Headline
Pemprov Jabar identifikasi warga yang betul-betul tak mampu.
Pemprov Jabar identifikasi warga yang betul-betul tak mampu.
Kumpulan Berita DPR RI
BARU-baru ini Ketua Umum PDI Perjuangan, Megawati Soekarnoputri, menyatakan bahwa ia tengah memopulerkan 'Salam Pancasila'. Pernyataan itu disampaikan saat Megawati membuka kegiatan Pendidikan Kader Perempuan di Sekolah Partai PDIP, dan menambahkan bahwa para peserta kegiatan tersebut dapat mengajarkan nilai-nilai Pancasila kepada anak-anaknya melalui ucapan Salam Pancasila.
Tujuan memopulerkan Salam Pancasila untuk mengajarkan nilai-nilai Pancasila sebenarnya baik, meskipun mungkin hal ini akan sulit terwujud mengingat sudah begitu banyak ekspresi salam di Indonesia. Lihat saja salam saat membuka berbagai kegiatan resmi; assalamu’alaikum Wr Wb. shalom, om swastiastu, namo budaya, salam kebajikan, salam sejahtera bagi kita semua. Atau aneka salam khas daerah seperti sampurasun (Sunda), sugeng rawuh (Jawa), aga kareba (Makasar), tabik pun (Lampung) dll, juga ditambah ungkapan salam khas berbagai komunitas.
Salam Pancasila sah-sah saja dipopulerkan. Namun ucapan salam hanya akan berhenti pada tataran kulit saja jika tidak disertai isi, yaitu penghayatan terhadap nilai-nilai Pancasila itu sendiri. Oleh sebab itu, selaku Ketua Dewan Pengarah Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP), seyogyanya Megawati lebih mengedepankan program-program internalisasi nilai-nilai Pancasila ketimbang sekadar Salam Pancasila.
Nilai-nilai dari tiap sila Pancasila menurut Latif (2018) dapat diringkas sebagai berikut; sila pertama mencerminkan masyarakat yang memiliki standar kesucian yang mana Ketuhanan jadi basis sosiabilitas masyarakat. Sila kedua menekankan pada kemanusiaan dalam artian kepedulian terhadap sesama dan bebas dari penindasan dan pengekangan. Sila ketiga mencerminkan kesetiaan terhadap ruang hidup (tanah air) bersama. Sila keempat merefleksikan kepatuhan kepada otoritas untuk keteraturan hidup. Sila kelima menekankan pada keadilan yang mewujudkan harapan bersama untuk hidup sejahtera.
Pemahaman terhadap nilai-nilai luhur itu saja membutuhkan usaha yang sungguh-sungguh, apalagi untuk sampai pada tahap masyarakat menghayati dan melaksanakannya dalam kehidupan sehari-hari. Tidak mudah menginternalisasi masyarakat, terutama generasi muda, dengan nilai-nilai Pancasila.
Tantangan terhadap internalisasi nilai Pancasila terutama di kalangan milenial dan gen Z kini semakin besar di era informasi yang sudah sangat global. Itu karena Pancasila harus berkontestasi dengan paham-paham lain yang tiap hari hilir mudik mengilfitrasi lewat gawai mereka. Dua dari sekian banyak bidang yang bisa didorong perannya oleh BPIP untuk menginternalisasi nilai-nilai Pancasila adalah bidang seni, khususnya lewat film dan juga bidang pendidikan, khususnya lewat muatan dalam buku ajar.
Penggarapan melalui film
Dengan anggaran BPIP yang konon mencapai ratusan miliar rupiah, seharusnya sebagian bisa dialokasikan untuk membayar kalangan sineas untuk membuat film-film bermutu yang bukan hanya menarik, melainkan juga berisi sisipan nilai-nilai Pancasila. Mungkin hal itu tidak dengan cara vulgar atau menggurui ala film-film propaganda di era Orde Baru.
Untuk film layar lebar, sekaranglah saat yang tepat, karena dalam beberapa dekade belakangan ini film Indonesia tengah mencapai masa kejayaannya. Hal itu karena banyak film nasional yang ditonton lebih dari satu juta orang. Nilai-nilai Pancasila di atas bisa disisipkan secara halus (tacit) dalam cerita film. Internalisasi nilai Pancasila bisa juga disisipkan lewat film televisi yang kita kenal dengan sebutan sinetron.
Sayangnya, sinetron Indonesia, terutama yang serial, masih belum sungguh-sungguh digarap sehingga mutunya rendah dan ceritanya tidak menarik. Penggarapannya mengabaikan prinsip show don’t tell, yang mengakibatkan pesan-pesan dalam cerita sinetron Indonesia menjadi terlalu jelas dan berlebihan. Termasuk di dalamnya muatan iklan sponsor yang kadang malah jadi bagian dari cerita sinetron.
Satu catatan yang perlu digarisbawahi adalah bahwa tidak wajib dalam satu film disisipkan seluruh lima nilai dari tiap sila Pancasila, agar tidak 'keberatan pesan' dan malah tidak lagi menarik sebagai tontonan. Satu atau dua nilai Pancasila dalam satu film sudah cukup agar tidak mengurangi estetika.
Penyebaran nilai-nilai budaya dan ideologis lewat seni, khususnya film, bukanlah hal yang baru. Chang dan Lee (dalam Moeloek 2017) menyimpulkan bahwa Korean Wave (gelombang Korea) telah berhasil mendongkrak ekspor dari Korea ke negara lain dan memberikan dampak cukup signifikan terhadap perekonomian mereka. Sementara itu, Warsito (2021) yang meneliti film-film Amerika mengatakan bahwa pesan yang terkandung dalam film-film Hollywod kompak mendukung posisi politik Amerika dalam hubungan internasional. Melalui media film, konstruksi propaganda lebih mudah diterima publik dunia daripada dengan orasi dogmatis.
Selain lewat film, internalisasi nilai-nilai Pancasila juga bisa dilakukan dengan menyisipkan nilai dari kelima sila Pancasila dalam buku ajar, terutama buku ajar untuk mata pelajaran atau mata kuliah yang sifatnya sosial, bahasa atau humaniora. Dengan demikian internalisasi nilai Pancasila bukan hanya didapat oleh siswa atau mahasiswa dalam buku ajar mata pelajaran atau mata kuliah Pancasila dan Kewarganegaraan saja.
Cara penyajian nilai dalam buku ajar tentu saja disesuaikan dengan rentang usia peserta didik; untuk siswa TK hingga SD nilai Pancasila bisa disisipkan secara eksplisit, namun untuk siswa SMP ke atas, sisipan nilai lebih baik dilakukan secara implisit. Hal lain yang juga harus diperhatikan adalah porsi atau persentase sisipan nilai Pancasila tersebut. Jangan sampai malah menghambat atau mengganggu capaian pembelajaran atau kemampuan yang harus dikuasai siswa atau mahasiswa. Sesuaikan dengan yang telah ditulis dalam rencana pembelajaran masing-masing mata pelajaran atau mata kuliah.
Nilai-nilai Pancasila sebagai falsafah hidup bangsa Indonesia boleh-boleh saja dipopulerkan dengan Salam Pancasila, namun tanpa internalisasi terhadap nilai-nilai yang terkandung di dalamnya, ucapan salam hanyalah kulit tanpa isi.
Yang kita butuhkan adalah Pancasila yang hidup dalam setiap klik, setiap unggahan, dan setiap interaksi digital kita.
Pemerintahan telah beralih dari melayani rakyat menjadi menanggapi tekanan opini.
Pemerintah diharapkan mau berbenah agar lebih terbuka terhadap masyarakat dan mendengarkan aspirasi yang disuarakan rakyat.
Dengan lirik yang gelap, agresif, dan penuh makna metafora, .Feast tidak hanya mengungkapkan kemarahan, tetapi juga memberi peringatan moral.
Keterlibatan mahasiswa melalui pendekatan kolaboratif menjadi semakin penting di tengah berbagai tantangan pembangunan dan kesenjangan sosial.
Mencegah radikalisme dan intoleransi berarti menghidupkan kembali nilai-nilai Pancasila dalam kehidupan sehari-hari.
BPIP bekerja sama dengan Universitas Sebelas Maret (UNS) dan Perkumpulan Program Studi Pendidikan Sejarah Indonesia (P3SI) menyelenggarakan Seminar Nasional Sejarah Pancasila
DEWAN Pimpinan Pusat Gerakan Nasionalis (DPP GAN) menggelar audiensi dengan Wakil Kepala Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP), Rima Agristina, beserta jajaran.
BPIP meraih predikat Informatif dengan nilai 93,35 pada Monitoring dan Evaluasi Keterbukaan Informasi Publik Tahun 2025 oleh Komisi Informasi Pusat (KIP).
DEWAN Pakar BPIP Bidang Strategi Kebijakan Luar Negeri, Darmansjah Djumala, mengatakan bencana banjir Sumatra membangkitkan naluri kemanusiaan bangsa Indonesia.
Kepala BPIP Yudian Wahyudi menegaskan Pancasila harus menjadi roh kehidupan bangsa dan panduan dalam bertindak, berpikir, serta bersikap.
BPIP bukan sekadar simbol pembinaan ideologi, tetapi menjadi garda terdepan dalam menjaga nilai-nilai Pancasila.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved