Headline
SERANGAN brutal dan mematikan dari Israel-Amerika Serikat (AS) ke Iran pada Sabtu (28/2) lalu membuat dunia terhenyak.
SERANGAN brutal dan mematikan dari Israel-Amerika Serikat (AS) ke Iran pada Sabtu (28/2) lalu membuat dunia terhenyak.
Kumpulan Berita DPR RI
HARGA cabai rawit di sejumlah pasar tradisional telah menembus harga Rp80.000 per kilogram. Melonjaknya harga disebabkan berkurangnya pasokan dari daerah penghasil karena berbagai faktor.
Ading, 56, petani asal Kampung Cisalasih, Desa Cikidang, Kecamatan Lembang, Kabupaten Bandung Barat mengatakan, faktor cuaca menjadi penyebab utama naiknya harga cabai rawit. Cuaca yang sering turun hujan menyebabkan tanaman lebih mudah terserang hama. "Pada musim penghujan tanaman cabai menjadi kurang bagus, banyak hama yang menyerang daun dan buah cabai," kata Ading, Senin (18/1).
Dia mencontohkan, dari 100 tumbak lahan yang ditanami cabai, pohon hanya maksimal menghasilkan antara 10-15 kilogram cabai. Sementara sisanya tidak laku terjual karena rusak atau gagal panen. "Kalau yang busuk langsung dibuang saja, percuma soalnya enggak bisa dijual," ucapnya.
Ia menuturkan, saat ini harga jual cabai dari petani ke tingkat bandar Rp65.000/kilogram. Walaupun harga jual tinggi, biaya yang dikeluarkan belum sebanding dengan ongkos dari mulai perawatan hingga masa panen.
"Pemupukan serta biaya penyemprotan obat hama lebih sering di musim hujan. Untuk semprot hama petani harus keluar uang Rp500 ribu per minggu, belum ditambah yang lain. Otomatis, biaya produksi lebih tinggi," ujarnya.
Faktor cuaca bukanlah satu-satunya penyebab naiknya harga cabai. Ading mengungkapkan, terjadinya bencana di daerah penghasil sayuran juga sangat memengaruhi harga. Lanjut dia, seperti diketahui beberapa daerah di Jawa saat ini mengalami kejadian gunung meletus.
"Petani di daerah pegunungan, seperti Merapi dan Semeru, kalau di Sumatera Gunung Sinabung, jangankan mereka berani ke kebun, keluar rumah juga mungkin takut. Makanya pasokan ke pasar mungkin jadi berkurang karena adanya kejadian itu," bebernya.
Ading menyampaikan, sebagian besar bahan kebutuhan pokok khususnya sayuran yang beredar di wilayah Jabodetabek didatangkan dari daerah di Jabar seperti Lembang dan Garut. Ia pun tidak bisa memprediksi kapan harga cabai bakal turun.
"Enggak tahu, tergantung cuaca di kebun. Kalau stok di kebun kosong, mungkin ya harga terus naik. Tapi jika panen raya, stok melimpah, harga bisa turun," jelasnya.
Dia berharap, pemerintah bisa melihat langsung kondisi pertanian agar bisa dicari solusi mengatasi masalah yang terjadi saat ini. Sebab, naik turunnya harga sayuran hampir terulang setiap musim dan petani sering menanggung kerugian yang sangat besar.
"Repot kalau begini terus, bagaimana petani mau maju kalau harga enggak stabil. Tolonglah cari solusi dari pemerintah," tambahnya. (DG/OL-10)
Fenomena ini dipicu oleh tingginya konsumsi masyarakat yang tidak dibarengi dengan kesiapan stok barang di pasar.
Program penyediaan beras dengan subsidi harga ini pun akan berlanjut mulai Maret mendatang. Anggaran yang disiapkan untuk program SPHP beras tahun 2026 sejumlah Rp4,97 triliun.
Kenaikan harga daging ayam ras berada di kisaran Rp5.000–Rp6.000 per kilogram seiring meningkatnya kebutuhan masyarakat untuk menu berbuka puasa.
Harga bahan pokok yang mengalami penurunan mencolok terjadi pada komoditas cabai rawit merah, dari Rp110.000 menjadi Rp76.000 per kilogram.
TPID DIY dan Bupati Gunungkidul pantau harga sembako di Pasar Semin. Cabai rawit merah tembus Rp80.000. Simak skenario intervensi dan daftar harga terbaru.
Harga cabai rawit merah mulai melandai di kisaran Rp60.000 per kg seiring membaiknya cuaca dan panen raya di sentra produksi. Cek update harga terbaru di sini.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved