Rabu 14 September 2022, 05:00 WIB

Menggali Hikmah Praktis Gerakan Al-Maun

Nazhori Author Pegiat filantrofi di Lazismu Pusat dan dosen Universitas Muhammadiyah Prof Dr HAMKA (UHAMKA) Jakarta | Opini
Menggali Hikmah Praktis Gerakan Al-Maun

Dok. Pribadi

 

JIKA modernitas menggambarkan waktu dalam kerangka kerja mekanistis, yang kemudian disambut dengan ketidakteraturan dan kesimpangsiuran oleh gerakan pemikiran pascamodernitas, sang penjinak waktu Heidegger menyarankan manusia untuk membuka diri dan menghayati keberadaannya menyingkap realitas yang aktif mewaktu.

Demikian waktu dimaknai Heidegger, begitu juga dengan KH Ahmad Dahlan, ketika mengajarkan kepada murid-muridnya soal waktu melalui surah Al-Ashr sebelum mengamalkan surah Al-Maun. Waktu merupakan semangat zaman. Karena itu, beragama dan berdakwah memerlukan pendekatan yang modern dan kekinian agar sesuai dengan zaman sehingga dalam praktiknya dapat melayani masyarakat yang terpinggirkan secara sosial dan ekonomi.

Ketika mengajarkan surah Al-Ashr, Kiai Ahmad Dahlan membutuhkan waktu delapan bulan. Sementara itu, untuk mengajarkan surah Al-Maun membutuhkan waktu tiga bulan agar dapat dipahami dengan gamblang oleh murid-muridnya. Dua surah dalam Al-Qur'an inilah, yang kemudian menjadi ciri khas gerakan Muhammadiyah dengan spirit dan etosnya untuk tetap welas asih.

Model pendidikan dialogis yang dikembangkan Kiai Dahlan itu tentu sebagai rasio kritis beliau dalam menerjemahkan transformasi sosial, yang diikuti dengan gerakan perempuan dan selanjutnya dilengkapi dengan melembagakan gerakan Al-Maun dalam konteks Penolong Kesengsaran Oemoem (PKO) pada periode awal. Tak berlebihan jika Alfian dalam Politik Kaum Modernis (2010) mengatakan Kiai Dahlan merupakan tokoh yang mengedepankan praksis (man of action), ketimbang banyak bicara.

Dari titik itu, pencarian hikmah praktis gerakan Al-Maun dilanjutkan sebagai fenomena yang berkaitan dengan manusia dan realitas sosialnya saat itu, di tengah ceruk politik etis yang dibawa Belanda melalui Christiaan Snouck Hurgronje. Bagaimanapun, Kiai Ahmad Dahlan telah menempatkan Muhammadiyah dalam situasi yang penting, yaitu modernisme Islam di Indonesia.

Kolonialisme dalam sejarahnya memang menyisakan penderitaan yang, menurut Ahmet K Turu dalam Islam, Authoritarianism, and Underdevelopment: A Global and Historical Comparison (2019), sebagai salah satu faktor penguat ketertinggalan umat Islam sebagaimana dirujuk dari pandangan Franz Fanon (Ahmet K Turu, 2019:16), dalam kondisi tertentu, intelektual reformis di kalangan muslim yang meletakkan interpretasi Islam secara kompatibel terhadap perkembangan sains merupakan ruang dinamis yang memiliki pengaruh terhadap kontribusi Islam secara kelembagaan dalam bidang birokrasi, pendidikan, dan kesehatan (Ahmet K Turu, 2019:225).

Kondisi itulah yang selanjutnya dijadikan momentum dan gerakan perjuangan Muhammadiyah di masa-masa perintisan oleh Kiai Dahlan di Yogyakarta. Ketertinggalan, kebodohan, dan kemiskinan yang melanda sebagian umat Islam dijawab dengan gerakan Al-Maun sebagai kontribusi nyata mengangkat harkat dan martabat manusia. Sejarah faktualnya, sejalan dengan analisis Ahmet K Turu, bahwa keterbelakangan juga bagian dari lingkaran setan yang harus diputus, di samping kekerasan dan otoritarianisme.

Kegigihannya tidak akan sukses tanpa dukungan semua pihak dan ilmu pengetahuan yang dimilikinya. Karena itu, warisan beliau perlu dirawat dan dikembangkan dengan mencari benang merah yang tersembunyi di balik ideologi gerakan Al-Maun di satu sisi, dan gerakan welas asih di sisi lain.

Etos pembaruan itu dimaknai Abdul Munir Mulkhan dalam Kiai Ahmad Dahlan: Jejak Pembaruan Sosial dan Kemanusiaan (2010) sebagai aksi sosial profetik yang layak menjadi teladan di zaman yang terus berkembang dengan jargon 'Jadilah guru sekaligus murid'. Pandangan itu senapas dengan spirit pengetahuan yang dibawa Kiai Dahlan dalam mempertimbangkan kesatuan subjek (yang mengajarkan) dan objek (yang diajarkan) sehingga saling melengkapi dan tidak akan ada praksisnya dalam gerakan Al-Maun tanpa subjek (yang memberi) dan objek (yang diberi).

