Headline
Gibran duga alih fungsi lahan picu tanah longsor di Cisarua.
Gibran duga alih fungsi lahan picu tanah longsor di Cisarua.
Kumpulan Berita DPR RI
UPAYA menjual potensi komoditas di lahan gambut terus digaungkan. Salah satunya oleh Koalisi Masyarakat Pantau Gambut.
Lewat situs 222.pantaugambut.id, mereka meluncurkan fitur baru Peatland Business Hub untuk mengembangkan potensi komoditas di lahan gambut.
"Fitur ini memuat informasi potensi komoditas gambut yang dapat digunakan calon investor untuk menjajaki kerja sama investasi. Kami juga membangun ekosistem bisnis komoditas gambut yang sehat," kata Koordinator Nasional Pantau Gambut, Lola Abas, Selasa (16/11).
Ia menambahkan potensi komoditas di lahan gambut tergolong besar. "Kami membantu menyiapkan media perantara untuk menghimpun informasi potensi komoditas dan terhubung dengan investor," tambah Lola.
Dengan upaya itu, pihaknya berharap komoditas dari lahan gambut dapat berkembang menjadi potensi ekonomi bernilai tambah. Dampaknya, bisa menjaga keberlangsungan ruang hidup dan pendapatan masyarakat di lahan
gambut, sekaligus memperkuat pola pikir masyarakat untuk selalu menjaga lahan gambut di sekitarnya.
Potensi kegiatan ekonomi berbasis komoditas di lahan gambut akan berkembang lebih pesat menjadi potensi ekonomi yang menjanjikan nilai
tambah apabila berada dalam ekosistem bisnis yang mendukung. Untuk itu,
potensi komoditas dibangun dengan pertimbangan pemeliharaan lahan gambut berkelanjutan oleh masyarakat gambut sebagai pemangku kepentingan utama.
Peatland Business Hub akan memuat informasi-informasi potensi komoditas
gambut yang kemudian dapat digunakan oleh calon investor untuk menjajaki kerja sama investasi.
Indonesia memiliki luas lahan gambut mencapai 13.43 juta hektare (data 2019), yang membuatnya menjadi nomor empat terluas di dunia, dan merupakan lahan gambut tropis terluas di dunia.
Lahan gambut adalah rumah dari keanekaragaman hayati Indonesia yang menyimpan 57 gigaton karbon, atau sekitar 10,36% karbon dunia.
Saat kebakaran hutan dan lahan terjadi pada 2015, 53% dari total lahan yang terbakar adalah gambut. Kebakaran yang terjadi di 32 provinsi di Indonesia pada tahun itu melepaskan emisi gas rumah kaca sebesar 1.636 juta ton CO2 atau lebih dari total emisi harian gas rumah kaca di Amerika Serikat dan menimbulkan kerugian negara hingga Rp220 triliun.
Sementara itu, Pantau Gambut bekerja sama dengan ASYX Indonesia dalam membangun dan mengembangkan Peatland Business Hub.
Lishia Erza, Direktur Proyek Peatland Business Hub dari ASYX, optimistis bahwa fitur baru ini akan memberikan ekosistem bisnis yang lebih baik bagi komoditas di lahan gambut.
"Fitur ini dikembangkan untuk mengoptimalkan informasi komoditas menjadi informasi yang berguna untuk investor. Fitur ini akan
menghadirkan skema rantai pasok yang tepat untuk komoditas gambut, sehingga produk-produk dapat didistribusi dengan baik dan dibeli dengan harga yang pantas. Dengan teknologi digital, fitur ini akan hadir dengan informasi yang akurat dan terkini," ujar Lishia. (N-2)
Lokasi rawan kebakaran gambut sebenarnya bisa diidentifikasi lebih awal. Tapi dana daerah baru bisa digunakan setelah bencana terjadi, bukan untuk antisipasi. Itu problem utamanya.
Di sebuah ladang sederhana di kawasan timur Inggris, eksperimen bersejarah tengah dilakukan. Ahli ekologi sekaligus petani padi pertama di Inggris, berhasil menumbuhkan padi.
Perkebunan monokultur skala besar di area konsesi korporasi masih menjadi penyebab utama kebakaran hutan dan lahan (karhutla) tahun ini.
Pantau Gambut mengatakan kondisi 2025 masih menunjukkan pola rawan karhutla, terutama di tengah puncak musim kemarau yang diperkirakan berlangsung hingga Oktober.
YAYASAN Madani Berkelanjutan mencatat bahwa hingga Agustus 2025 terdapat sekitar 218 ribu hektare area indikatif lahan gambut terbakar.
Periset Pusat Riset Hortikultura BRIN Fahminuddin Agus menyatakan lahan gambut merupakan salah satu penyumbang emisi karbon terbesar, terutama jika tidak dikelola dengan baik.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved