PEMERINTAH berhasil membatasi ruang gerak mafia migas. Alhasil, proses produksi migas saat ini lebih efisien dan dapat menghemat devisa lebih banyak.
Beberapa proyek hilirisasi minyak bumi sudah mulai beroperasi.
Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Sudirman Said menegaskan kebijakan efisiensi dalam proses hilirisasi migas seharusnya dilakukan dari dulu sebelum Indonesia berada pada posisi sulit.
"Dulu terhambat oleh segelintir orang yang punya kepentingan pribadi dan ingin kita selalu tergantung dengan impor. Kini perlahan ruang gerak mafia migas kita batasi," ujarnya di Jakarta, kemarin.
Saat ini mafia migas tidak berkutik menyusul temuan hasil audit investigasi terhadap PT Pertamina Energy Trading Ltd (Petral) yang mengungkap adanya transaksi tidak jelas senilai US$18 miliar dalam transaksi jual beli minyak mentah dan BBM.
Kini Komisi Pemberantasan Korupsi tengah menyelidikinya.
Upaya pembenahan sektor migas ini berhasil memuluskan proyek kilang minyak.
Di antaranya, proyek Residual Fluid Catalytic Cilacap (RFCC) senilai US$846 juta sudah beroperasi penuh 100%.
Dengan beroperasinya RFCC, itu berhasil meningkatkan produksi Gasoline RON-92 sebesar 37,5 ribu barel per hari (mbopd) dan mengurangi impor BBM premium serta solar.
"Kalau dihitung, proyek RFCC ini dapat menghemat devisa hingga US$3,56 juta/hari," ujar Sudirman.
Selain proyek RFCC, Proyek Langit Biru Cilacap senilai US$392 juta yang kini sedang dibangun akan meningkatkan produksi BBM pertamax dan bakal menghemat devisa US$1,49 juta/hari.
Menteri ESDM juga menyebut proyek yang sedang dikejar pembangunannya ialah peningkatan kapasitas kilang atau refinery development master plan (RDMP) di Cilacap, Balongan, Plaju, Dumai, dan Balikpapan.
Apabila proyek ini dilaksanakan, kompleksitas kilang akan meningkat dari 3 menjadi 9, yang berarti bisa mengolah crude yang berat.
"Tapi memang tidak mudah karena terlalu banyak yang terbiasa nyaman dalam ketidaktransparanan di sektor migas. Saya sering dapat serangan dari mana-mana," kata Sudirman.