MI/Seno

 

Al-Maun sebagai basis pengetahuan

Sudah menjadi pengetahuan umum bahwa hal paling utama diajarkan Kiai Dahlan kepada murid-muridnya ialah surah Al-Maun. Sebagai pengetahuan pertama yang diterima murid dan diajarkan berkali-kali, sejatinya Kiai Dahlan sedang membicarakan manusia dan kemanusiaan. Beliau tidak ingin manusia sia-sia dalam waktu sampai dengan datang kematian kendati dalam waktu, manusia berada dalam segala kemungkinan menjadi tertindas, miskin, bodoh, dan bangkit melawan ketakberdayaan.

Sesungguhnya, bila digali lebih dalam meminjam kacamata Kuntowijoyo (2008) dalam Paradigma Islam: Interpretasi untuk Aksi, Kiai Dahlan telah meletakkan manusia dari posisinya yang antroposentris ke manusia teosentris. Realitas empiris yang dibaca Kiai Dahlan, sebagai sarana untuk kembali kepada Tuhan dengan membawa bekal tujuan luhur guna memuliakan manusia. Di dalamnya, ada prinsip humanisasi, pembebasan, dan transendensi yang menjadi nilai-nilai untuk memaknai manusia sebagai subjek yang mengubah dunianya, sekaligus objek yang diberdayakan dengan spirit welas asih.

Karena itu, Al-Maun sebagai basis pengetahuan berangkat dari realitas sosial yang di dalamnya kemanusiaan (insaniyyah), sebagai realitas universal ditafsirkan dalam konteks transenden, dengan spirit pembebasan untuk memanusiakan manusia baik keseorangan (basyariyyah) maupun entitas kelompok yang terpinggirkan. Kiai Dahlam mengimpikan Islam terbuka terhadap sumber-sumber pengetahuan. Sebagaimana Muhammadiyah mengalami pergeseran sikap dalam memaknai budaya Jawa dan budaya Minangkabau pada kerangka syiar dakwahnya yang luwes.

Konsep Al-Maun, yang digagas Kiai Dahlan dalam pembacaan sosial yang empirik menghadirkan sosok pengamat yang tidak bisa dipisahkan dari objek yang diamati. Kiai Dahlan menolak keterpisahan keduanya karena pada prinsipnya Islam dan realitas sosial itu sendiri merupakan kehadiran eksistensial, dengan segenap totalitasnya.

Sejak awal, Kiai Ahmad Dahlan mengedepankan Islam sebagai juru bicara ketimpangan dan ketidakadilan, yang menurut Moeslim Abdurrahman dalam Islam sebagai Kritik Sosial (2003), bahwa Islam tidak berhenti dalam perkara ibadah, tetapi Islam harus mampu mengetuk hati terdalam penganutnya agar dapat peka terhadap lingkungan sosialnya.

Oleh karenanya, reaktualisasi dan reinterpretasi Al-Maun dalam bingkai Islam berkemajuan, menurut M Amin Abdullah, ialah Islam yang berada pada posisi moderat di tengah arus globalisasi dan kemajemukan, yang lensanya dapat diarahkan tepat di jantung ijtihad (Fresh Ijtihad, 2019:50). Tegasnya, ada kombinasi sikap keberagamaan yang intersubjektif untuk membangun rumah gagasan bersama, dengan tetap mempertahankan eksistensi dan keunikan masing-masing, yang berangkat dari kesalehan individual menuju kesalehan sosial.

Memberdayakan mereka yang lemah menuju jati diri yang bermartabat tidak lain penyaksian yang berpijak dari spirit pengetahuan. Kiai Dahlan tidak semata-mata melihat Islam dan manusia sebagaimana adanya. Lebih dalam lagi, Kiai Dahlan justru menyelami keseluruhannya untuk berbuat apa yang seharusnya dilakukan. Inilah tawaran konkret pemikiran dan aksi Kiai Ahmad Dahlah yang populer dengan teologi Al-Maun.

Kiai Dahlan berdakwah dengan menggunakan bahasa dan budaya yang sedapat mungkin dapat diterima, supaya komunikasi berjalan efektif. Sikap demikian ditunjukkan beliau dalam menunjukkan identitasnya di tengah upayanya menyampaikan pengetahuan kepada masyarakat. Dari sisi praktis, surah Al-Maun merupakan pengejawantahan konsep guru, sekaligus murid yang dicandra dengan teladan welas asih, bahwa spirit berbagi merupakan pengetahuan yang bisa langsung dibuktikan dengan terjun langsung mencari anak-anak yatim (duafa) dengan kesatuan prinsip subjek (yang memberi), dan objek (yang diberi).

Daya berpikir dan imajinasi Kiai Dahlan, yang mengandalkan prinsip akal sehat tentu saja berdasarkan realitas objektif umat Islam yang secara faktual dikonfirmasi kembali dengan pendekatan teks Al-Qur'an. Kombinasi cara pandang bayani dan burhani, yang dipraktikkan Kiai Dahlan juga merupakan cermin beragama dengan dinamis, bahwa memahami realitas sosial sejalan dengan memahami sebuah teks untuk memeroleh makna autentik dari problem kemanusiaan itu sendiri.

Dengan demikian, hikmah praktis (amali) gerakan Al-Maun tidak sebatas konsep, bahkan sampai dengan detik ini praksis keagamaan yang juga terlembaga dalam gerakan amal saleh harus bisa menjawab tantangan umat dan zaman, di saat paham keagamaan yang beragam terkontaminasi oleh keliaran komunikasi digital.

 

Ketangguhan berbagi

Dengan menyadari nilai penting gerakan Al-Maun dewasa ini, dan belajar dari Kiai Dahlan, agama dan manusia merupakan konteks perjalanan perubahan sosial yang di dalamnya ada historisitas dan normativitas. Karena itu, gerakan Al-Maun yang digagas Kiai Dahlan ialah gerakan keagamaan yang berbicara konteks manusia. Tanpa itu, gerakan amar ma'ruf nahi munkar tak ubahnya doktrin yang membatu tanpa sentuhan modernitas.

Sementara itu, keterpautan historisitas dan normativitas yang bersenyawa di dalamnya ialah bukti ketangguhan hikmah praktis gerakan Al-Maun untuk bisa tetap bertahan hingga saat ini. Sudah sewajarnya, konsep Al-Maun ditafsirkan sesuai dengan perkembangan zaman. Terlebih lagi, dengan amal usaha Muhammadiyah yang tata kelolanya dikemas modern dan dengan kesederhanaannya, setidaknya mampu beradaptasi dalam merespons persoalan-persoalan kemanusiaan terkini, yang dijahit dengan jalan tarjih dan tajdid.

Adapun dalam aras filantropi dan kemanusiaan, konsep Al-Maun telah seirama dengan ajaran Islam tentang zakat, yang dalam praktiknya tidak hanya menyegarkan pemahaman agama dan ibadah, tetapi lebih dari itu bagaimana dapat menggambarkan jalan keluar dengan gerakan pemberdayaan di aspek sosial, budaya dan ekonomi, pendidikan, kesehatan, perempuan, lingkungan, dan organisasi internal kepemudaannya.

Faktanya aktivitas berbagi, model dan pendekatannya terus berkembang, di sini praksis Al-Maun kembali diuji untuk mencari kerangkanya yang khas. Ketangguhan berbagi, sebagai ajaran kebaikan (moral), juga perlu menalikan teladan kebaikan yang bersumber dari realitas sosial dan ajaran agama karena cinta berbagi juga tidak cukup melawan struktur kemiskinan dan struktur kekuasaan.

Karena itu, Al-Maun sebagai gagasan teologis dan critical wisdom menghadirkan harapan ke dalam kehidupan yang lebih baik, yang tidak hanya sebagai brand promise, tetapi juga praksis pembebasan yang menyediakan ruang untuk bersungguh-sungguh mencari solusi bersama dalam aksi filantropi.

Lantas, bagaimana dengan ketangguhannya itu mampu memberikan arah, ketika spiritualitas manusia mengalami dekadensi, serta memberikan kontrol politik terhadap bangsa yang jika abai dalam menjalankan misinya dengan nilai-nilai hikmah Al-Maun, dan senantiasa menyuguhkan pandangan-pandangan perubahan sosial yang progresif, dan keteladanan menuju Indonesia yang tangguh. Wallahu a'lam.

Baca Juga

Dok. Pribadi

Moderatisme Beragama

👤Ratno Lukito Dewan Pengawas Yayasan Sukma 🕔Senin 26 September 2022, 05:15 WIB
ADALAH suatu kepastian bahwa setiap agama di dunia ini memandang benar seluruh ajarannya. Pun setiap agama diam-diam memandang rendah agama...
MI/Ebet

Belajar dari Sejarah

👤Adiyanto Wartawan Media Indonesia 🕔Minggu 25 September 2022, 05:00 WIB
Ketika itu, Batavia dilanda berbagai wabah, seperti penyakit pes, kusta, dan...
MI/Vicky G

SBY dan Pemilu Curang

👤Eko Suprihatno, Editor Media Indonesia 🕔Sabtu 24 September 2022, 10:05 WIB
Kita percaya SBY tidak hendak mengganggu kredibilitas pemilu demi langgam politik sang putra Agus Harimurti Yudhoyono. Karena, kalau sudah...

E-Paper Media Indonesia

Baca E-Paper

Berita Terkini

Selengkapnya

BenihBaik.com

Selengkapnya

MG News

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya