Jumat 18 Maret 2022, 05:10 WIB

Membandingkan Ukraina 2022 dengan Kuba 1962

Fit Yanuar Dosen Fikom Universitas Sahid Jakarta | Opini
Membandingkan Ukraina 2022 dengan Kuba 1962

MI/Duta

 

DUNIA saat ini sedang menyaksikan serangan bersenjata Rusia ke Ukraina. Presiden Rusia Vladimir Putin memulainya dengan sebuah komunike resmi pada Kamis (24/2). Berbagai telaahan tentang peperangan ini mulai latar belakang, Ukraina, Rusia, Presiden Putin dan Presiden Volodymir Zelensky, hingga Uni Soviet telah dirilis oleh media massa dan para ahli. Tulisan ini ialah kajian ilmu hubungan internasional yang hendak mengingatkan peristiwa Ukraina 2022 dengan sebuah peristiwa yang terjadi pada 1962 di Kuba.

 

Kuba 1959-1962

1 Januari 1959 ketika pemerintahan Kuba pimpinan Jenderal Fulgencio Batista yang didukung oleh AS tumbang oleh perjuangan milisi Kuba di bawah kepemimpinan Fidel Castro dan kawan-kawan. Castro yang beraliran komunis segera menancapkan kuku menjadi pemimpin Kuba.

Dapat dibayangkan perasaan Amerika Serikat tentang kehadiran negara komunis di sebuah wilayah yang sepelontaran misil ke negaranya. Jarak terdekat Kuba dengan AS (pantai ke pantai terdekat) ialah 145 km, setara Jakarta-Patrol (sedikit melewati Pamanukan, Jawa Barat).

AS jelas resah mengingat mereka merupakan hegemon dunia sejak berakhirnya Perang Dunia II di 1945. Misi hegemonik AS di antaranya ialah menghadang penyebaran komunisme di seluruh dunia (containment policy). Tak dinyana, sebuah kekuatan komunis malah ada di belakang pagar sang dinosaurus.

Dapat dibayangkan berbagai manuver politik AS lakukan terhadap Kuba. Di seluruh dunia saja yang sulit untuk dijangkau armada perangnya sekalipun, containment policy dilakukan, apalagi cuma di seberang pagar belakang. Pada 15 April 1961, AS mengirim tentaranya menyerang beberapa posisi militer Kuba. Sejarah mencatat perisiwa ini dengan nama invasi Teluk Babi. Teluk Babi ialah sebuah nama tempat, dalam peta internasional disebut sebagai Bay of Pigs, adapun orang Kuba menyebutnya sebagai Playa Giron.

Singkat kata, sejarah mencatat kalau invasi tersebut gagal. Castro tidak tumbang dan sebagian dunia mengutuk AS. Dewan Keamanan PBB bersidang yang hasilnya gagal mencapai resolusi karena AS memveto usulan Kuba yang menginginkan negeri Paman Sam itu disebut sebagai agresor. September 1962, pemimpin politik Uni Soviet (imperium komunisme Rusia kala itu) bernama Nikita Kruschev berani berspekulasi untuk sebuah kebijakan politik militer dengan menempatkan peluru kendali dengan hulu ledak nuklir di Kuba. AS di bawah kekuasaan John F Kennedy pun unjuk taring tajam dinonya, siap perang nuklir dengan Uni Soviet. Lewat pertimbangan yang lebih rasional, Kruschev menarik kembali kebijakan politik-militer spekulatifnya itu kembali. Dunia lega. Permukaan bumi tidak jadi hangus rata oleh perang nuklir pada saat itu.

 

Ukraina 1991-2022

Pada 1991, Uni Soviet bubar dan Rusia kembali menjadi negara sendiri. Di sekeliling Rusia berdiri negara-negara merdeka, termasuk Ukraina. Di kawasan itu Rusia dan negara-negara baru sekitarnya pun berbenah. Namun, Rusia sebagai 'beruang' paling besar tetap mengawasi sekeliling. Pada 2014, muncul aspirasi masyarakat Ukraina menumbangkan kekuasaan presidennya bernama Viktor Yanukovych yang pro-Rusia. Rusia pada saat itu langsung mengamankan Krimea, sebuah wilayah Ukraina. Selain itu terus-menerus mendukung gerakan separatis di Donetsk dan Luhansk.

Aspirasi rakyat Ukraina ialah demokrasi, hidup bebas, dan dalam konteks hubungan internasional melepaskan diri dari pengawasan Rusia. Idaman ini ditandai dengan keinginan bergabung ke Uni Eropa dan yang paling bikin Rusia tidak tahan ialah aspirasi bergabung ke NATO. Presiden Volodymir Zelensky serius hendak mewujudkan ini.

