Headline

Menkeu disebut tidak berwenang mengganti pejabat, terutama untuk eselon I dan II.  

JK Minta Para Ulama Ciptakan Perdamaian di Negara Islam

Nur Aivanni
03/5/2018 20:34
JK Minta Para Ulama Ciptakan Perdamaian di Negara Islam
(MI/RAMDANI)

WAKIL Presiden Jusuf Kalla mengatakan bahwa sejumlah negara Islam tengah mengalami konflik ataupun peperangan baik karena masalah politik, ekonomi maupun lainnya. Untuk itu, ia meminta kepada para Ulama dan Cendikiawan Muslim Dunia yang hadir dalam Konsultasi Tingkat Tinggi (KTT) untuk menciptakan perdamaian di negara-negara Islam.

"Tentu kita sangat sayangi dan bukan hanya menyesal, tapi bagaimana kita memperbaiki kondisi-kondisi yang telah berlangsung selama ini," kata JK saat menutup acara KTT Ulama dan Cendikiawan Muslim Dunia di Istana Wakil Presiden, Jakarta, Kamis (3/5).

JK menjabarkan bahwa ada dua hal yang menjadi penyebab terjadinya konflik di negara-negara Islam. Pertama, adanya intervensi dari negara-negara besar seperti Rusia, Amerika dan negara besar lainnya yang memperbesar konflik atau bahkan menimbulkan konflik di negara Islam.

Kedua, munculnya paham radikal. Merebaknya paham radikalisme, kata JK, terjadi di semua negara. "Banyak terjadi bunuh diri untuk mematikan yang lainnya, banyak perang dengan atas nama jihad atau apapun," katanya. Untuk itu, kata dia, ada ajaran-ajaran yang perlu diluruskan agar tidak terjadi hal-hal seperti itu.

"Jadi pemikiran-pemikiran itu memang perlu juga di antara kita semua para ulama, untuk bagaimana agama ini diajarkan dengan baik. Maka, kami berharap dalam pertemuan ini, bukan saja kita memikirkan tapi bagaimana menghentikan ajaran-ajaran yang menyebabkan masalah di dalam negara Islam," tuturnya.

Ia pun berharap para ulama bisa memberikan kontribusi yang besar dalam terciptanya suatu perdamaian di negaranya masing-masing. Pasalnya, jika suatu negara berkonflik, maka hal yang tersulit dilakukan adalah untuk merehabilitasinya ke keadaan semula. "Banyak yang mengatakan untuk rehabilitasi beberapa negara Islam yang dihancurkan itu butuh 50 tahun untuk kembali baik. Suatu kerugian yang luar biasa," ucapnya.

Indonesia, sambungnya, sebagai penduduk Islam yang terbesar di dunia juga memiliki rasa tanggung jawab untuk memperbaiki dan menciptakan Islam yang damai. "Indonesia tentu merasa bertanggung jawab untuk bagaimana kita memperbaiki atau menciptakan Islam yang damai sehingga itu perlu Islam Wasathiyah. Sehingga terjadi suatu kedamaian baik antar kita dan negara lain," pungkasnya.

Sementara itu, Utusan Khusus Presiden RI untuk Dialog dan Kerja Sama Antar-Agama dan Peradaban (UKP-DKAAP) Din Syamsuddin mengatakan bahwa nilai-nilai Wasathiyah Islam yang dihasilkan dalam KTT tersebut akan disebarluaskan. Tak hanya itu, KTT tersebut juga disepakati bahwa konsultasi tersebut akan dilangsungkan secara berkala di tahun-tahun mendatang.

"Untuk itu, disepakati adanya poros dunia untuk Wasathiyah Islam sehingga negara-negara peserta dan masih banyak negara lain merupakan bagian dari jejaring ini. Dari jaringan untuk mengarusutamakan Wasathiyah Islam, tentu ke dalam umat Islam sendiri. Kedua, disumbangkan bagi penanganan krisis peradaban dunia," pungkasnya. (OL-5)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Anata
Berita Lainnya