telah berjanji atau nadzar kepada Allah untuk menahan diri (shoum)."

"Makna menahan diri di sini adalah menahan diri dari berbicara," imbuhnya.

Terkait ini, Rasulullah SAW juga pernah memberi nasihat di saat seseorang diajak bertengkar atau berkelahi hendaknya berkata, "Saya berpuasa (inni shoo-im)." "Tentu kata 'shoo-im' atau puasa di sini dimaksudkan menahan diri," kata Shamsi.

Ia mengatakan, objek terutama dan terpenting dari semua pembahasan tentang puasa terletak pada pengendalian hawa nafsu. Hawa berarti keinginan (desire), sedangkan nafsu berarti diri (ego).

Dalam Islam, hawa nafsu bukan dipandang sebagai musuh, apalagi dihancurkan. Alih-alih mematikan hawa dan nafsu, Islam justru mengarahkan dan mengaturnya tetap dalam koridornya.

Misalnya dengan melegalkan hubungan lawan jenis dalam ikatan sakral pernikahan. Dengannya hawa nafsu manusia tersalurkan, bahkan menjadi pintu keberkahan.

"Di sinilah sesungguhnya letak urgensi puasa. Karena betapa banyak destruksi atau kerusakan yang terjadi dalam hidup manusia disebabkan kegagalan manusia itu sendiri dalam mengendalikan hawa nafsunya," kata Pimpinan Nusantara Foundation itu.

Tuhan kecil
Pasalnya, ketika dorongan (hawa) nafsu (ego) manusia itu lepas kendali, maka nafsu akan menjadi penentu hidup. Bahkan, menjadi tujuan tertinggi kehidupan.

"Maka pernahkah kamu melihat orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai tuhannya, dan Allah membiarkannya sesat berdasarkan ilmu-Nya dan Allah mengunci mati pendengaran dan hatinya dan meletakkan tutupan atas penglihatannya? Maka siapakah yang akan memberinya petunjuk sesudah Allah (membiarkannya sesat). Maka mengapa kamu tidak mengambil pelajaran?

Demikian peringatan Allah dalam Surah Al Jaatsiyah ayat 23.

"Dunia tidak lagi menjadi objek hidup tapi berubah menjadi tuan atau master. Di sinilah kerap dunia atau nafsu berubah menjadi 'Tuhan' kecil dalam hidup," kata Shamsi.

Dari semua bentuk materi, menurut Shamsi, penyakit al khauf wal hazn (ketakutan dan kesedihan) adalah bahaya yang paling berbahaya. Manusia tidak pernah merasa cukup dan membuat manusia menghalalkan segala cara untuk memenuhi hawa nafsunya, yang tidak pernah bisa terpuaskan.

"Semakin kaya semakin merasa miskin. Semakin kuat semakin ketakutan. Semakin maju alat kecantikan, perceraian semakin menjadi-jadi. Semakin populer, semakin kesepian. Dan semakin terdidik, semakin bodoh. Itulah antara lain paradoks kehidupan yang diakibatkan hilangnya kendali hawa nafsu," beber alumnus Universitas Islam Internasional, Islamabad, Pakistan, itu.

Untuk mengendalikan hawa nafsu agar tetap terkontrol, ujarnya, berpuasa merupakan cara terbaik. Dengannya, manusia mampu membangun kendali hawa nafsu, melatih hati nurani untuk mengambil alih kendali kehidupan.

"Dengan puasa, kita belajar menjadi 'tuan' bagi hawa nafsu kita. Bukan menjadi 'hamba sahaya' bagi hawa nafsu," pungkas Shamsi yang tengah giat mendirikan pesantren di 'Negeri Paman Sam' itu. (H-3)

 

Baca Juga

Dok. Amy Maulana

Takbir dan Salawat Bergema Sambut Idul Fitri di Dagestan Rusia

👤Humaniora 🕔Senin 17 Mei 2021, 08:00 WIB
Tradisi lebaran masyarakat muslim Dagestan yang unik adalah mengunjungi keluarga atau tetangga yang tahun ini berduka ditinggalkan mati...
ANTARA/ADENG BUSTOMI

Ketupat Lemak, Menu Wajib Lebaran di Kubu Raya

👤Humaniora 🕔Jumat 14 Mei 2021, 10:31 WIB
Ketupat lemak merupakan beras ketan yang dimasukkan ke dalam daun kelapa yang sudah di anyam. Beda dengan ketupat, pada umumnya ketupat...
Antara

Ketua DPR: Idulfitri Momentum Perkuat Solidaritas

👤Putra Ananda 🕔Kamis 13 Mei 2021, 13:59 WIB
Apalagi saat pandemi covid-19, menurut Puan penting untuk berbagi kebahagiaan dengan saudara di sekeliling kita. Terutama mereka yang...

RENUNGAN RAMADAN

TAFSIR AL-MISHBAH

2022-01-20

JADWAL IMSAKIYAH
Kamis, 20 Jan 2022 / Ramadan 1442 H
Wilayah Jakarta dan Sekitarnya
Imsyak : 04:26 WIB
Subuh : 04:36 WIB
Terbit : 05:50 WIB
Dzuhur : 12:04 WIB
Ashar : 15:27 WIB
Maghrib : 18:30 WIB
Isya : 19:26 WIB

TAUSIYAH