Konsekuensi dari bergabungnya Ukraina ke NATO ialah potensi penempatan pasukan dan kekuatan militer NATO di Ukraina. Ini menjadi kunci permasalahan. Mana mau Rusia didekati dalam jarak sepelontaran batu dengan kekuatan bersenjata NATO, yang notabene dikendalikan relatif kuat oleh AS. Disebut sepelontaran batu karena Ukraina berbatasan langsung dengan Rusia. Ketika berbagai manuver diplomasi tidak berhasil menggoyahkan aspirasi dunia bebasnya Ukraina dan Presiden Zelensky, akhirnya 'sang beruang' kesal. Rusia pun memukul Ukraina yang dianggapnya tengil pada 24 Februari 2022.

 

Perkara hegemonik

Hidup di sekitaran hegemonik tidak mudah. Hegemonik dalam konteks hubungan internasional dilekatkan kepada negara yang memiliki kekuatan ekonomi, politik, dan militer yang mampu memengaruhi serta mengarahkan dunia. Pada abad ke-19, Inggris menggapai peran ini. Sementara peran AS yang sejak abad ke-20 menjalankan peran hegemonik dunia, mulai tergerus oleh Tiongkok.

Rusia bukanlah negara hegemonik di tataran dunia. Namun, di sekitar wilayahnya dia ialah raksasa bila melihat besaran GDP, jumlah penduduk, kekuatan militer, dan luas wilayah. GDP per kapita Rusia sudah cukup untuk menunjukkan dia memang 'beruang besar' di kawasannya. Belum pula secara historikal, negara ini ialah warisan kekuasaan besar di wilayahnya pada masa lampau, yang kini masih eksis di bawah kendali Presiden Vladimir Putin.

Putin ialah sebuah pertimbangan dalam kancah hubungan internasional. Pengalamannya memimpin Rusia dari keterpurukan zaman Boris Yeltsin, bukanlah sesuatu yang dapat dipandang enteng. Putin ialah Tsar masa kini. Dia memimpin Rusia selama 22 tahun dan sepertinya akan terus berkuasa selagi dia menginginkannya. Empat presiden AS dilaluinya dan kini dia berinteraksi dengan presiden kelima AS.

Zelensky dan sebagian rakyat Ukraina hidup dalam mimpi demokrasi. Hal itu ialah sesuatu yang ideal saat ini. Namun, demokrasi dapat membuat mereka lupa bahwa Ukraina hidup dalam pengawasan 'beruang besar' bernama Rusia. Belum waktunya Ukraina dapat lepas begitu saja dari Rusia. Ide bergabung ke NATO dengan potensi penempatan militer NATO di Ukraina ialah ide utopis yang sangat mengganggu Rusia.

Mungkin Zelensky dan sebagian rakyat Ukraina dapat belajar dari Tiongkok. Sejak 1978 ketika Deng Xiaoping mulai merestorasi ekonomi Tiongkok, negara ini tetap menjaga maruah hegemoni AS. Kapan Tiongkok akan benar-benar lepas dari genggaman AS, ialah ketika perekonomian, kapasitas militer, teknologi dan ilmu pengetahuannya, telah benar-benar sejajar atau bahkan di atas negeri Paman Sam tersebut.

Tiongkok sudah beberapa kali mencobanya, tapi tidak dengan Taiwan. Tiongkok belum sekali pun mencoba intervensi Taiwan sekalipun itu ialah miliknya. Mereka masih tetap mempertimbangkan kekuatan hegemonik AS. Ukraina pun dapat demikian untuk lepas dari kendali Rusia, tapi belum sekarang. Mungkin tunggu Rusia melemah kembali seperti kehancuran Uni Soviet atau ketika Putin menjadi lemah. Atau bisa saja pengganti Putin kelak ialah seorang pemimpin lemah. Itu pun Ukraina harus mendukungnya dengan kekuatan ekonomi, militer, teknologi, dan pengaruh internasional yang luas.

Baca Juga

MI/RAMDANI

Demokrasi dan Pendidikan Politik

👤IGK Manila Gubernur Akademi Bela Negara (ABN) Partai NasDem 🕔Selasa 24 Mei 2022, 05:05 WIB
PESTA politik 2024 masih kurang lebih dua tahun lagi. Namun, ingar bingar di baik lingkungan partai politik maupun masyarakat luas sudah...
MI/Seno

Mewaspadai Tekanan Stagflasi Global

👤Ryan Kiryanto Ekonom dan Staf Ahli Otoritas Jasa Keuangan 🕔Selasa 24 Mei 2022, 05:00 WIB
Pandemi covid-19 dan perang Rusia-Ukraina menambah masalah, menyebabkan inflasi lebih tinggi, dan memperlambat pertumbuhan...
Dok pribadi

Wacana Normalisasi Kebangsaan

👤Wahyu Harjanto, Peneliti di Mindset Institute, Yogyakarta 🕔Senin 23 Mei 2022, 14:35 WIB
sikap para pengguna pesawat di YIA (Yogya International Airport) yang tidak responsif saat lagu kebangsaan Indonesia Raya...

E-Paper Media Indonesia

Baca E-Paper

Berita Terkini

Selengkapnya

BenihBaik.com

Selengkapnya

MG News

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya