Senin 08 Maret 2021, 05:00 WIB

Benci Asing

Fithra Faisal Hastiadi Dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia Direktur Eksekutif Next Policy | Opini
Benci Asing

MI/Seno

DI tengah dinginnya musim dingin 1996, Patrick (Pat) Buchanan berjalan menghampiri sebuah toko bunga. Dia ingat untuk membawa sesuatu untuk istrinya, Shelley, sebagai hadiah valentine. Dari toko bunga tersebut kemudian dia menyadari ada yang salah, kebanyakan bunga mawar yang dijual di toko tersebut berasal dari Amerika Selatan.

 

Menegaskan posisi

Sebagai seorang yang beraliran paleo konservatif, Pat kemudian semakin menegaskan posisinya, untuk menentang limpahan produk asing yang menyerbu Amerika Serikat. Dia kemudian menjadikan pantauannya ini sebagai tema sentral kampanyenya dalam konvensi presiden dari Partai Republik, bersaing dengan Bob Dole dan Steve Forbes.

Sebagaimana sejarah mencatat, Pat maju hanya untuk mendapati dirinya dikalahkan secara telak oleh Bob Dole, yang akhirnya juga kalah oleh calon dari Partai Demokrat, Bill Clinton.

Apa yang salah? Banyak hal, tetapi salah satunya ialah karena ide-idenya yang terlalu ekstrem menantang globalisasi, yang saat itu tengah jumawa di Barat. Salah satu ide konyolnya semasa kampanye ialah betapa dia menginginkan untuk mendorong rakyat Amerika Serikat untuk memproduksi bunganya sendiri. Ingat, di Februari pada puncak musim dingin, untuk memproduksi bunga dibutuhkan rumah kaca dan juga para ahli untuk merawatnya secara insentif.

Alih-alih menjual satu buket bunga mawar seharga US$10, mungkin harganya akan melonjak menjadi US$100, sangat tidak kompetitif! David Ricardo mengajarkan kita, bahwa dengan melakukan spesialisasi di sektor-sektor yang unggul, sebuah negara bisa menggenjot produksi hingga mencetak surplus.

Surplus ini berasal dari gap antara kebutuhan dalam negeri, dengan besarnya produksi barang di negara tersebut. Surplus produksi ini pada gilirannya bisa diekspor ke negara lain, demi mendapatkan keuntungan perdagangan (gains from trade). Dari sini, keuntungan yang didapat bisa dibelanjakan untuk membeli barang-barang kebutuhan yang tidak bisa secara efisien dihasilkan sendiri. Dengan demikian, bisa kita katakan secara sederhana, bahwa impor ialah metode produksi tidak langsung (indirect method of production).

Spesialisasi produksi akan memicu efisiensi, begitu kira-kira mantranya. Dengan dunia yang smakin terhubung dan semakin membutuhkan, peran partner dagang menjadi semakin penting. Bahkan, di satu titik tertentu akan memicu terjadinya konvergensi antarnegara maju dan negara berkembang, sebagaimana yang disampaikan Richard Baldwin dalam bukunya The Great Convergence atau yang juga disampaikan Paul Samuelson mengenai Factor Price Equalization. Dengan jaringan rantai produksi yang semakin intensif, negara-negara berkembang yang memiliki keunggulan dari sisi upah murah menjelma menjadi basis produksi yang solid menopang negara-negara maju. Pada prosesnya, negara berkembang mendapatkan limpahan manfaat dari sisi kapasitas dan juga teknologi, untuk berkembang menjadi salah satu pusat produksi yang efisien.

Tiongkok, Taiwan, dan Korea Selatan, yang dulunya menjadi bagian dari tier kedua dan ketiga jaringan rantai produksi Amerika Serikat dan Jepang, kini menjelma menjadi kekuatan ekonomi dunia. Konvergensi inilah yang kemudian memicu kompleksitas tersendiri di negara-negara maju, terutama di Amerika Serikat.

Amerika Serikat yang dulu menjadi patron globalisasi, kini hanya bisa berada dalam selubung negara-negara di Asia, terutama Tiongkok. Dengan Asia yang semakin merajai rantai produksi global, kampanye antiglobalisasi justru muncul dari negara-negara Barat. Terjadinya Brexit dan terpilihnya Trump pada 2016 hanyalah produk dari kampanye tersebut.

Jika Pat gagal pada 1996, kehadiran Trump yang meresonansi kampanye Pat justru mendulang untung pada 2016. Konsekuensi dari semakin efisiennya jaringan produksi di negara-negara berkembang ialah lokasi industri menjadi sangat fleksibel dengan mengalir menuju tempat yang menawarkan ongkos produksi lebih rendah, dalam ilmu ekonomi fenomena ini lebih dikenal sebagai hollowing out.

Konsekuensinya, untuk negara maju seperti Amerika Serikat, industri kemudian pindah ke negara-negara berkembang seperti Meksiko, Tiongkok, Brasil, dan negara-negara lain yang serupa. Dampak jangka pendeknya ialah terjadi penyesuaian cukup signifikan pada daerah-daerah industri di Amerika Serikat.

Saya kemudian melihat data Wisconsin, Michigan, Pennsylvania, Tennessee, dan Arizona ialah daerah-daerah yang terdampak cukup keras dari fenomena hollowing out ini. Bukan kebetulan jika daerah-daerah ini ialah daerah tempat Trump unggul atas Clinton. Secara teori maupun empiris, perdagangan internasional dan jaringan produksi menawarkan keuntungan jangka panjang kepada para pelakunya.

Saya bahkan telah mengulasnya panjang lebar, dalam buku saya Trade Strategy in East Asia dan juga Globalization and Production Network in ASEAN, yang keduanya diterbitkan Palgrave Macmillan. Akan tetapi, sepositif apa pun dampaknya di jangka panjang, dalam jangka pendek tetap saja ada penyesuaian, yakni para pekerja yang kurang terdidik dan memiliki kemampuan terbatas merupakan golongan yang paling berat.

Saya termasuk yang percaya bahwa perdagangan internasional dengan segala turunannya akan membawa kemakmuran terhadap negara-negara yang melakukannya. Apalagi, sekarang kita hidup di era perjanjian kerja sama skala besar. Negara-negara yang menentang arus hanya akan mendapatkan konsekuensi buruk di jangka panjang, meskipun di jangka pendek mereka bisa saja menuai keuntungan.

Akan tetapi, sebagaimana telah saya sampaikan, pekerja-pekerja tersebut tidak peduli dengan dampak jangka panjang yang memang tidak kasatmata. Mereka ingin perbaikan dan mereka butuh perbaikan itu sekarang bukan besok dan bukan tahun depan. Mereka butuh itu sekarang!

Sebagaimana ungkapan masyhur dari Keynes in the long run we are all dead. Inilah yang dilupakan demokrat, pekerja-pekerja ini bukan sekadar angka, melainkan juga mereka manusia, dan bahkan pemilih potensial. Kebijakan-kebijakan ekonomi yang terlalu agresif tidak diimbangi dengan pertahanan jangka pendek. Imbasnya, demokrat dihukum melalui kekalahan Clinton. Biden memang menang pada2020, tetapi militansi dari pendukung Trump yang menjadi korban globalisasi tetap menjadi pekerjaan rumah yang terus hadir.

 

Relevan

Dalam konteks inilah pidato Presiden Jokowi beberapa waktu lalu mengenai Benci Asing menjadi relevan. Indonesia sudah lama ‘dikangkangi’ asing dan belum bisa menjadi tuan di negeri sendiri. Di tengah dengan gemuruh rantai produksi di Asia, Indonesia justru belum mampu untuk menangguk keuntungan.

Dalam bab pertama buku Globalization and Production Network in ASEAN, saya telah menyampaikan fakta bahwa Indonesia sudah sangat tertinggal dari sejawatnya di ASEAN. Apalagi, jika melihat tren Incremental Capital Output Ratio (ICOR) yang terus meningkat hingga lebih dari 6 jauh di atas level sebelum krisis (periode 1993-1996) yang sebesar 3.8 dan salah satu yang terburuk di ASEAN.

Hal ini menandakan bahwa perekonomian Indonesia sangat tidak efisien. Dengan demikian, wajar saja Indonesia menjadi bulan-bulanan yang berujung pada tekornya neraca dagang. Namun, 2020 sepertinya justru menghadirkan peluang untuk Indonesia, meski covid-19 menjadi hantu perekonomian sepanjang tahun, dalam konteks jaringan produksi dan juga perdagangan internasional, pandemi seakan membawa berkah. Ada setidaknya dua hal yang membuat badai pandemi ini menjadi berkah untuk Indonesia, faktor Tiongkok dan faktor relokasi.

Dengan Tiongkok yang berhasil menghindari resesi, permintaan dari negeri panda tersebut terhadap barang baku, dan kebutuhan industri dari ASEAN justru meningkat. Hal ini terjadi karena industri mereka masih suboptimal sehingga diperlukan barang baku dari ASEAN, untuk menopang perekonomian mereka. Indonesia juga menuai manfaat yang besar, bahkan merangsek di atas dalam kompetisinya dengan sesama negara ASEAN.

Yang berikutnya ialah faktor relokasi selama pandemi negara-negara besar, seperti Amerika Serikat, Jepang, dan Eropa tampaknya sadar bahwa ketergantungan produksi yang berlebihan pada Tiongkok bisa jadi menyakitkan apabila terjadi gejolak di masa mendatang. Oleh karenanya, mereka kini mencoba untuk mengejar resiliensi dan meninggalkan sementara patron efisiensi untuk mengejar negara-negara alternatif, untuk kebutuhan impor dan juga basis produksi.

Bahkan, mantan Perdana Menteri Shinzo Abe Jepang sudah terang-terangan memberikan sebagian dari stimulus pandeminya, untuk memindahkan pabrik-pabrik Jepang yang masih ada di Tiongkok. Tampaknya ini akan menjadi semakin menarik menyimak langkah dari Yoshihide Suga, yang mengunjungi Indonesia, segera setelah dilantik menjadi Perdana Menteri Jepang beberapa waktu yang lalu.

Bukan suatu yang kebetulan, ketika beberapa hari yang lalu kita juga mendengar beberapa pabrik Jepang, seperti Panasonic Manufacturing, Denso dan Sagami berancang-ancang hengkang dari Tiongkok menuju Indonesia.

 

Solid

Perekonomian Indonesia juga tampak solid memasuki 2021, dengan Purchasing Manager Index (PMI) yang konsisten memasuki wilayah ekspansi. Bahkan, posisinya pada Januari ialah yang tertinggi selama 6 tahun terakhir. Begitu juga dengan surplus perdagangan yang justru makin gacor sepanjang pandemi, menyentuh US$21,74 miliar, tertinggi sejak 2012.

Menariknya, surplus terjadi bukan hanya karena mandeknya impor selama pandemi, melainkan juga ditolong naiknya kinerja ekspor. Pantauan mesin artificial intelligence kami, dari puluhan juta data poin, juga menunjukkan bahwa impor bukan merupakan hal yang paling mengkhawatirkan sepanjang 2020, dan tampaknya posisi perdagangan internasional sepanjang 2021 juga masih akan melaju dengan tren yang cukup baik. Bahkan, terhitung ada 37 kasus hambatan perdagangan yang berasal dari 14 negara terhadap produk-produk ekspor Indonesia selama pandemi. Ketika ditakuti dan dihambat, berarti kita sudah berada pada jalur yang tepat.

Benci asing, sedikit banyak ialah ekspresi kegelisahan Presiden, tetapi saya rasa keadaan sudah bergerak ke wilayah yang lebih positif. Namun demikian, kita patut untuk tetap gelisah karena momentum ini sempit dan bisa saja kemudian kita ketinggalan gerbong lagi. Hanya saja, benci ialah kata yang terlalu keras, meski saya paham kegelisahan Presiden, tetapi para penasihat dan juga pembuat naskah harus bisa melakukan moderasi.

Di dunia yang serbaterhubung, satu kata bisa sangat menghancurkan. Benci, bahkan bisa menghadirkan retaliasi yang juga bisa jadi lebih keras dari negara partner, yang pada gilirannya menghambat usaha-usaha ekspansi perdagangan dan undangan untuk berinvestasi di Indonesia.

Baca Juga

MI.Seno

Merger Perusahaan Digital Berselancar dengan Momentum

👤Fithra Faisal Hastiadi Dosen FEB Universitas Indonesia, Direktur Eksekutif Next Policy 🕔Selasa 13 April 2021, 05:00 WIB
SAYA ingat sekali, perbincangan dengan Profesor David Meyer beberapa tahun yang...
Dok Pribadi

Kapitalisme Vaksin

👤Bernadinus Steni Kandidat Doktor Program Studi Pengelolaan SDA dan Lingkungan IPB 🕔Senin 12 April 2021, 11:25 WIB
Kemitraan antara pemerintah dan perusahaan farmasi mengalami metamorfosa nilai, dari kebajikan publik menjadi agen...
Dok. Pribadi

Terorisme dan Pendidikan Moral

👤Khairil Azhar Divisi Pelatihan Pendidikan Yayasan Sukma 🕔Senin 12 April 2021, 05:00 WIB
SUDAH dua kali dalam hitungan jarak hanya beberapa hari kami sekeluarga ‘wisata belajar’ ke Polres Metro Jakarta...

E-Paper Media Indonesia

HALAMAN FOKUS EKSTRA 4 HALAMAN

Fokus Edisi

Salah Kaprah Salurkan Energi

Kenakalan remaja pada masa lalu hingga masa kini masih ada, bahkan semakin meninggi. Itu terjadi karena remaja sering kali mementingkan solidaritas grup.

Baca E-Paper

Berita Terkini

Selengkapnya

BenihBaik.com

Selengkapnya

MG News

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya