Senin 03 Januari 2022, 05:00 WIB

Kurikulum Prototipe

Syamsir Alam Dewan Pengawas Yayasan Sukma | Opini
Kurikulum Prototipe

MI/Duta

 

KEMENTERIAN Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemendikbudristek) pada 2022 ini akan menambah jangkauan penerapan kurikulum, yang diklaim sebagai kurikulum paradigma baru, yang selanjutnya dijuluki Kurikulum Prototipe. Kurikulum ini sudah diterapkan secara terbatas pada kelas tertentu di sekitar 2.500 satuan pendidikan (sekolah penggerak) mulai dari jenjang pendidikan dasar (SD), sekolah menengah pertama (SMP), hingga sekolah menengah atas (SMA) serta sekolah menengah kejuruan pusat keunggulan (SMK-PK).

Kurikulum Prototipe disebutkan bukanlah kurikulum baru sebagaimana 'dituduhkan selama ini'. Sebaliknya, Kurikulum Prototipe ini, menurut Kemendikbudristek, hanyalah merupakan penyempurnaan dari Kurikulum 2013 yang sampai saat ini masih tetap berlaku dan dapat digunakan. Kurikulum Prototipe pada 2022 hanya akan ditawarkan sebagai alternatif atau pilihan acuan pembelajaran bagi satuan pendidikan yang berminat atau siap. Jadi, bukanlah suatu keharusan atau 'mandat'. Dikemukakan, terdapat tujuh hal baru pada Kurikulum Prototipe yang membedakan dengan kurikulum sebelumnya. Pertama, struktur kurikulum, profil pelajar Pancasila, yang akan menjadi acuan dalam pengembangan standar isi, standar proses, dan standar penilaian, atau struktur kurikulum, capaian pembelajaran, dan asesmen pembelajaran.

Kedua, istilah KI dan KD diganti menjadi capaian pembelajaran (CP). Kita sudah mengenal dan paham bahwa KI (kompetensi inti) dan KD (kompetensi dasar) merupakan kompetensi yang harus dicapai oleh siswa setelah proses pembelajaran. Namun, dalam Kurikulum 2022 dikenalkan dengan julukan baru, yaitu capaian pembelajaran (CP) yang merupakan rangkaian pengetahuan, keterampilan, dan sikap sebagai suatu kesatuan proses untuk mengembangkan kompetensi yang utuh bagi siswa. Konsekuensinya, asesmen yang dikembangkan akan mencakup seluruh capaian pembelajaran yang telah ditetapkan sebelumnya.

Ketiga, pembelajaran tematik yang sebelumnya hanya terbatas pada kelas 4, 5, dan 6 SD saja, pada Kurikulum Prototipe pembelajaran tematik bisa diterapkan pada jenjang SMP dan SMA. Sebaliknya, pada jenjang SD juga bisa dilakukan pembelajaran berbasis mata pelajaran, bukan tematik semata.

Keempat, jumlah jam pelajaran ditetapkan per tahun. Jika dalam kurikulum sebelumnya penetapan jumlah jam pelajaran berlaku per minggu, pada Kurikulum Prototipe jumlah jam pelajaran ditetapkan per tahun sehingga sekolah memiliki kelenturan (fleksibilitas) dalam mengatur pelaksanaan kegiatan pembelajaran. Suatu mata pelajaran bisa diajarkan pada semester ganjil atau dapat dilakukan sebaliknya, selama bukan merupakan prasyarat atau bahan ajar yang bersifat vertikal.

Kelima, pembelajaran kolaboratif. Penerapan pembelajaran kolaboratif yang berbentuk project bertujuan mengembangkan profil pelajar Pancasila melalui pengalaman pembelajaran (experiential learning) dan mengintegrasikan kompetensi esensial yang dipelajari peserta didik dari berbagai disiplin ilmu. Pembelajaran berbasis project dinilai juga akan membantu guru dalam mengembangkan soft skill siswa dan dapat mempersiapkan siswa dengan pengetahuan dan kompetensi sesuai dengan tuntutan zaman sehingga siswa dapat berperan di lingkungannya.

Selain itu, sekolah diberikan keleluasaan untuk menerapkan dan membuat asesmen di antara mata pelajaran atau lintas mata pelajaran pada penilaian sumatif dalam bentuk project, yang di dalamnya mencakup beberapa aspek mata pelajaran sekaligus. Pada jenjang SD dapat melakukan paling sedikit dua kali penilaian project dalam setahun. Adapun untuk siswa SMP dan SMA/SMK setidaknya dapat melakukan penilaian project tiga kali dalam satu tahun.

Keenam, mata pelajaran TIK (teknologi informasi dan komunikasi) diajarkan kembali. Pada kurikulum sebelumnya mata pelajaran TIK dihilangkan. Dalam Kurikulum Prototipe dihadirkan kembali dengan sebutan informatika, yang akan diajarkan mulai jenjang SMP. Di sekolah yang belum memiliki sumber daya atau guru informatika, mata pelajaran informatika ini dapat diajarkan oleh guru umum. Kemendikbudristek telah mempersiapkan buku atau modul pembelajaran informatika yang sangat mudah dipahami dan digunakan oleh guru dan siswa.

Ketujuh, mata pelajaran ilmu pengetahuan alam sosial (IPAS). Mata pelajaran IPA (ilmu pengetahuan alam) dan IPS (ilmu pengetahuan sosial) pada jenjang SD kelas 4, 5, dan 6 yang selama ini berdiri sendiri, pada Kurikulum Prototipe akan diajarkan secara bersamaan melalui IPAS. Selanjutnya, di SMA sebelumnya terdapat penjurusan seperti IPA, IPS, dan bahasa, pada Kurikulum Prototipe ada sedikit perubahan. Di kelas 10 pelajar hanya menyiapkan diri untuk menentukan pilihan mata pelajaran di kelas 11. Di kelas 11 dan 12 pelajar mengikuti mata pelajaran dari kelompok mata pelajaran (mapel) wajib, dan memilih mapel dari kelompok MIPA, IPS, bahasa, dan keterampilan vokasi sesuai minat dan bakat.

 

Disparitas kualitas

Pada periode 2022-2024, Kurikulum Prototipe akan berlaku dan digunakan berdampingan dengan Kurikulum 2013 dan Kurikulum Darurat. Dengan tersedianya 3 (tiga) macam pilihan kurikulum yang akan dapat digunakan oleh setiap satuan pendidikan, potensi bakal terciptanya kesenjangan mutu pembelajaran dan lulusan merupakan sesuatu yang perlu diantisipasi dan dipikirkan secara matang.

Walaupun disebutkan seluruh proses pembelajaran meski dengan kurikulum yang berbeda tetap harus mengacu pada standar nasional pendidikan (SNP), dengan kualitas guru yang masih sangat beragam, kebiasaan mengajar dengan kurikulum yang sangat preskriptif, apalagi dengan ditiadakannya alat ukur baku (standardized test) yang sudah terkalibrasi, maka perbandingan kualitas hasil pembelajaran akan sangat sulit dilakukan.

Akibatnya, kesenjangan mutu pada tingkat proses dan hasil pembelajaran akan sangat sulit untuk diketahui secara cepat. Untuk itu, Kemendikbudirstek perlu menyiapkan pelatihan intensif dan masif terhadap guru, baik terkait penguasaan konten (thinking skills), pedagogi, dan literasi penilaian (assessment literacy). Selain itu, kesadaran atas teachers professional identity perlu terus ditumbuhkan di kalangan guru dan pendidik, mengingat semakin luasnya otonomi yang mereka miliki dalam pengelolaan pembelajaran.

Selama ini, kecepatan pemerintah melakukan pembaruan kurikulum selalu mendahului kemampuan mereka untuk menyiapkan gurunya. Jarang sekali pekerjaan ini bisa berjalan seiring. Dengan begitu, setiap implementasi kurikulum baru akan selalu menghadapi tantangan di lapangan atau di sekolah, bukan karena kurikulumnya yang tidak andal (rigor), tapi kemampuan gurunya yang tidak disiapkan secara baik. Penguatan kapasitas guru pada aspek konten (thinking skills), pedagogi, dan literasi penilaian serta menumbuhkan kesadaran akan tanggung jawab profesional (teachers’ identity) hendaknya menjadi perhatian dan dapat menjadi 'program utama' Kemendikbudristek menjelang akan dikeluarkan dan diberlakukannya kurikulum baru pada 2024 mendatang. Semoga asa ini bisa diwujudkan. Wallahu a’lam bi al-Shawab.

Baca Juga

MI/RM Zen

Melihat Perspektif Negara dalam Kasus Penolakan Abdul Somad Masuk Singapura

👤Akhmad Mustain, Editor Media Indonesia 🕔Sabtu 21 Mei 2022, 12:46 WIB
Namun, persoalannya bukanlah urusan benar-salahnya alasan pemerintah Singapura. Kedaulatan Singapura terhadap negaranya sendiri bersifat...
Dok. Pribado

Pengembangan Ekonomi Pesantren untuk Membangun Manusia Seutuhnya

👤Mohammad Nuryazidi PhD Student at University of Southampton, Wakil Katib Syuriah PCI NU United Kingdom 🕔Sabtu 21 Mei 2022, 05:00 WIB
PADA tahun 1999, pemenang Nobel Ekonomi Amrtya Sen menulis Development as...
MI/Ebet

Menyelesaikan Kontradiksi

👤Saur M Hutabarat Dewan Redaksi Media Group 🕔Jumat 20 Mei 2022, 05:10 WIB
APAKAH kita sebagai bangsa memiliki nilai-nilai baik bagi Indonesia...

E-Paper Media Indonesia

Baca E-Paper

Berita Terkini

Selengkapnya

BenihBaik.com

Selengkapnya

MG News

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya