Kamis 21 Oktober 2021, 05:00 WIB

Sunah Kebangsaan Nabi

Hasibullah Satrawi Pengamat Politik Timur Tengah dan Dunia Islam Alumnus Al-Azhar, Kairo, Mesir | Opini
Sunah Kebangsaan Nabi

MI/Seno

 

HAKIKAT dari perayaan Maulid Nabi Muhammad SAW pada akhirnya tak lain adalah mengikuti keteladanan atau sunah beliau sebagai sosok panutan penuh dengan keagungan. Di satu sisi, mengikuti sunah menjadi bukti cinta sekaligus obat kerinduan bagi beliau. Sementara di sisi yang lain, mengikuti sunah merupakan salah satu dari dua jalan keselamatan bagi umat Islam, yaitu Al-Quran dan sunah Nabi Muhammad SAW.

Dalam salah satu hadis, Nabi Muhammad SAW mengatakan, “Aku tinggalkan dua perkara untuk kalian (umat). Kalian tidak akan tersesat selama berpegang teguh pada keduanya, yaitu Al-Quran dan sunahku.”

Sebagai sosok agung sekaligus teladan, ada banyak kebaikan yang harus ditiru dari Baginda Nabi Muhammad SAW. Salah satunya kebaikan terkait kepribadian dan kepemimpinan.

 

Kepribadian unggul

Sebagai pribadi, Nabi Muhammad SAW memiliki sejumlah kebiasaan agung yang harus diteladani oleh umat Islam. Di dalam pendidikan Islam, kebiasaan-kebiasaan agung Nabi dikenal dengan istilah sifat-sifat Nabi, yaitu as-sidq  (jujur), amanah (tepercaya), tablig (menyampaikan), dan fatanah (cerdas).

As-sidq  atau jujur berada pada urutan pertama dari sifat-sifat agung Baginda Nabi Muhammad SAW. Hal ini menandakan pentingnya kejujuran sebelum kebiasaan, kecakapan, atau bahkan keahlian lainnya. Bahkan pada tahap tertentu, kecakapan ataupun keahlian lainnya menjadi tak berguna manakala tidak berdiri di atas kebiasaan jujur.

Pada urutan kedua dan ketiga, ada sifat amanah dan tablig. Di dalam ilmu tentang akidah Islam, amanah biasanya dimaknai sebagai tepercaya. Artinya, apa pun yang disampaikan Nabi adalah yang diterima dari Allah SWT.

Adapun sifat tablig dimaknai sebagai sikap menyampaikan amanah. Artinya, kalau ada hal-hal yang diamanahkan kepadanya, Nabi Muhammad SAW pasti menyampaikannya. Alih-alih tidak disampaikan, mengurang-ngurangi atau melebih-lebihkan pun tak pernah dilakukan oleh Nabi Muhammad SAW.

Dengan kata lain, Nabi adalah sosok yang bertanggung jawab. Beliau tak hanya sosok tepercaya (amanah) terkait hal-hal yang menjadi tugasnya, tapi juga menyampaikannya (tablig) secara presisi walaupun harus menghadapi ancaman apa pun. Inilah yang diperlihatkan oleh Nabi, terutama ketika beliau berada di Mekah yang kerap mendapatkan perlakuan tidak adil dari para penguasa Mekah waktu itu. Hal ini terjadi hanya karena Nabi menyampaikan secara jujur apa yang diamanahkan oleh Allah kepada beliau.

Sifat yang keempat, yakni fatanah, berarti cerdas. Di dalam ilmu akidah Islam, sifat-sifat Nabi di atas menjadi sangat penting karena sifat-sifat inilah yang bisa dijadikan ‘jaminan’ bahwa tak ada ajaran atau wahyu apa pun dari Allah yang tidak disampaikan kepada manusia (umatnya).

Secara urutan, sifat-sifat Nabi di atas menunjukkan betapa pentingnya kepintaran untuk ditopang dengan karakter kejujuran (as-sidq) dan tanggung jawab (amanah, tablig). Hingga kepintaran seseorang tidak justru digunakan untuk hal-hal buruk, seperti ngakali  ketentuan agar bisa korupsi atau mengedepankan kepentingan pribadi di atas kepentingan umum.

Pada tahap tertentu, bangsa Indonesia saat ini mengalami fenomena kepintaran tanpa kejujuran dan tanggung jawab. Secara statistik, angka keterpelajaran semakin bertambah dalam beberapa waktu belakangan. Tapi angka-angka keterpelajaran yang ada tidak berbanding lurus dengan tumbuhnya nilai-nilai karakter sebagaimana sifat-sifat Nabi di atas. Banyak orang terpelajar yang justru melakukan korupsi, mengedepankan kepentingan pribadi di atas kepentingan publik, bahkan juga melakukan aksi kekerasan.

 

Kepemimpinan

Ada beberapa hal dari kepemimpinan Nabi Muhamamd SAW yang sejatinya dipedomani oleh masyarakat, khususnya para pemimpin. Pertama, karakter unggul yang bersifat autentik. Dengan kata lain, hal-hal agung yang dimiliki oleh Nabi Muhammad SAW bersifat autentik. Inilah yang pada akhirnya membuat Nabi dilamar, dicalonkan, dan akhirnya dipilih menjadi pemimpin di Madinah.

Pada masa sekarang, masyarakat kesulitan untuk mengenali karakter autentik dari seorang calon pemimpin. Mengingat, kampanye yang dimaksudkan untuk memperkenalkan karakter-karakter dari calon pemimpin yang ada justru acap menjadi ajang pencitraan semata. Hingga semua calon pemimpin terlihat hebat dalam kampanye maupun panggung debat, tapi justru acap tak terlihat ketika sudah mulai menjabat.

Kedua, pemerintahan yang adil, tanpa diskriminasi. Hal ini terlihat jelas dari Piagam Madinah, yang menunjukkan betapa maju (bahkan melampaui zamannya secara ratusan tahun) tradisi pemerintahan yang dibangun Nabi di Madinah. Hingga hak dan kewajiban segenap warga diatur secara terbuka dan setara, baik yang beragama Islam maupun yang tidak beragama Islam.

Ketiga, mengedepankan kepentingan umum. Hidup bernegara pada akhirnya dimaksudkan untuk mengedepankan kepentingan umum di atas kepentingan pribadi, terutama terkait dengan fasilitas bersama yang tak bisa dilakukan oleh pribadi-pribadi.

Oleh karena itu, ketika menjadi pemimpin di Madinah, melalui Piagam Madinah, Nabi Muhammad SAW mengatur sejumlah ketentuan bagi segenap warga Madinah. Termasuk, kepentingan umum yang bisa dicontohkan dengan kewajiban warga Madinah untuk membela ‘negaranya’ dari serangan pihak luar. Kajian cukup detail yang dilakukan oleh filsuf Arab berkebangsaan Maroko, Muhammad Abid Al-Jabiri, sangat menarik untuk melihat hak-hak dan kewajiban yang diatur dalam Piagam Madinah, termasuk kewajiban membela Madinah dari serangan pihak luar (Al-Aqlu As-Siyasi Al-Arabiy,  2000: 95).

Inilah sunah kebangsaan dari Baginda Nabi Muhammad SAW yang harus dipedomani oleh masyarakat, baik dari unsur masyarakat umum maupun rakyat atau dari unsur para pemimpin bangsa. Karakter-karakter luhur sebagaimana di atas penting dimiliki oleh masyarakat luas sehingga masyarakat bisa dipimpin secara baik. Di lain pihak, para pemimpin harus memperhatikan visi-visi kepemimpinan sebagaimana di atas hingga bisa menjadi pemimpin yang baik.

Kebaikan masyarakat yang dipimpin dan kebaikan para pemimpin merupakan dua syarat mutlak menuju negara ideal yang dalam Al-Quran disebut dengan istilah baldatun thayyibatun wa robbun ghafur  (negeri baik yang diampuni Tuhan).

Baca Juga

MI/Duta

Apa Anehnya Pertemuan para Tokoh Politik?

👤Guntur Soekarno Pemerhati Sosial 🕔Kamis 09 Desember 2021, 05:05 WIB
MENDEKATI Pemilihan Umum Presiden (Pilpres) 2024, selain banjir deklarasi mendukung tokoh-tokoh politik, marak hasil analisis-analisis dari...
MI/Seno

RUU TPKS Perang Melawan Ancaman Kekerasan Seksual

👤Atang Irawan Dosen Hukum Tata Negara Fakultas Hukum Universitas Pasundan 🕔Kamis 09 Desember 2021, 05:00 WIB
KEKERASAN dalam bentuk apa pun dan dilakukan siapa pun ialah pengingkaran terhadap nilai-nilai kemanusiaan yang harus segera...
MI/ADAM DWI

Pengadilan HAM Dinanti

👤Amiruddin al-Rahab Wakil Ketua Komnas HAM-RI, Pengajar di FH Ubhara Jaya 🕔Rabu 08 Desember 2021, 05:05 WIB
TUJUAN utama dari disahkannya UU tentang Pengadilan HAM, ialah untuk mempertanggungjawabkan dan menyelesaikan pelanggaran HAM yang berat...

E-Paper Media Indonesia

Baca E-Paper

Berita Terkini

Selengkapnya

BenihBaik.com

Selengkapnya

MG News

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya